Pasca Ma’ruf, Pimpinan Seword Emosi, Ingin Istirahat Dulu dari Relawan Jokowi
logo

11 Agustus 2018

Pasca Ma’ruf, Pimpinan Seword Emosi, Ingin Istirahat Dulu dari Relawan Jokowi

Pasca Ma’ruf, Pimpinan Seword Emosi, Ingin Istirahat Dulu dari Relawan Jokowi


GELORA.CO - Saat drama politik terjadi, Mahfud MD batal ditetapkan sebagai Cawapres dan malah terpilih Maruf Amin, ada beragam emosi yang menyeruak di kepala saya.

Bagaimana tidak, kita yang selama ini mengedepankan toleransi, menolak politik SARA, harus menerima seorang Maruf Amin, ketua MUI yang tahun lalu berkat fatwanya negeri ini diambang kericuhan. Demo berjilid-jilid mengawal fatwa MUI demi memenjarakan Ahok.

Bagi saya pribadi, ini bukan soal Ahoknya, tapi tentang radikalisme dan arogansi kelompok garis keras. Yang seolah-olah punya kuasa dan bisa melakukan apa saja di negara kita.

Kalau ditanya apakah saya tersinggung mendengar Ahok menyinggung soal kitab suci yang tidak dia ketahui? Iya tersinggung. Tapi ketika melihatnya diserbu, diserang oleh kelompok khilafah dan radikal, di situ saya memilih untuk berdiri di sampingnya.

Saya bisa tidak setuju beberapa sikap Ahok, tidak sependapat dengan kebijakan dan cara komunikasinya, tapi kalau menyangkut soal intimidasi dan politisasi agama, saya tahu kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi dan menjadi bagian dari api yang mengobarkan permusuhan. Kita harus berada di pihak Ahok sebagai penyeimbang dan counter.

Lalu semalam, kita harus menerima kenyataan luar biasa, Maruf Amin sebagai Cawapres Jokowi. Sosok yang mengeluarkan fatwa Ahok penista agama, sosok yang menjadi saksi memberatkan Ahok di persidangan.

Sekali lagi ini bukan soal Ahok, tapi tentang toleransi dan kebhinekaan, tentang Indonesia. Sehingga di titik ini saya pikir akan membuat keputusan, cuti dari perhelatan politik, istirahat dari relawan Jokowi. Sengaja tidak saya gunakan kata “mundur” karena mungkin saya akan kembali, atau karena memang saya ini menjadi relawan atas inisiatif sendiri.

Semalam, dalam keadaan emosi, saya berpikir untuk menutup Seword.com dan seluruh akun media sosialnya. Namun saya tahu itu tidak mungkin, sebab alasan web ini online karena memang untuk Jokowi, selain itu banyak teman-teman penulis Seword yang masih tetap ingin bersama-sama Jokowi.

Kemudian saya berpikir untuk menjual perusahaan ini, Seword.com dan seluruh sistem yang ada. Saya ingin istirahat dari hiruk pikuk politik dalam jangka waktu yang lama, tidak ingin peduli dengan apa yang terjadi di negara ini. Terserah mereka-mereka saja. Tapi untuk ini pun saya perlu waktu, untuk menghubungi orang-orang oposisi yang selama ini sudah tertarik untuk akuisisi.

Jadi yang paling memungkinkan dan bisa saya lakukan saat ini adalah istirahat dulu. Sejenak. Sebelum akhirnya kembali masuk lapangan untuk mendukung Jokowi atau malah mendukung Sandiaga.

Saya tahu ini keputusan yang emosional, tidak bijak dan terserah apapun yang orang lain katakan. Ini negara demokrasi, saya punya hak untuk berekspresi. Sebelumnya, saat Ahok menyatakan cerai dengan istrinya, saya juga sudah membuat keputusan berbeda dari teman-teman penulis yang lain, saya tidak mendukung Ahok sebagai pejabat publik lagi.

Lalu kalau sekarang saya memilih untuk istirahat dulu, saya pikir itu hal yang biasa. Tidak seekstrim menarik dukungan terhadap Ahok sebagai pejabat lagi pasca keluar dari penjara nanti.

Mungkin itu saja yang perlu saya sampaikan. Seword insyaallah tetap online, karena admin tetap bekerja seperti biasa. Tapi saya atas nama pribadi ijin pamit dulu dari bahasan-bahasan politik atau tulisan-tulisan yang mendukung Jokowi dua periode.

Semoga ini dapat dipahami dengan baik, dan semoga apapun keputusan saya nanti, kembali mendukung Jokowi atau mendukung Sandiaga, pun semoga itu adalah keputusan terbaik bagi saya sebagai warga yang menginginkan negeri ini lebih maju.

Untuk teman-teman penulis, silahkan terus menulis seperti biasa, bebas dan terbuka, Seword ini milik kalian semua. Saya hanya kebetulan saja ditaqdirkan untuk mendirikan web ini. Dan jika pada akhirnya saya harus menyerahkan web ini ke orang lain atau pihak lain, mungkin itu juga bagian dari taqdir.

Terakhir, kalian tidak salah memilih Jokowi dan mendukung Maruf Amin, mungkin ini salah saya saja yang terlalu optimis, terlalu berharap bahwa negeri ini akan lebih baik jika dipimpin oleh sosok yang memiliki kompetensi dan kemampuan lebih baik di pemerintahan seperti Mahfud MD. Begitulah kura-kura.

Oleh: Alifurrahman (Pendiri Seword.com)

Loading...
loading...