Gempa Bumi di Masa Lalu dalam Tafsiran Lisan dan Manuskrip Kuno
logo

7 Oktober 2018

Gempa Bumi di Masa Lalu dalam Tafsiran Lisan dan Manuskrip Kuno

Gempa Bumi di Masa Lalu dalam Tafsiran Lisan dan Manuskrip Kuno


GELORA.CO - Peneliti sejarah kegempaan Sumatera Barat, Yose Hendra menyebutkan jika kejadian gempa bumi, baik dulu maupun sekarang, sering diinterpretasikan dengan cara yang berbeda dari sudut pandang menurut paham tertentu.

Bahkan, ingatan kolektif gempa masa lalu, banyak dikisahkan secara turun-temurun melalui pelbagai tafsiran baik itu secara lisan maupun dalam bentuk manuskrip atau tulisan tangan dari orang-orang terdahulu.

Salah satunya, kata Yose, dapat dilihat dari Alquran sebagai naskah lama yang juga merupakan kitab suci umat Islam. Di dalam Alquran ini, gempa bumi dijelaskan dalam puluhan surat dan ayat.

"Orang-orang kampung di negeri Minangkabau yang masih berpikiran tradisional pada masa dahulu, cenderung menganggap gempa adalah takdir yang telah digariskan dalam Alquran atau pun kitab kuning yang dipercayai," kata Yose, Sabtu 6 Oktober 2018.

Bahkan, mereka pasrah menghadapi datangnya bencana itu. Surau pun menjadi pilihan tempat berlindung kala gempa bumi melanda. Nah, pemikiran inilah yang kemudian memberikan sudut pandang kearifan lokal dalam menyikapi gempa tersebut.

Bisa dimaknai, apakah masyarakat kala itu, memiliki pemikiran pengurangan risiko bencana, atau sebaliknya merupakan pertanda untuk lebih mensyukuri dan lebih religius.

Lalu, bagaimana dengan ingatan masyarakat di Minangkabau tentang hal itu. Yose menjelaskan, jika sejumlah naskah tentang gempa yang ditemukan oleh para filolog terdahulu, dapat menjadi gambaran jika gempa bumi itu merupakan sebuah peristiwa bencana alam yang berulang-ulang terjadi di Ranah Minang maupun wilayah lain di Indonesia.

Tentunya, dengan penafsiran dan prakiraan setelah kejadian gempa. Maka dari itu, teks gempa yang lahir menggambarkan jiwa zaman saat itu, persisnya proses pemikiran, pemaknaan, individu dan komunitas yang melahirkannya.

Yose menjelaskan, dalam penelitian yang pernah ia lakukan, saat gempa menghantam Kota Padangpanjang dan sekitarnya pada 1926, seorang penulis kondang Minangkabau bernama Mahmoed Joenoes, menjadikan peristiwa itu sebagai landasan untuk memperkaya Tafsir Koeran Indonesia, buku tafsir yang ia tulis sejak 1921.

"Dalam tafsir tersebut, Joenoes menuliskan jika persoalan gempa bumi ini telah dijelaskan Allah SWT dalam surat Az-Zalzalah, yang berarti keguncangan," ujar Yose.

Dalam surat Al Fajr ayat 21, kata Yose, juga dijelaskan tentang bencana gempa bumi ini. Ayat ini berbunyi, 'kallaa idzaa dukkati al-ardhu dakkan dakkaan' Artinya, jangan (berbuat demikian) apabila bumi diguncangkan berturut-turut.

Menurut ulama M. Quraish Shihab, makna ayat ini adalah menghantam sesuatu sehingga menghancurkannya. Pengulangan kata 'dakkan' merupakan isyarat bahwa penghancuran itu benar-benar akan terjadi, atau untuk mengisyaratkan berulangnya penghancuran itu, masing-masing wilayah atau gunung dihancurkan sehingga benar-benar hancur.

"Jika ditinjau berdasarkan ilmu Geofisika, kata 'dakkan' dalam surat Al Fajr ayat 21 itu, dapat dimaknai terangkatnya kerak bumi yang berupa lempeng tektonik yang berada di atas fluida bawah permukaan yang sangat panas. Lempeng tektonik ini bergerak relatif satu sama lain. Adanya aliran panas yang mengalir di dalam atmosfer yang berupa arus konveksi yang merupakan sumber kekuatan utama yang menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng," terang Yose.

"Seringkali, gempa juga dikaitkan dengan gerhana, lalu ada prediksi kejadian setelah gempa yang dipandang dari sisi mitologi, ideologi, dan sains. Seperti halnya Alquran, para ulama juga menuliskan gempa yang terjadi saat itu dengan tafsiran (tahwil) seperti di atas," kata Yose

Selain telah digariskan dalam Alquran dan manuskrip yang ditulis ulama tarekat, Yose menilai bukti nyata beberapa kejadian-kejadian gempa juga digoreskan dalam catatan pejabat kolonial Belanda serta ahli dari Eropa yang sedang bertugas di lokasi kejadian khususnya yang berada di pantai barat Sumatera.

Arthur Wichmann seorang Geolog dan Mineralog asal Jerman misalnya. Ia pernah mencatat adanya kejadian gempa yang disertai gelombang tsunami pada 1797. Catatannya itu kemudian dipublikasikan dalam Wichmann, A. Die Edbeben des Indischen Archipels bis zum Jahre pada 1857.

Selain itu, Residen Sumatera Barat pasca pengembalian dari Inggris sesuai Traktat London pada 1814, James du Puy, juga pernah mewariskan sepenggal catatan mengenai peristiwa gempa 1797 serta kejadian gempa dan tsunami pada 1833.

"Pengalaman du Puy merasakan gempa tersebut ia catat dan diterbitkan menjadi sebuah kumpulan laporan di tahun 1845 dan 1847. Tahun 1845 laporan mengenai gunung api dan gempa bumi di Sumatera juga dipublikasikan dengan judul Een aantekeningen omtrent vuurbergen en aardbevingen op Sumatra Tijdschrift voor Neerland's Indie," ujar Yose. [viva]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...