Kisah Dramatis Warga Samarinda, Sempat Ditelan Tsunami Palu
logo

4 Oktober 2018

Kisah Dramatis Warga Samarinda, Sempat Ditelan Tsunami Palu

Kisah Dramatis Warga Samarinda, Sempat Ditelan Tsunami Palu


GELORA.CO - Bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, mengakibatkan lebih 1.000 orang meninggal dunia. Bagi korban selamat, peristiwa itu benar-benar mengerikan. Hitungan waktu 10 detik, begitu berharga bagi salah satu korban selamat, Rendi Saputra (29).

Rendi dan Aji Andre (38), merupakan dua korban selamat asal Samarinda, Kalimantan Timur. Kehadiran keduanya, bersama rekan lainnya tergabung dalam klub air soft.

“Kita hadiri undangan hari jadi Kota Palu. Ini tahun ketiga ke Palu, sudah biasa, rutin,” kata Aji, saat berbincang bersama wartawan di Samarinda, Rabu (3/10) sore.

Rombongan air soft asal Kaltim, tiba di salah satu guest house di Palu, Kamis (27/9), dan dijadwalkan menggelar technical meeting Jumat (28/9), sekira pukul 16.00 WITA, di hotel pinggir pantai. Satu jam sebelumnya terjadi gempa.

“Tidak besar (magnitudo), tapi lumayan sekali getarannya,” ujar Aji.

Dua jam kemudian, sekira pukul 18.00 WITA, terjadi gempa besar. Peserta rapat air soft di pinggir pantai merasakan getaran sangat besar.

“Saya lagi dudukan di pinggir tembok pantai. Itu hotel tempat technical meeting, hancur. Tapi saya dengan teman-teman, sempat keluar, selamat,” ujar Aji.

Beberapa saat setelah gempa yang diketahui berkekuatan 7,4 SR, air laut terlihat surut cukup jauh. “Kebetulan hotel itu, tidak begitu jauh dengan bukit. Begitu air surut, saya naik ke atas bukit dengan teman-teman. Tidak lama, gelombang laut datang ke arah pantai. Saya kira itu tsunami,” ungkapnya.

Gelombang itu sampai ke pantai. Rendi, rekan Aji, sempat dinyatakan hilang. “Saya sempat terseret tsunami, tapi saya pegangan puing-puing hotel. Ada sekitar 10 detik saya kelelep air, kemudian muncul ke permukaan dan air surut lagi. Cepat-cepat saya naik ke puing bangunan yang agak tinggi. Gelombang ombak kedua yang datang lebih besar,” ungkap Rendi.

Masih menurut Aji, situasi pascagempa dan tsunami, benar-benar mengerikan, karena banyak bangunan ambruk. “Kami tidak ketemu tim SAR, kami jalan kaki, sudah hancur semua enggak karuan,” kenang Aji.

Sempat dua hari tidak makan, akhirnya Aji dan Rendi, beserta teman-teman lainnya asal Kaltim yang kesemuanya selamat, berada di bandara.

“Minggu pagi, suasananya chaos. Kebijakannya, diutamakan perempuan dan anak kecil masuk Hercules. Kami diminta bantu sortir penumpang oleh TNI,” jelas Aji.

Menggunakan pesawat Hercules, rombongan klub air soft, akhirnya mendarat di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan di Balikpapan.

“Sekitar jam 09.30 pagi kemarin, saya dan teman-teman sampai bandara. Kemudian, pulang ke Samarinda. Saya jadi agak trauma dekat pantai setelah kejadian ini,” tutup Aji. [mdk]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...