logo

4 September 2018

Rizal Ramli Singgung Krisis Ekonomi 98 terkait Anjloknya Rupiah, Bakal Lebih Parah?

Rizal Ramli Singgung Krisis Ekonomi 98 terkait Anjloknya Rupiah, Bakal Lebih Parah?


GELORA.CO - Anjloknya nilai kurs rupiah (Rp) memunculkan kekhawatiran termasuk ekonom dan politikus Rizal Ramli.

Malah, Rizal Ramli khawatir nilai tukar rupiah anjlok lebih parah dari krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998.

Rizal Ramli menyebut, anjloknya nilai kurs rupiah sudah masuk kategori setengah lampu merah.

"Hari ini nyaris krisis finansial, sudah setengah lampu merah," ujar Rizal saat ditemuin Tribun Jabar di Kampus Unpas Jalan Taman Sari No 6-8 Bandung, Jumat (31/8/2018).

Menurutnya, ada perbedaan krisis pada 1998 dengan yang terjadi saat ini.

Rizal kembali mengingatkan, krisis 1998 Indonesia memiliki tabungan, exportir Neto minyak bumi sebanyak 1,3 juta barel per hari.

Masih banyak memiliki kapasitas lebih dari komoditi sawit, cokelat, karet, dan sebagainya.

"Hari ini kondisinya beda kita sudah tidak punya tabungan lagi," tegasnya.

Kini, kata Rizal, Indonesia bukan bertindak sebagai exportir minyak bumi lagi tapi justru bertindak sebagai importir 1,1 barel per hari.

Tidak ada kapasitas lebih pada komoditi sawit, kakao, cokelat, dan lain lainnya, sehingga ketika rupiah anjlok ke angka Rp 15.000, Indonesia belum mampu melonjakkan export, tidak ada excess capacity.

"Inilah kenapa kita justru harus lebih hati-hati dibandingkan 1998, perlu cara-cara inovatif dan terobosan untuk keluar dari kondisi ini," ujar Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI itu.

Rupiah Melemah

Nilai tukar rupiah (kurs) terhadap dolar terus melemah.

Sejak Jumat (31/8/2018); nilai tukar rupiah terhadap dolar atau kurs terus menurun.

Nilai tukar rupiah atau kurs terhadap dolar dari sebelumnya sebesar Rp 14.734 per USD pada Kamis (30/8/2018) naik menjadi Rp 14.800 per USD pada pukul 07.00 WIB.

Hari ini, Senin (3/9/2018) hingga pukul 21.50 WIB nilai tukar rupiah (kurs) terhadap dolar mencapai Rp 14.830 per Dolar AS.

Dilansir TribunWow.com dari asia.nikkei.com, Jumat (31/8/2018), nilai tukar rupiah mencapai Rp 14.840 pada tengah malam.

Angka tersebut merupakan yang terendah sejak Juli 1998 setelah terjadinya krisis keuangan Asia.

Melemahnya mata uang rupiah menunjukkan total penurunan sebesar 8,7 persen sejak awal tahun.

Terkait hal ini, sebelumnya Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga dengan total 125 basis poin sejak Mei.

Selain itu BI juga melakukan intervensi untuk menopang mata uang rupiah.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menuturkan komitmen BI untuk menjaga stabilitas ekonomi sangat kuat, terutama stabilitas nilai tukar rupiah.

Oleh sebab itu, BI meningkatkan intervensi di pasar forex.

Penurunan peso Argentina pada Kamis (30/8/2018) yang jatuh pada rekor terendah terhadap dolar AS memicu kekhawatiran baru dari aset pasar negara berkembang di kalangan investor internasional.

Hal ini karena bank sentral Argentina menaikkan suku bunga utama sebesar 1500 basis poin menjadi 60 persen.

Mata uang rupiah telah jatuh sejak awal tahun 2018 di tengah ketegangan perdagangan antara AS dengan China.

Krisis yang melanda Turki juga turut berpengaruh pada penurunan nilai tukar rupiah.

Indonesia dinilai rentan terhadap aksi jual yang besar saat terjadi tekanan di pasar global.

Apalagi defisit transaksi berjalan negara pada saat ini melebar menjadi USD 8 miliar pada kuartal kedua tahun ini.

Meski demikian, Perry menegaskan bahwa kondisi ekonomi masih kuat dan bisa bertahan.

BI juga terus mewaspadai apa yang terjadi pada negara lain, termasuk Turki dan Argentina. [wow]

Loading...
loading...