Tanggapi Video Ridwan Kamil yang Dulu Dukung Prabowo, Ratna Sarumpaet: Ini Kesempatan Bercermin
logo

14 September 2018

Tanggapi Video Ridwan Kamil yang Dulu Dukung Prabowo, Ratna Sarumpaet: Ini Kesempatan Bercermin

Tanggapi Video Ridwan Kamil yang Dulu Dukung Prabowo, Ratna Sarumpaet: Ini Kesempatan Bercermin


GELORA.CO - Video terkait pilihan calon presiden Ridwan Kamil dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu kembali diunggah oleh akun netizen, @2019PAS, Kamis (13/9/2018).

Menanggapi hal tersebut, aktivis Ratna Sarumpaet mengomentari dengan meminta Ridwan Kamil untuk bercermin.

"Ini Kesempatan @ridwankamil bercermin !!," tulis Ratna Sarumpaet melalui Twitter, @RatnaSpaet.


Dalam video yang ditautkan netizen tersebut, Ridwan Kamil menyatakan dukungannya untuk Prabowo Subianto ketika Pilpres 2014 yang berpasangan dengan Hatta Rajasa.

"Sebuah kesaksian kepada sosok salah satu calon presiden RI, dalam hal ini adalah bapak Haji Prabowo Subianto.

Saya beberapa kali berdiskusi ngobrol di berbagai kesempatan sehingga saya pribadi bisa memahami isi kepala, isi pikiran, isi hati seorang Prabowo Subianto.

Beliau sangat open minded mau mendengarkan nasihat dari berbagai pihak tapi juga punya keputusan-keputusan yang tidak bisa didikte oleh siapapun juga.

Waktu saya dicalonkan sebagai calon walikota Bandung, beliau memutuskan bahwa sosok saya, walaupun baru kenal beliau mau untuk melakukan itu.

Beliau juga sangat terbuka terhadap kritikan-kritikan, bahkan beliau memilih kritikus sebagai pilihan untuk calon walikota Bogor.

Jadi Pak Bima Arya walaupun dulunya kritikus Pak Prabowo ternyata dalam perjalannya malah dipilih sebagai calon yang diusung Gerindra.

Ini menunjukkan kualitas kenegarawanan dari Pak Prabowo.

Masa depan Indonesia ini sangat pas jika dititipkan kepada beliau, beliau punya sosok yang tegas.

Indonesia yang sedang krisis ini perlu diselamatkan oleh sosok yang tegas dan kuat.

Beliau juga sosok yang manah, berpengalaman di militer bisnis, pergaulannya luas, orangnya juga cerdas," ujar Ridwan Kamil dalam video.

Sementara itu, diberitakan sebelumnya dari Kompas.com,Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil angkat suara soal pernyataan calon wakil presiden Sandiaga Uno yang meminta gubernur tidak fokus dalam Pemilihan Presiden 2019.

Pria yang akrab disapa Kang Emil itu mengatakan, Sandi semestinya berkaca pada pengalaman pribadinya yang pernah terjun langsung mendukung sejumlah pasangan dalam Pilkada Serentak 2018.

Padahal, saat itu status Sandi saat itu masih menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta.

"Pak Sandiaga Uno yang terhormat tolong sebelum memberikan statement berkaca pada pengalaman pribadi.

Pada 2018, dia datang ke Jawa Tengah menjadi jurkam Sudirman Said, datang ke Priangan jadi jurkam pasangan Asyik.

(Saat itu), Beliau dalam kapasitas Wakil Gubernur, dalam kapasitas wakil publik," ucap Emil saat ditemui di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Rabu (12/9/2018).

Menurut Kang Emil, pejabat daerah punya hak sama dalam mendukung pasangan Capres dan Cawapres manapun selama tak melanggar hukum.

"Jadi ya yang penting enggak melanggar aturan, enggak melanggar hukum, kemudian jangan bawa nama institusi dan jabatan. Tolong melihat pada pengalaman pribadi," tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, bakal cawapres Sandiaga Uno menyatakan koalisinya tak akan melibatkan kepala daerah dari partai pengusung untuk memenangkan mereka di Pilpres 2019.

Hal itu disampaikan Sandiaga menanggapi Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat sekaligus Gubernur Papua, Lukas Enembe, yang mendukung Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Padahal, Demokrat bersama Gerindra, PKS, dan PAN telah mengusung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

"Kami, di koalisi Prabowo-Sandiaga, sudah perintahkan gubernur maupun kepala daerah, untuk fokus membangun wilayahnya, mereka punya tugas bangun ekonomi, pastikan harga terjangkau," kata Sandiaga saat ditemui di kawasan Glodok, Jakarta, Selasa (11/9/2018).

"Pak Anies (Baswedan) dapat perintah yang sama, dan ada beberapa gubernur, yang dapat pesan yang sama," lanjut dia.

Dia menambahkan, para kepala daerah telah melalui proses pilkada yang melelahkan karena itu tak perlu diperpanjang hingga Pilpres 2019.

Menurut Sandiaga, setelah para kepala daerah melewati proses pilkada yang panjang dan melelahkan, semestinya mereka langsung fokus membenahi daerahnya, bukan ikut membantu pemenangan pilpres.[tribun]

Loading...
loading...