Cerita Pesatnya Perkembangan LGBT di Palu, dari Pesta Seks Hingga Pemilihan Miss Waria
logo

7 Oktober 2018

Cerita Pesatnya Perkembangan LGBT di Palu, dari Pesta Seks Hingga Pemilihan Miss Waria

Cerita Pesatnya Perkembangan LGBT di Palu, dari Pesta Seks Hingga Pemilihan Miss Waria


GELORA.CO - Perilaku menyimpang LGBT diyakini bisa mendatangkan bencana. Hal itu  bisa terlihat dari sejumlah dokumen sejarah.

Sejumlah bukti sejarah memang membuktikan bahwa prilaku kaum menyimpang pernah mendapat azab yang luar biasa.

Namun, perilaku LGBT sekarang mendapat tempat di masyarakat.

Karena HAM. Zaman sekarang prilaku LGBT malah mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Kembali ke  cerita perkembangan kaum LGBT di Kota Palu. Kota ibukota Sulawesi Tengah menjadi tempat perkembangan LGBT dengan sangat pesat.

Tahun lalu, Forum Umat Islam (FUI) Sulawesi Tengah (Sulteng) pernah menggagalkan perayaan malam pergantian tahun dengan menggelar pesta seks di Kota Palu yang juga diikuti komunitas LGBT.


“Penelusuran yang kami lakukan, baik melalui online, maupun cek dan ricek di lapangan. Kami mendapatkan indikasi adanya rencana kaum sodomi, bakal merayakan pesta 5eks yang mereka kamuflasekan dengan pesta khusus,” kata Humas FUI Sulteng, Abdurrahman.

Identifikasi awal, dengan menggunakan Internet Protocol Address (Alamat IP) dari grup yang diperoleh FUI.

“Dari alamat IP itu, kemudian kita ketahui kalau komunitas berbasis online itu, berada di Kota Palu. Dalam komunitas itu, disebarkan undangan untuk menggelar pesta khusus di malam pergantian tahun,” ungkap Abdurrahman, sambil memperlihatkan tangkapan layar (screenshot) komunitas gay yang berhasil diidentifikasi oleh Tim Cyber Army FUI Sulteng.

Bukan hanya itu, Februari kemarin, Miss Indonesia Queen 2018 atau Miss Waria dijadwalkan diselenggarakan New Roy Entertainment di Kota Palu.

Ketua MUI Sulteng, Habib Ali Al-Djufrie di Palu, langsung menentang. Ia mengatakan kegiatan yang berbau LGBT sama sekali tidak bermanfaat bagi generasi muda di daerah itu.

“Kita tidak ingin kegiatan-kegiatan seperti itu diadakan lagi di Kota Palu walaupun LGBT itu ada. Kita bukan memusuhi,” katanya usai memberi sambutan pada Musyawarah Daerah (Musda) ke VIII MUI Sulteng di Asrama Haji Transit Palu, seperti dilansir dari Antara.

Aliansi Mahasiswi Anti LGBT pada Maret 2018 juga pernah memaparkan pesatnya perkembangan LGBT di Palu. Menurut mereka, prilaku LGBT sudah terang-terangan di  Palu.

Bahkan ribuan orang sudah bergabung di Grup Gay Palu. [acehsatu]

Loading...
loading...