logo

17 September 2018

Dahnil Anzar: Demonstrasi di Alam Demokrasi Itu Biasa, Apalagi Pak Jokowi Senang Kalau Ada Demo

Dahnil Anzar: Demonstrasi di Alam Demokrasi Itu Biasa, Apalagi Pak Jokowi Senang Kalau Ada Demo


GELORA.CO - Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menanggapi tudingan aksi demo mahasiswa yang ditunggangi kubu politik oposisi.

Dilansir TribunWow.com dari program Talkshow Tv One Apa Kabar Indonesi Pagi, Minggu (16/9/2018), menurut Dahnil demonstrasi di alam demokrasi adalah hal yang biasa, menurutnya, mengenai momentum, mahasiswa bergerak karena memang keadaanya seperti itu.

Ia juga mengatakan hal itu disebut menunggangi karena tokoh politik yang melihat, jika masyarakat biasa akan melihat itu sebagai hal yang biasa.

"Karena yang melihat itu adalah politisi, kalo yang melihat orang biasa, ya biasa saja," ujar Dahnil.

Dahnil juga menyinggung Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) pernah meminta untuk didemo mahasiswa karena itu berarti masyarakatnya peduli dengan Jokowi.

"Apalagi Pak Jokowi berulang kali menyebutkan saya (Jokowi) senang ada demonstrasi, artinya peduli dengan saya. Lho ini berarti mereka (para mahasiswa) peduli," tutur Dahnil.

Sebelumnya, Politikus PDIP Andian Napitupulu mengatakan gerakan tersebut menguntungkan oposisi.

Andian melanjutkan, yang dituntut mahasiswa sama dengan yang digaungkan tokoh oposisi.

"Kutipan-kutipannya, itu sama persis dengan yang digunakan kelompok oposisi, harga telur, harga tempe, harga ini, itu, sama persis."

"Isu harga telur ini kan pertama kali digaungkan oleh tokoh politik," ungkap Andian.

Menurut Andian, seharusnya mahasiswa jika tidak mau disebut ditunggangi, harus menjelaskan dengan mencari contoh tuntutan lain.

Lanjutnya, menurut Andian, mengapa harus saat mendekati pemilu mahasiswa melakukan demonstrasi, tidak sebelum-sebelumnya.

Perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) wilayah Sumatera, Fauzul membantah jika demonstrasi yang dilakukan mahasiswa ditunggangi tokoh polik ataupun partai politik.

Fauzul mengungkapkan gerakan tersebut murni dari kegelisahan masyarakat.

"Mahasiswa bergerak atas dasar kegelisahan, mahasiswa hujan-hujanan, mahasiswa panas-panasan, mahasiswa bahkan sampai ada yang bentrok dengan kepolisin, dipukul, tapi dituding ditunggangi dan lain sebagainya," tutur Fauzul.

Fauzul menegaskan, jika ada pejabat negara yang berpendapat demo mahasiswa ditunggangi elit politik, sebaiknya dijauhi.

"Dia tidak memahami pemuda itu sebagai subjek pembangunan, yang seharusnya ketika pemuda turun ke jalan, mereka peduli, mereka mencari solusi, dan mereka mengkaji. Seharusnya ini dilihat sebagai hal yang positif," ungkap Fauzul.

Diberitakan sebelumnya, mahasiswa Universitas Jambi dan Universitas Batanghari, Jambi berunjuk rasa meminta pergantian presiden dan wakil presiden di Gedung DPRD Provinsi Jambi, dilansir TribunWow.com dari Kompas Tv, Kamis (13/9/2018).

Mereka menyatakan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) gagal melakukan perbaikan ekonomi karena nilai rupiah melemah dan dapat melemahkan ekonomi nasional.

Unjuk rasa mahasiswa di Gedung DPRD Provinsi Jambi sempat ricuh.

Mahasiswa yang mencoba masuk ke dalam Gedung DPRD Provinsi Jambi diadang polisi.

Mahasiswa pun sempat berdebat dengan anggota DPRD Jambi.

Walau sempat ingin menduduki Gedung DPRD Jambi mahasiswa akhirnya mulai membubarkan diri.

Aksi unjuk rasa juga dilakukan, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam himpunan Mahasiswa Islam cabang Gowa Raya yang melakukan aksi unjuk rasa di jalan Sultan Alaudin, dikutip TribunWow.com dari tayangan iNews, Kamis (13/9/2018).

Massa ini juga menuntut pemerintah Jokowi-JK agar memperbaiki nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Disisi lain, demo terkait pelemahan rupiah juga terjadi di Kementerian Keuangan, pada Jumat (14/9/2018).

Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Wilayah Jabodetabek dan Banten, selain menutut rupiah, demonstran juga mendesak pemerintah agar tetap menjaga stabilitas harga bahan pokok di tengah melemahnya nilai tukar rupiah.

Tanpa harus mengintimidasi produk produk lokal untuk bersaing di dalam pasar nasional.

Dalam aksinya, mahasiswa juga meminta pemerintah untuk mempermudah akses peminjaman usaha dengan menjaga suku bunga kredit yang rendah.

Massa juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan penggunaan produk lokal dan mengurangi konsumsi produk asing.

Aksi yang sempat menutup jalan ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat sekitar yang lewat, diantaranya dengan membuka kaca mobil dan mengucapkan semangat kepada mahasiswa.[tribun]

Loading...
loading...