logo

6 September 2018

Sri Mulyani Beberkan Kondisi Ekonomi RI Terkini

Sri Mulyani Beberkan Kondisi Ekonomi RI Terkini


GELORA.CO - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan penjelasan terkait kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Sama dengan negara-negara lain, Indonesia tengah dibayangi ketidakpastian global.

Sri Mulyani menjelaskan, ekonomi dunia dalam kondisi menantang. Hal tersebut dipicu kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), likuiditas yang mengetat, yang dikombinasi dengan perang dagang.

"Kita tahu ekonomi global sedang dalam kondisi menantang, ketidakpastian meningkat karena kebijakan moneter juga mengetatnya likuiditas, kombinasi dengan ekspansi kebijakan fiskal, perdagangan proteksionis dan perang dagang, yang menyebabkan ketidakpastian ke banyak negara," kata dia di acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2018 di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (6/9/2018).

Kebijakan AS berdampak pada nilai tukar banyak negara. Nilai tukar dolar AS menguat dan membuat mata uang negara lain termasuk Indonesia melemah.

"Normalisasi ada peningkatan suku bunga, dolar AS apresiasi sangat kuat melawan banyak mata uang di dunia termasuk Indonesia. Sekarang Indonesia depresiasi 7,7%," kata dia.

Meski begitu, Sri Mulyani mengatakan, ketatnya likuiditas paling menantang saat ini. Hal tersebut terkait dengan pasokan atau supply dolar AS.

Bagi negara yang dengan sistem ekonomi terbuka, ketatnya likuiditas berpengaruh pada defisit transaksi berjalan (current account deficit), termasuk Indonesia.

Sri Mulyani mengatakan, untuk mengatasi masalah ini perlunya memperbaiki fundamental perekonomian. Indonesia, kata dia, telah melakukan perbaikan itu.

"Indonesia tidak terkecuali dari kondisi itu, tapi untungnya Indonesia setidaknya sudah menguatkan fundamental sebelum era normaliasasi ini terjadi. Di mulai taper tantrum di 2013, Indonesia sudah mulai memperbaiki kerentanan dari ekonomi," ujarnya.

Perbaikan fundamental ini membuat perekonomian Indonesia masih sanggup tumbuh 5% hingga saat ini. Pertumbuhan ini didukung dari sektor konsumsi, investasi, hingga belanja pemerintah.

Kemudian, inflasi juga masih terjaga. Inflasi ini tak lepas dari peran pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

"Inflasi masih di level 3,18%, didukung kebijakan pemerintah berkaitan dengan stabilitas harga pangan, harga yang diatur pemerintah, dan tentu saja bank sentral yang mengatur kebijakan moneter yang bertujuan untuk stabilisasi," tutupnya.[dtk]

Loading...
loading...