‘Fatwa’ Tiga Ulama Pro Rezim Saudi Terkait Khashoggi
logo

30 Oktober 2018

‘Fatwa’ Tiga Ulama Pro Rezim Saudi Terkait Khashoggi

‘Fatwa’ Tiga Ulama Pro Rezim Saudi Terkait Khashoggi


GELORA.CO - Sejak kasus dugaan terbunuhnya jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi mencuat pada 2 Oktober lalu, respons publik cukup beragam, baik dari dalam atau luar negeri. Ada kubu yang pro dan ada pula yang kontra terhadap dugaan keterlibatan keluarga kerajaaan dalam insiden ini.

Dari kubu mereka yang pro, dukungan terhadap rezim Salman, tak hanya muncul dari otoritas sejumlah negara teluk seperti Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, tetapi juga dukungan bermunculan dari kalangan ulama Saudi sendiri.

Melalui sejumlah ‘fatwa’ personal, mereka menyatakan dukungan terhadap setiap langkah yang diambil oleh otoritas kerajaan. Namun, sikap para ulama pendukung rezim Salman itu memunculkan tanda tanya di tenga-tengah politik pencekalan yang ditempuh rezim Salman itu sendiri terhadap ulama-ulama yang berseberangan.

Redaksi Republika.co.id, mengutip Aljazeera, memaparkan beberapa tokoh ulama, pendakwah, dan cendekiawan Saudi yang menyatakan dukungan terang-terangan mereka terhadap rezim Salman, terkait kasus Khashoggi. Berikut ini pemaparannya:

Imam dan Khatib Masjid al-Haram Syekh Abdurrahman as-Sudais

Imam dan Khatib Masjid al-Haram, Makkah, Syekh Abdurrahman as-Sudais menegaskan upaya melemahkan Arab Saudi menyakiti perasaan miliaran Muslim di dunia.

Hal ini, menurut dia, karena bagaimanapun Saudi adalah kiblat, tempat beribadah, tujuan risalah, dan penyejuk hati bagi umat Islam. Tuduhan, isu, dan serangan media yang massif tak akan sedikitpun menggeser Saudi kokoh pada prinsip dan keteguhan.

Menurut dia, Sikap ini disandarkan pada keyakinan terhadap Allah SWT, kebijaksanaan para pemimpinnnya, dan kekompakan para putra bangsa. Beragam unsure inilah yang akan menjamin Saudi mampu menghadapi tuduhan miring dan konspirasi gagal. “Sejarah membuktikan itu,” kata dia.


Di sinilah, kata dia, telah ditakdirkan bagaimana perasaan dan sikap yang lurus, rasionalitas, kebijaksanaan yang penting bagi manusia dan membela kebenaran.

“Serta tetap berpegang teguh pada fakta lalu menghindari asumsi-asumi, tegas pada sikap bukan sekadar isu dan tuduhan,” kata dia dalam khutbah yang disampaikan saat Shalat Jumat di Masjid al-Haram, Jumat (19/10), sepereti dilansir Alarabiya, Sabtu (20/10).

Sudais menganggap, usaha apapun untuk mengancam dan mengintimidasi perubahan di Saudi adalah sia-sia, bahkan akan berbalik negatif pada keamanan, kedamaian, dan stabilitas. “Negara kita akan tetap diberkah dan selalu menjadi pioner yang kokoh,” tutur dia.

Pengarang Buku ‘La Tahzan’ A’idh al-Qarni

Meski pernah ditangkap karena sikapnya yang kritis terhadap keberadaan tentara asing di Arab Saudi saat Perang Irak-Kuwait, sikap politik Qarni cenderung melunak terhadap rezim. Ini juga tak terlepas dari pengawasan ketat dan pembatasan terhadap ceramah berikut artikel-artikelnya yang berkenaan dengan politik.

Begitu Saudi mengakui Khashoggi tewas terbunuh meski dengak klaim akibat cekcok, Qarni menulis sebuah artikel dalam Majalah al-Muwathin.

Dia menyebut satu kalimat yang cukup tegas,”Pengkhianatan terhadap negara adalah kriminal fatal dan memberangus hak negara adalah kerendahan yang hina dina,” tulis dia.


Dalam artikelnya itu mula, dia menegaskan konspirasi terhadap Saudi adalah serangan terhadap Islam itu sendiri. Hal ini karena Saudi adalah lokasi turunnya wahyu, tempat diutusnya Jibril, kerajaan yang agung, dan tanah yang suci.

Dia menutup artikelnya itu dengan sebuah doa yang intinya meminta agar para pemimpin dilimpahkan bimbingan dan semoga Allah menjaga negara dan agama dari konspirasi para maker. Redaksi lengkap doa Qarni sebagai berikut:

”Allahomma waffiq qiyadatana lima fihi khairal bilad wa al-‘ibad, wahfadz ‘alaina dinana wawathanana wa amnana min kaidi al-kaidin wa makri al-makirin, wa raddihim ‘ala a’qabihim khaibin waj ‘alna aminina muthmainna, birahmatika ya arhamarrahimin.”

Dukungan Qarni juga tampak jelas pada cuitannya 15 Oktober lalu. Cuitan tersebut merupakan cuitan lama yang dia tulis 24 September yang isinya berupa syair-syair pujiannya untuk Putra Mahkota Muhammad bin Salman.

Di antara petikan syair itu sebagai berikut: “Kencangkan ikat pinggungmu wahai Muhammad (bin Salman), saat penglihatan kian membuta. Kakekmu yang dibaiat leluhur kami saat masa sulit.”

Pendakwah Internasional Syekh Muhammad al-Arifi

Di publik Saudi, namanya tak lagi asing. Dia mengasuh sejumlah program televisi. Di dunia internasional, nama Syekh al-Arifi pernah mencuat setelah dia dituduh terlibat memprovokasi konflik Suriah dan membuka donasi untuk perang melawan rezim Assad.

Bahkan atas sikapnya tersebut, dia akhirnya ditangkap pada 2014 oleh otoritas Saudi hingga akhirnya dibebaskan.

Sejak kejadian itu dan penangkapan sejumlah dai seperti Salman bin Fahd al-Audah oleh rezim Saudi, Syekh al-Arifi cenderung melunak dan terkesan mendekat ke rezim Saudi.

Sebelum mencuat kasus Khashoggi, dukungannya itu tampak dari cuitan-cuitannya menanggapi blokade terhadap Qatar.


Terkait kasus Khashoggi, Syekh al-Arifi juga bergabung dalam hastag #KamisemuapercayaMuhammadbinSalman.

Dia pun menulis dalam cuitannya: ”Wajib bagi kita mendoakan para pemimpin umat, dan berharap kebaikan, taufik, dan pertolongan untuk mereka untuk kebaikan dan manfaat umat serta negara lalu menjauhkan para pemimpin dari kejahatan para pembenci yang tidak berbahagia kehormatan dan kemuliaan untuk Saudi, bahkan justru para pembenci itu berharap perpecahan dan perseteruan.” [rol]

Loading...
loading...