logo

8 Oktober 2018

Menyelami Psike sang Elang, Khabib Nurmagomedov

Menyelami Psike sang Elang, Khabib Nurmagomedov


GELORA.CO - Terpilihnya Misha si Beruang sebagai maskot Olimpiade Musim Dingin di Moskow tahun 1980, bagi orang-orang Rusia, adalah sebuah momen penting. Sebab, pada titik orang-orang Rusia baru mau mengakui bahwasanya beruang adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka.

Mau dilihat dari sudut pandang mana pun, Rusia adalah sebuah negara besar. Luas wilayah negara ini adalah yang terbesar di dunia. Pada masa Uni Soviet, tentu saja, luas wilayah mereka makin menjadi-jadi. Namun, tanpa Uni Soviet sekalipun Rusia sudah amat sangat besar.

Sebagai sebuah negara besar, Rusia tak pernah lepas dari cibiran. Di bawah Vladimir Putin, Rusia menjelma jadi negara yang identik dengan oligarki yang korup, pelanggaran hak asasi manusia, dan tentu saja agresi militer. Aneksasi terhadap Krimea pada 2014 silam adalah wujud agresivitas Rusia modern.

Agresivitas semacam itu sebenarnya sudah pernah ditunjukkan Rusia pada masa lampau, tepatnya di abad ke-19 bilamana mereka masih merupakan sebuah kekaisaran. Pada masa itu, orang-orang luar memandang Rusia sebagai negara besar yang brutal dan sembrono, persis seperti beruang. Dari sana, kemudian muncul stereotip 'Beruang Rusia' yang masih bertahan sampai saat ini.

Namun, seperti yang dipaparkan Tom Barton dalam kolomnya di RT, koneksi antara Rusia dan beruang sejatinya jauh lebih kompleks daripada itu. Beruang, bagi masyarakat Rusia, adalah sumber ketakutan yang mendarah daging. Itulah mengapa, di Rusia, beruang tidak disebut sebagai 'beruang', melainkan 'dia yang menyukai madu' alias 'Medved'.

Ketakutan ini sebetulnya bisa dijelaskan dengan logis. Yakni, bahwa Rusia adalah rumah bagi ratusan ribu beruang. Ada yang mengklaim bahwa populasi beruang di Rusia adalah yang terbesar di dunia. Maka, tak heran jika beruang adalah hewan yang begitu ditakuti orang-orang Rusia. 

Dari sini pulalah kemudian muncul sebuah ide bahwa siapa pun di Rusia yang berhasil menaklukkan beruang adalah orang yang hebat. Putin, dalam foto-foto yang tersebar luas beberapa tahun silam, menunjukkan hal itu.

Dengan bertelanjang dada, mantan agen KGB itu terlihat menunggangi beruang di alam liar. Di situ, secara tidak langsung, Putin menegaskan keabsahannya sebagai manusia paling berkuasa di Rusia karena dia telah berhasil menaklukkan rasa takut itu sendiri.

Putin tidak sendiri. Setidaknya, ada satu orang Rusia lain yang pernah melakukan hal serupa. Dia adalah Khabib Abdulmanapovich Nurmagomedov.

***

Sebenarnya, apa yang dilakukan Khabib tidak benar-benar sama dengan apa yang dilakukan Putin. Khabib tidak pernah menunggangi beruang seperti yang dilakukan oleh Putin. Dia juga tidak menggunakan beruang sebagai alat untuk menegaskan citra sebagai manusia kuat. Sama sekali tidak.

Perjumpaan Khabib dengan beruang itu terjadi 21 tahun silam, ketika dia masih bocah. Tiga hari sebelum ulang tahunnya yang kesembilan, ayah Khabib, Abdulmanap Nurmagomedov, memerintahkan dirinya untuk bergulat dengan beruang. Memang benar bahwa beruang yang dilawan Khabib tidak sebesar beruang yang ditunggangi Putin. Namun, di hadapan Khabib kecil, beruang itu pun jadi besar.

Pertarungan Khabib dengan beruang itu, barangkali, bisa dibilang sebagai jalan masuk untuk menyelami kehidupan sang petarung. Lahir di Sildi, Republik Dagestan, Khabib sedari awal memang sudah dibesarkan dalam lingkungan bela diri. Ayahnya adalah mantan atlet dan tentara yang sudah menjalankan gimnasium bela diri sejak Khabib masih belia.

Dari situlah ketertarikan Khabib terhadap bela diri bermula. Di usia delapan tahun, Khabib mulai dilatih oleh ayahnya sendiri, di mana salah satu wujud latihan yang diterapkan adalah bertarung melawan beruang itu tadi. Dari gulat, Khabib kemudian terus mengembangkan kemahirannya berbela diri, khususnya setelah dia sekeluarga hijrah ke Makhachkala pada 2001.


Meski demikian, tak semua ilmu yang dimiliki Khabib berasal dari gimnasium. Di Makachkhala, pria kelahiran 1988 itu pernah nyaris kehilangan arah dengan kegemarannya bertarung di jalanan. Akan tetapi, perlahan hobi ini mulai dia tinggalkan dan dia pun memutuskan untuk semakin mendalami bela diri, terutama judo dan sambo. Olahraga yang disebut terakhir itu akhirnya jadi pembuka jalan bagi Khabib untuk meraih prestasi.

Khabib mulai mempelajari sambo pada usia 17 tahun. Empat tahun sesudahnya, dia berhasil meraih medali emas dalam Kejuaraan Dunia Sambo di Kyiv. Setahun kemudian, medali emas lain sukses dia raih dalam turnamen yang sama di Moskow. Bedanya, pada 2009 itu dia meraih emas di nomor 74 kg, pada 2010 dia merebut emas di nomor 82 kg.

Ketika Khabib meraih gelar juara dunia tersebut, sebenarnya dia telah mulai berkenalan dengan bela diri campuran alias mixed martial arts (MMA). Pada 2008, dia mulai mengikuti sirkuit bela diri campuran di Moskow dengan torehan dua belas kemenangan tanpa terkalahkan. Namun, meskipun sudah mulai terjun di kancah profesional, Khabib memang masih mengasah diri di arena amatir.

Khabib baru benar-benar meninggalkan dunia bela diri amatir pada 2011, tepatnya ketika dia menandatangani kontrak dengan promosi ProFC. Keterlibatannya di promosi inilah yang akhirnya membuka jalan bagi Khabib untuk turun di promosi Ultimate Fighting Championship (UFC).

Para pemandu bakat UFC menemukan Khabib pada akhir tahun 2011. Pada saat itu, Khabib punya rekor sempurna. Dari 19 pertarungan, dia sama sekali tidak pernah kalah. Bahkan, sebagian besar kemenangan Khabib di sirkuit regional Rusia dan Ukraina itu didapatnya lewat TKO dan submission, yang akhirnya memang jadi cara favorit Khabib untuk menghabisi perlawanan lawannya.

Sebagai seorang petarung, Khabib memang tidak memiliki agresivitas untuk menganvaskan lawannya dalam hitungan detik. Agresivitas yang dimiliki Khabib ini terwujud dalam persistensi.

Di tiap laganya, dia akan menemukan cara untuk membuat lawan tersungkur di tanah. Namun, ini bukanlah yang membuatnya spesial. Yang membuat Khabib jadi berbahaya adalah bagaimana dia selalu bisa membuat lawan yang tersungkur tadi tetap berada di bawah. Tubuh Khabib yang lentuk membuatnya bisa mengeksekusi beragam kuncian yang kadang terlihat mustahil.

Itulah senjata utama Khabib. Sebenarnya, itulah senjata yang dulu juga dimiliki oleh Ronda Rousey. Akan tetapi, setelah Rousey diminta untuk mengganti gaya bertarungnya, kelebihan khas judo itu pun hilang dan masa keemasan Rousey di UFC berakhir mengenaskan.

Khabib, sejak mulai tampil di kelas ringan UFC pada akhir 2011, sama sekali tak pernah mengubah gaya bertarungnya. Konsistensi ini membuat dirinya jadi sosok tak terkalahkan. Total, petarung berjuluk 'Sang Elang' ini sudah terlibat dalam 27 pertarungan. Delapan di antaranya dia raih lewat TKO, sembilan lewat submission, dan sisanya lewat putusan juri.

Kemenangan Khabib via submission yang termutakhir terjadi pada Minggu (7/10/2018) siang WIB. Pada laga di T-Mobile Arena, Las Vegas, itu Khabib menghadapi sosok yang dulu pernah begitu dia kagumi, tetapi kemudian jadi orang yang begitu dia benci: Conor McGregor. Lewat pertarungan empat ronde, Khabib berhasil memaksa McGregor menyerah berkat kunciannya yang menyakitkan.

***

"Ini benar-benar buruk. Nantinya akan ada investigasi dari Komisi Atletik Negara Bagian Nevada dan akan ada denda dalam jumlah besar. Mereka semua berada dalam masalah besar," kata presiden UFC, Dana White, tak lama setelah Khabib menganvaskan McGregor.

Sama sekali tidak ada masalah dari pertarungan yang memecahkan rekor pendapatan Pay-per-View (PPV) UFC tersebut. Khabib menang secara adil tanpa melanggar sedikit pun aturan yang ada. Akan tetapi, masalah memang tidak terletak pada pertarungan itu. Masalah baru terjadi ketika pertarungan telah rampung.

Seharusnya, setelah wasit menetapkan dirinya sebagai pemenang, yang dilakukan Khabib adalah merayakan kemenangan tersebut dengan mengenakan topi khas Dagestan yang disebut papakha. Setidaknya, itulah yang ada di bayangan para pemirsa karena itulah yang biasanya senantiasa dilakukan oleh Khabib. Namun, laga melawan McGregor memang bukan laga biasa.

Selain gengsi sebagai petarung, harga diri Khabib juga jadi pertaruhan. Pasalnya, pada seri promosi jelang laga, Khabib dan orang-orang di sekitarnya harus berkali-kali menerima perlakuan rasialis dari McGregor. Bahkan, pada sebuah forum promosi di New York, McGregor secara kurang ajar menyebut manajer Khabib, Ali Abdelaziz, sebagai seorang teroris.

Sebagaimana orang Dagestan pada umumnya, Khabib adalah seorang muslim dan pria berpostur 178 cm ini sangat taat dalam menjalankan ajaran agamanya. Salah satu wujud ketaatan Khabib ini adalah bagaimana dia sama sekali tak pernah menyentuh alkohol dalam hidupnya. Keislaman Khabib inilah yang kemudian menjadi sasaran olok-olokan bagi McGregor.

Sebelum melabeli Abdelaziz sebagai seorang teroris, McGregor sudah pernah secara langsung menyerang Khabib. Yakni, pada saat konferensi pers bersama jelang laga. Pada konferensi pers tersebut, McGregor dengan sengaja menyodorkan wiski ke hadapan Khabib yang memilih untuk duduk dan diam melihat kelakukan lawannya.

Aksi provokasi rasial memang sudah kerapkali dilakukan oleh McGregor. Jelang laga tinju menghadapi Floyd Mayweather Jr., misalnya, dia pernah memanggil para pengawal Mayweather dengan sebutan 'monyet'. Saat itu pula McGregor sempat melecehkan Mayweather dengan menunjukkan gestur sebagai juragan yang memerintahkan budaknya menari.

Mayweather sendiri akhirnya memilih untuk membiarkan hasil di atas ring berbicara. Akan tetapi, Khabib bukanlah Mayweather. Jika petinju berjuluk Money itu akhirnya tak memberi tanggapan apa-apa, Khabib merespons beragam hinaan dari McGregor itu dengan cara ekstrem.



Tak lama setelah wasit menetapkan dirinya sebagai pemenang, Khabib terlihat menunjuk-nunjuk sejumlah orang di luar ring. Mereka yang ditunjuk-tunjuk Khabib itu adalah rombongan McGregor, di mana sang pelatih, John Kavanagh, jadi salah satunya. Namun, aksi Khabib tak sampai di situ karena kemudian dia memanjat ring octagon itu dan menyerang rombongan McGregor tadi.

Kericuhan pun terjadi. Tak lama setelah Khabib melompat ke luar octagon, tiga orang anggota rombongan Khabib merangsek masuk ring dan menyerang McGregor. Di luar dan di dalam situasi menjadi begitu panas.

Pukulan dan tendangan dilayangkan tanpa pandang bulu. Sejumlah aparat keamanan di T-Mobile Arena, Las Vegas, itu juga turut jadi korban. Tiga anggota rombongan Khabib tadi akhirnya sempat ditahan selama beberapa jam, tetapi lalu dilepaskan karena tim McGregor memilih untuk tidak mengajukan tuntutan.

Keributan massal inilah yang tadi sedang dibicarakan oleh White. Investigasi memang saat ini sedang dilakukan dan imbasnya, hadiah dua juta dolar AS untuk Khabib pun untuk saat ini belum bisa diberikan. Lisensi bertarung Khabib juga bisa dicabut.

Dua puluh satu tahun silam, di tahun yang sama dengan tahun di mana Khabib kecil bergulat dengan beruang, keributan massal seperti ini juga pernah terjadi di Las Vegas. Bedanya, keributan itu tak terjadi di T-Mobile Arena melainkan di MGM Grand Garden Arena. Kala itu, yang jadi aktor adalah Mike Tyson, usai laga yang diwarnai oleh gigitan di kuping Evander Holyfied.

Pada saat itu, Tyson dihukum larangan bermain sampai tiga tahun, meskipun akhirnya lisensi bertarung itu diberikan lagi oleh Komisi Atletik hanya setelah satu tahun. Hukuman seperti inilah yang kini tengah mengintai Khabib. Meski risikonya amat besar bagi kariernya, Khabib mengaku sama sekali tidak menyesal telah memulai keributan massal tadi.

"Pertama-tama, aku ingin meminta maaf kepada Komisi Atletik Nevada. Apa yang kutunjukkan sama sekali tak mencerminkan sisi terbaikku," kata Khabib dalam jumpa pers pascalaga, seperti dilansir USA Today. "Akan tetapi [McGregor] bicara soal agamaku, soal ayahku. Kenapa orang-orang malah mempermasalahkan aku yang melompat ke luar ring? Dia datang ke Brooklyn dan hampir membunuh beberapa orang." 

Insiden Brooklyn yang dibicarakan Khabib itu adalah insiden ketika McGregor melempar bus yang ditumpangi sejumlah petarung dan staf UFC. Pada saat itu, McGregor datang ke Brooklyn untuk mencari Khabib. Akan tetapi, meskipun Khabib tak ada di sana, McGregor tetap menyerang bus dan membuat sejumlah orang luka-luka.

McGregor sendiri akhirnya diputus bersalah oleh pengadilan pada kasus tersebut. Namun, hukuman yang diterimanya terhitung sangat ringan karena pria Irlandia itu hanya diperintahkan untuk melakukan kerja sosial selama lima hari. Setelah itu, McGregor pun sama sekali tidak kapok dan terus-terusan menunjukkan arogansinya. Inilah yang begitu dibenci oleh Khabib.

"Mereka bilang dia juara dunia di dua kelas berbeda, tetapi hari ini dia menyerah. Ini adalah olahraga penuh respek, bukan tempat adu bacot. Aku ingin mengubah olahraga ini, di mana tak ada lagi orang yang berbicara ngawur tentang lawannya," kata Khabib.

"Tak boleh lagi ada omongan buruk soal ayah, soal agama, soal kebangsaan. Bagiku itu sangat penting. Dia tidak boleh lagi membawa-bawa tiga hal itu dalam ucapannya," lanjut ayah dua anak ini.
Apa pun itu, yang jelas sekarang Khabib merasa sangat bangga. Di kamar hotelnya, Khabib sengaja menggelar nonton bareng pertarungannya dengan McGregor. Dia pun mengaku sudah ditelepon oleh Putin dan sang pemimpin Rusia, menurut Khabib, bangga terhadap dirinya.

Di satu sisi, Khabib memang berpotensi untuk kehilangan banyak hal dari segi materi akibat perbuatannya. Namun, bagi Khabib, kehilangan itu takkan berarti apa-apa. Dia adalah petarung Rusia pertama, sekaligus petarung muslim pertama, yang bisa menjadi juara di UFC. Apa yang dia lakukan terhadap rombongan McGregor tadi adalah cara untuk memastikan agar tak ada lagi manusia yang menghina identitasnya. [kmp]

Loading...
loading...