RR: Neoliberal, Biang Kerok Ekonomi Indonesia Gagal Tumbuh Pesat

RR: Neoliberal, Biang Kerok Ekonomi Indonesia Gagal Tumbuh Pesat

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Hampir semua negara di benua Asia hidup miskin pada 45 tahun yang lalu. Rata-rata penduduknya hanya berpenghasilan 100 dolar AS per tahun.

Begitu kata ekonom senior Dr Rizal Ramli dalam Talk Show Bravos Radio bertajuk 'Ngobrol Bareng Tokoh' usai berkunjung ke Pasar Kramat Jati, Senin (6/8).

Namun demikian, sambungnya, pada hari ini banyak negara Asia yang bisa berlari kencang. Tingkat perekonomian mereka bahkan menyaingi tingkat kesejahteraan negara-negara di Eropa Barat.

“Di Korea itu sekara 44 ribu dolar, 13 kali dari kita. Taiwan 13 kali dari kita, Malaysia 3 kali dari kita, dan Vietnam yang miskin kini hampir menyamai kita,” ujarnya Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Kemudian timbul pertanyaan tentang bagaimana negara-negara itu bisa berlari kencang meninggalkan negara Asia lain, seperti Indonesia.

RR, begitu dia disapa, mencatat ada beberapa penyebab Indonesia bisa tertinggal jauh meski secara kapasitas dan sumber daya alam tidak kalah dengan negara lain. Pertama adalah tingkat korupsi yang masih menjadi masalah akut di Indonesia.

“Memang benar hari ini pun perilaku korupsi kita tidak berubah,” jelasnya.

Selain itu, model pembangunan yang dianut Indonesia juga menjadi biang kerok negeri tidak maju-maju. Indonesia selama ini menggunakan model pembangunan dari Bank Dunia, neoliberal.

“Model pembangunan ini tergantung utang. Begitu ekonomi tinggi, utangnya nambah, jadi harus dikurangi. Jadi ada semacam rem otomatisnya,” jelas Rizal.

Mantan Menko Kemaritiman itu menyebut bahwa model pembangunan neoliberal telah membuat perekonomian Indonesia sejak zaman Soeharto hanya bisa tumbuh paling tinggi 7 persen.

“Jepang China yang tidak pakai mengandalkan model Bank Dunia bisa tumbuh 12 persen selama 20 tahun, sehingga bisa kejar negeri Barat,” tukasnya. [rmol]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita