Edy Rahmayadi: Tugas PSSI Hanya Membina Atlet, Tidak Sampai ke Suporter

Edy Rahmayadi: Tugas PSSI Hanya Membina Atlet, Tidak Sampai ke Suporter

Gelora Media
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi meminta kehadiran pemerintah dalam mengatasi persoalan suporter bola di Indonesia menyusul insiden tewasnya seorang suporter Persija.

Hal itu ia ungkapkan dalam program Indonesia Lawyer Club (ILC)di tvOne, Selasa (25/9/2018) malam.

Edy Rahmayadi mengatakan, PSSI bukanlah lembaga yang melakukan pembinaan suporter namun lebih kepada menyiapkan atlet.

Untuk itu, Edy Rahmayadi meminta Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) agar pemerintah hadir untuk membantu PSSI dalam kaitannya suporter bola.

"Ada satu yang saya usulkan kepada Menpora, saya memohon kehadiran pemerintah, kehadiran negara, karena disitu memang terputus," kata Edy Rahmayadi.

"Jobdesk-nya PSSI itu tidak ada sampai pembinaan ke suporter, PSSI hanya membina kepada atlet, penyiapan atlet. Terus siapa yang membina suporter? Nah ini yang perlu kita bahas lagi," jelas dia menambahkan.

Edy meminta pemerintah, agar bisa melakukan pembinaan terhadap suporter, terkhusus bagi pemerintah daerah.

"Kehadiran pemerintah ini kalau dia bermain di pemprov, ya gubernurnya itu yang bertanggungjawab," ujar Edy Rahmayadi.

Sebelumnya, Edy mengatakan jika pihaknya akan melakukan tindakan lebih lanjut pasca insiden tewasnya insiden pengeroyokan itu.

"Kami sudah langsung tadi kami sudah lapor kepada FIFA. Karena inilah bentuk belasungkawa kami atas terjadinya meninggal dunia. Yang kedua berikan waktu konsolidasi PSSI dengan liga dan klub termasuk fan. Inilah konsolidasi. Kami nanti yang memfasilitasi ini semua," terang Edy.

"Baru kita melanjutkan dalam kongres, ada aturannya. Baru kita susun SOP pengamanan yang lebih baik. Nggak sembarang-sembarang ini. Keempat, kita laporkan kepada AFC dan FIFA. Kelima, kami koordinasikan dan laporkan kepada pemerintah. Keenam, kami akan berbicara langsung pada yang bersangkutan tentang keamanan. Inilah langkah-langkah yang kita ambil," jelas dia menambahkan.

Sebelumnya diberitakan, Edy mengucapkan belasungkawa atas insiden pengeroyokan yang berujung kematian seorang suporter Persija, yang bernama Haringga Sirila itu.

Edy Rahmayadi mengatakan jika dirinya siap menjadi orang yang bersalah atas insiden tewasnya seorang suporter itu jelang pertandingan Persib Bandung kontra Persija Jakarta.

"Saat ini tak ada yang mau merasa salah, ya ketua umum PSSI yang salah, saya yang salah," kata Edy Rahmayadi.

Menurut Gubernur Sumatera Utara itu, sepak bola adalah alat pemersatu bangsa.

"Sepak bola itu adalah pemersatu anak bangsa. Kalau gara-gara sepak bola anak-anak bangsa tidak bersatu berarti ada yang salah disini," ujar Edy Rahmayadi.

"Kalau ada yang salah, ayo kita duduk," imbuh dia.

PSSI, kata Edy Rahmayadi, berada di bawah Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA).

Untuk itu, Edy selaku Ketua Umum PSSI bertugas menjaga keharmonisan dengan FIFA.

"Saya ketua PSSI ini, saya menjaga sekali keharmonisan bangsa Indonesia dengan FIFA. Makanya kalau bunyi disana-sini saya nahan aja gitu supaya tidak terjadi. Karena bukan hanya Indonesia, tapi seluruh dunia itu tunduk kepada FIFA," kata dia.

Edy mengatakan, FIFA juga menaruh perhatian langsung ketika insiden pengeroyokan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Bandung itu terjadi.

"Contoh kejadian kemarin, FIFA langsung telpon apa yang terjadi? Lakukan, cepat ketahui itu tentang hukum, bagaimana kedepan, itu perintahnya FIFA," ujar Edy Rahmayadi.

Lebih lanjut, Edy mengungkapkan telah menjalankan perintah FIFA dan akan segera melaporkannya.

"Sebagai ketua PSSI, saya putuskan ini, dan itu wewenang saya dan saya pertanggungjawabkan ini. Nanti saya laporkan ke FIFA, tembusan kepada pemerintah," tandas Edy Rahmayadi.

Simak video selengkapnya di bawah ini:



Diberitakan Kompas.com, Polisi telah menetapkan delapan oknum suporter sebagai tersangka.

Mereka melakukan pengeroyokan hingga menyebabkan Haringga Sirla (23) meninggal dunia saat akan menonton laga Persib Bandung kontra Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api ( GBLA), Minggu (23/9/2018).

"Sebanyak 16 orang yang sudah diamankan, 8 orang di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka," ujar Kasat Reskrim Polrestabes Bandung AKBP M. Yoris Maulana di Mapolres Bandung, Kota Bandung, Senin (24/9/2018).

Para tersangka yang diamankan antara lain B (41), GA (20), CG (20), AA (19), SMR (17), DFA (16), dan JS (31).

Yoris tak menampik adanya kemungkinan penambahan tersangka.

"Kebanyakan (tersangka) dari Bandung, ada juga dari luar Bandung," katanya.

Adapun para pelaku pengeroyokan ini memiliki peran masing-masing.

"Ada yang memukul pakai tangan dan kaki, memukul pakai alat seperti balok kayu, dan juga helm," katanya.

Dikatakan, penganiayaan ini berawal saat korban datang ke Bandung seorang diri untuk menyaksikan pertandingan sepak bola.

Sesampainya di Bandung, korban dijemput temannya yang merupakan orang Bandung.

Keduanya kemudian berangkat dengan menggunakan sepeda motor.

Namun, sesampainya di GBLA, sekelompok massa melakukan sweeping dan korban pun bersinggungan dengan massa yang melakukan pengeroyokan terhadap dirinya.

"Korban langsung dikeroyok, hingga akhirnya korban meninggal di lokasi kejadian," ujar Kasat Reskrim.

Massa pun akhirnya bubar setelah polisi datang dan mengevakuasi korban.

Polisi langsung bergerak mengidentifikasi pelaku pengeroyokan dan mengamankan sejumlah pelaku.

Saat ini, penyidik masih meminta keterangan terhadap para pelaku.

Koordinasi pun dilakukan dengan manajemen Persib Bandung dan Viking untuk melakukan pengembangan kasus ini.

Untuk para pelaku, polisi menerapkan Pasal 170 KHU Pidana tentang Penganiayaan yang Dilakukan Bersama-sama hingga Menyebabkan Korbannya Meninggal Dunia.

Ancaman pidana di atas lima tahun penjara.[tribun]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita