Kisah Iqbal dan Sarah, Suami Istri Sama-sama Peraih Emas Pencak Silat Asian Games
logo

30 Agustus 2018

Kisah Iqbal dan Sarah, Suami Istri Sama-sama Peraih Emas Pencak Silat Asian Games

Kisah Iqbal dan Sarah, Suami Istri Sama-sama Peraih Emas Pencak Silat Asian Games


GELORA.CO - Ada yang unik dalam ajang Asian Games kali ini, yakni di cabang olahraga pencak silat. Peraih medali emas merupakan pasangan suami istri. Iqbal Chandra Pratama dan Sarah Tria Monita, keduanya menang dalam kategori berbeda.

Pencapaian Iqbal Chandra Pratama, memperoleh segudang medali di berbagai macam kejuaraan hingga yang terakhir meraih medali emas pada Asian Games 2018 ini tak lepas dari didikan, dukungan, dan doa kedua orangtuanya, Marjuki dan Mairina Nawi.

Kedua sosok itulah yang menempa skill dan mental Iqbal Chandra sejak kecil. Keduanya yang juga atlet pencak silat itu, memang memberikan dukungan penuh kepada anak-anaknya, Iqbal Chandra Pratama dan Dinda Nur Aida, yang memilih cabang olahraga tersebut.

Tidak hanya itu, Marjuki dan Mairina, menunjukkan dukungan maksimal dengan langsung terbang ke Jakarta untuk memberikan semangat kepada putranya serta istri Iqbal, Sarah Tria Monita, yang juga bertanding di laga final.

Kedua orangtua Iqbal itu ingin menyaksikan secara langsung perjuangan Iqbal dan Sarah di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Saat dihubungi TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id) melalui telepon seluler, terpancar kebahagiaan yang tak terhingga atas prestasi anak dan menantunya.

"Alhamdulillah, Iqbal dan istrinya, Sarah, bisa menyumbangkan medali emas bagi Indonesia dari cabang pencak silat di Asian Games 2018. Kami sebagai orangtua, tentunya sangat bangga dengan pencapaian mereka," ujar Marjuki, Selasa (28/8/2018) pagi.

Marjuki menceritakan, saat melihat langsung pertandingan yang dimainkan anaknya, ia pun masih merasa tak percaya jika anaknya berhasil melewati laga pamungkas itu. Pasalnya, Iqbal sempat ketinggalan angka pada 2,5 ronde dari 3 ronde yang dimainkan.

"Dengan jiwa juang yang tinggi, Iqbal pantang menyerah. Walaupun tadi saat bertanding di final harus ketinggalan angka di 2,5 ronde. Iqbal hanya punya waktu 30 detik terakhir. Dan Alhamdulillah, bisa mengembalikan keadaan menjadi unggul," ucapnya syukur.

Tak Ada Pengorbanan Sia-Sia

Tak lupa, pria yang tinggal di Perumahan BTN KCY Jalan Jawa RT 36 Kelurahan Api-Api itu, juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya Bontang dan Kaltim, atas dukungan dan doa yang diberikan kepada Iqbal.

"Ini semua berkat doa segenap warga Bontang, Kaltim dan masyarakat Indonesia. Emas ini demi harga diri bangsa," ucap pria yang bekerja di Fire & Safety Section, Operation Department Badak LNG itu.

"Harapan kami sebagai orang tua dan juga sebagai warga Indonesia, mudah-mudahan keberhasilan Iqbal dan Sarah saat ini tidak menjadikan mereka lupa dan lalai. Terus berlatih, pertahankan dan tingkatkan prestasinya," harap Marjuki.

Ia pun berpesan, keberhasilan Iqbal ini dapat dijadikan penyemangat bagi anak muda Kaltim dan Bontang agar giat berlatih dan pantang menyerah menggapai mimpinya. "Sekaligus untuk menjadikan motivasi bagi anak muda Indonesia. Terkhusus, untuk Perguruan Tapak Suci dimanapun berada," pungkasnya.

Sementara itu, sang ibu Mairina Nawi, juga mengucapkan kebanggaannya atas prestasi yang ditorehkan anak-anaknya. "Bangga, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Pokoknya kami bangga dengan anak-anak kami. Doa kami siang malam, Alhamdulillah dijabah Allah SWT," ucap Mairina.

Terpisah, Ketua RT 36 Kelurahan Api-Api, Sudarno, saat dikonfirmasi media ini mengapresiasi perjuangan orangtua Iqbal dalam mendidik anaknya selama ini. "Sudah warga lama di sini. Kami ingat betul saat Iqbal dan Dinda (adik Iqbal) digembleng bapak ibunya sehari-hari. Keduanya, anak-anak yang berbakat dan berprestasi," tutur Sudarno.

Lebih lanjut Sudarno menjelaskan, pengorbanan kedua orangtuanya untuk berpisah dengan anak-anaknya di saat masih belia patut diacungi jempol. Perlu diketahui, Iqbal Chandra Pratama bersekolah di Bontang hingga SMP saja, kemudian melanjutkan di Sekolah Khusus Olahraga Internasional (SKOI) Kaltim.

"Pengorbanan Pak Marjuki dan Bu Mairina memang yang luar biasa, harus terpisah dari kedua anaknya yang melanjutkan pendidikan SKOI di Samarinda. Melihat prestasi yang dicapai, tidak ada yang sia-sia pengorbanan mereka," imbuh Ketua RT 36 itu. [lip6]

Loading...
loading...