logo

3 September 2018

Benarkah Lillith Isteri Pertama Adam? Bukan Hawa?

Benarkah Lillith Isteri Pertama Adam? Bukan Hawa?


OLEH: NASARUDDIN UMAR

GELORA.CO - ADA informasi menarik dari Kitab Talmud, ternyata Hawa bukan isteri pertama Adam, tetapi Lillith. Dialah perempuan pertama yang diciptakan bersama oleh Tu­han. Dia diciptakan dari un­sur yang sama hanya saja ia berpisah karena Lilith tidak ingin menjadi pelayan (helper) Adam. Ia keberatan menjadi the sec­ond sex karena merasa diciptakan dari unsur yang sama tanpa ada perbedaan substansi dan struktur. Ia lalu minggat meninggalkan Adam, akhirnya Adam tinggal kesepian seorang diri. 

Dari sinilah bermula kisah Adam bersama pasangan barunya bernama Hawa. Adam dise­but Adam (Hebrew: A=sendiri, damon=kesepian) karena kesepian seorang diri (manusia) karena ditinggalkan pasangannya, yaitu Lillith. Akh­irnya Tuhan menciptakan pasangan baru dari tulang rusuknya sendiri yang kemudian ber­nama Hawa. Adam bahagia sekali dengan is­teri barunya dan ia sangat memanjakannya. Apapun permintaan isteri barunya dipenuhinya karena takut kehilangan isteri untuk kedua ka­linya. Termasuk Adam memenuhi desakan is­teri barunya untuk memakan buah khuldi yang terlarang itu. 

Yang namanya isteri pertama, sekalipun su­dah diceraikan, rasa cemburu, dendam, dan benci terhadap Adam mantan suaminya tentu­nya dengan isteri barunya, Hawa, tetap berge­jolak di dalam dirinya. Semakin bahagia Adam bersama Hawa semakin dendam bergejolak di hati Lillith. Ia kemudian berkoalisi dengan Iblis untuk menjatuhkan dan mengusir Adam dan Hawa dari syurga, dengan berbagai cara. Lillith berkeinginan keras mengusir Adam dan Hawa dari syurga karena Adam punya isteri baru. Se­mentara Iblis juga dendam kepada Adam kare­na gara-gara dia sehingga menjadi makhluk ter­kutuk seumur hidup. Akhirnya usaha keduanya berhasil mengusir Adam dan Hawa dari syurga kenikmatan turun ke bumi penderitaan. 

Yang namanya dendam kesumat sulit un­tuk diredam. Tidak cukup Adam dan Hawa di­jatuhkan ke bumi, keduanya menyusul Adam dan Hawa untuk mengganggu anak-cucu Adam agar terjebak terus di dalam kesesatan. Iblis bisa mengambil berbagai bentuk untuk mem­pengaruhi Adam dan Hawa beserta anak cucu­nya, sedangkan Lillith mengambil bentuk set­an betina (female demond) yang gentayangan mencari mangsa dari anak cucu Adam. 

Lillith selalu dihubungkan dengan setan beti­na yang menakutkan. Mungkin itulah sebabnya mengapa di hampir seluruh dunia selalu punya cerita tentang setan betina. Seolah-olah jenis kelamin hantu kejam itu adalah betina. Bandingkan di Indonesia dengan nama-nama han­tu mengerikan seperti nenek sihir, Mak lampir, kuntilanak, gendruwo, dan hantu-hantu lokal lainnya. Itu semua jelmaan dari Lillith, isteri per­tama Adam yang dipanjangkan umurnya sepa­njang usia manusia sama dengan Iblis. 

Dalam Islam, tentu cerita ini tidak pernah ditemukan di dalam Al-Qur'an dan Hadis. Cerita ini ditemukan di dalam cerita rakyat Yahudi. Na­mun, cerita ini muncul di dalam Kitab Talmud, sebuah kitab penafsiran Kitab Perjanjian Lama seperti diungkapkan dalam Kitab Erubin 100b, Bava Batra 73b, Niddah 24b, Sabbat 151b, yang dihubungkan dengan salah satu pasal da­lam kitab Perjanjian lama: Di sana berpapasan binatang gurun dengan anjing hutan, dan jin bertemu dengan temannya; hantu malam saja ada di sana dan mendapat tempat perhen­tian (Yesaya/34:14). Pasal lain yang sering di­hubungkan dengan cerita Lillith ialah Kitab Ke­jadian: Kitab Kejadian 3:16: FirmanNya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu men­gandung akan kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu". 

Dalam literatur kekristenan yang otoritatif, cerita tentang Lillith tidak diakui keberadaan­nya. Hanya di sejumlah literatur Yahudi ditemu­kan sejumlah sumber tentang Lillith, seperti dalam Kitab Talmud, baik dalam Kitab Talmud Babilonia yang lebih tebal maupun Kitab Tal­mud Palestina yang lebih sederhana, cerita Lillith sebagai perempuan yang penuh misteri, ditemukan di dalamnya. Hanya saja cerita se­lengkapnya jarang diulas dalam buku-buku ber­bahasa Indonesia.[rmol]

Loading...
loading...