Buwas 'Ngegas', Buwas Dibela
logo

20 September 2018

Buwas 'Ngegas', Buwas Dibela

Buwas 'Ngegas', Buwas Dibela


GELORA.CO - Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Waseso (Buwas) mengkritisi kebijakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita soal impor beras. Meski mengkritik Kementerian Perdagangan (Kemendag) dengan keras, namun Buwas tetap dibela.

Awalnya, Buwas mengatakan Perum Bulog saat ini tengah menyewa beberapa gudang untuk menyimpan cadangan beras miliknya, yang sebagian merupakan hasil impor. Namun, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan persoalan tersebut bukan urusan pemerintah.

Menanggapi hal itu, Buwas mengatakan pada dasarnya ia bingung. Sebab kegiatan yang Bulog lakukan merupakan tugas dari pemerintah. Bahkan, kata dia, seharusnya antara Bulog dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) mesti berkoordinasi untuk menyamakan pendapat.

"Saya bingung ini berpikir negara atau bukan. Coba kita berkoordinasi itu samakan pendapat, jadi kalau keluhkan fakta gudang saya bahkan menyewa gudang itu kan cost tambahan. Kalau ada yang jawab soal Bulog sewa gudang bukan urusan kita, mata mu! Itu kita kan sama-sama negara," tegas Buwas di Perum Bulog, Jakarta Selatan, Rabu (19/9/2018).

Terkait pernyataan Buwas ini, Wakil Ketua Komisi IV DPR Michael Wattimena memberikan pembelaan. Michael mengatakan Komisi IV, yang membidangi soal pangan, sudah beberapa kali mengadakan kunjungan spesifik ke sejumlah daerah. Kondisi kelebihan beras yang dikatakan Buwas benar adanya.

"Di sana kita melihat gudang Bulog di daerah. Memang overstock," ujar Michael saat dihubungi, Rabu (19/9/2018).

Michael mengatakan Komisi IV, yang membidangi soal pangan, sudah beberapa kali mengadakan kunjungan spesifik ke sejumlah daerah. Kondisi kelebihan beras yang dikatakan Buwas benar adanya.

"Di sana kita melihat gudang Bulog di daerah. Memang overstock," ujar Michael saat dihubungi, Rabu (19/9/2018).

Politikus Partai Demokrat itu pun menilai Buwas sebagai sosok yang bebas dari kepentingan. Menurut Michael, Buwas memiliki tujuan yang baik dengan menunjukkan kondisi riil di lapangan kepada Mendag.

Namun ia tak mau menunjuk siapa yang salah dan benar soal impor pangan ini.

"Ini bukan soal ego sektoral. Tapi kami melihat daripada kerja, profesionalisme, integritas seseorang ini. Kita lihat Pak Buwas ini kan nothing to lose ya," ujarnya.

"Nggak ada kepentingan apa-apa tapi ingin mengajak Mendag untuk melihat ini ya Bulog tidak bisa nampung karena beras numpuk di gudang. Mau taruh di mana?" imbuh Michael.

Michael pun menyayangkan pernyataan Mendag yang terang-terangan mengatakan persoalan gudang bukan urusan pemerintah. Ke depan, ia berharap hal semacam itu tak jadi konsumsi publik.

Michael khawatir masyarakat menafsirkan lain. Terutama para petani, yang ditakutkan merasa tak dibela.

"Tidak elok pertikaian itu dibuka di publik. Apalagi petani membacanya, oh sebenarnya selama ini pemerintah tidak melakukan pembelaan terhadap mereka. Yang pemerintah lakukan adalah impor, impor, lalu surplus hingga akhirnya beras mereka tidak berdaya di lapangan," jelas Michael.

Tak hanya Michael, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah juga memberikan pembelaan ke Buwas. Dia menilai memang ada kekacauan dari sisi perdagangan.

"Ini lagi-lagilah, ini kan kekacauan. Mohon maaf aja, kampanye ke sono kemari antimafia, ke sana-kemari membabat mafia, nanti kemudian comot sana comot sini, masalah nggak diselesaikan akhirnya terjadi akumulasi," ujar Fahri di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/9/2018).

"Bagaimana bisa dalam tubuh satu pemerintahan ada Bulog sebagai penampung, dia punya gudang sebagai indikator. Perut rakyat itu aman atau tidak itu tanyanya Bulog dong!" kritik Fahri.

Fahri juga menyoroti langkah Enggar terus mengimpor beras pada saat stok beras di Bulog berlimpah. Fahri mengaku heran.

Fahri memaklumi jika Buwas bicara frontal di media terkait polemik tersebut. Bagi Fahri, sikap Buwas sangat wajar karena merasa pendapat dan masukannya tak didengar.

"Mendag-nya di-drive oleh sesuatu yang kita tidak tahu ngimpor sendiri, nggak mendengar itu Kepala Bulog-nya. Sekarang Kepala Bulog-nya itu ngomong nyembur keluar kayak gitu karena orang nggak tahan lagi. Dia bilang sekarang nggak usah rapat-rapat karena rapat bagian dari penukangan-penukangan," kritik Fahri.

Terkait persoalan gudang beras itu, Buwas menjelaskan saat ini gudang miliknya memang telah penuh terisi beras. Ia pun meminta agar persoalan tersebut dibantu.

Menurut Buwas pihaknya juga tengah mencoba meminjam gudang milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) untuk menyimpan beras. Sebab, masih ada pengadaan beras impor yang belum masuk sebanyak 400.000 ton.

"Kita lihat gudang deh, di Jakarta saja ngap-ngapan dan ini mau datang lagi 40.000 ton dan saya pikir mau di mana lagi ya. Ada teman-teman AURI saya ngomong kalau pesawat dikeluarin nggak masuk angin, kalau beras kena hujan kan masalah perut masyarakat," jelasnya di Perum Bulog, Jakarta Selatan, Rabu (19/9).

Lebih lanjut, ia pun meminta agar pemerintah mau membantu pihaknya mencarikan tempat penyimpanan beras. Pihaknya pun siap untuk menggelontorkan dana untuk gudang tersebut.

"Jadi jangan urusan gudang itu urusan Bulog. Harusnya saya dibantu dong. Pak Buwas butuh gudang? Ini ada sekian banyak, ini data-datanya. Gitu dong kalau urusan bayar itu urusan saya, tapi nunjukin saja nggak," papar dia. [dtk]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...