Jelang Pilpres 2019: Mulai Main Kayu
logo

27 Agustus 2018

Jelang Pilpres 2019: Mulai Main Kayu

Jelang Pilpres 2019: Mulai Main Kayu


Oleh: Moh. Nizar Zahro*

MIRIS, menyaksikan video yang beredar, dimana seorang emak-emak, Neno Warisman, dipersekusi di Bandara Pekanbaru, Riau.

Menurut kesaksian Neno Warisman, massa yang menghadang di gerbang keluar bandara hanya sekitar 40 orang saja. Tapi mereka bebas melakukan apa saja, mulai dari bakar ban, hingga melempar batu ke mobil yang dinaiki neno. Aparat yang jumlahnya lebih banyak tidak berkutik.

Setelah 7 jam tertahan di gerbang bandara, akhirnya oleh aparat Neno akan dikawal menuju hotel. Tetapi bukan hotel yang dituju melainkan kembali ke Bandara. Neno dipaksa kembali pulang ke Jakarta.

Dalam kesaksiannya, Neno beserta rombongan diperlakukan secara kasar. Neno secara khusus menyebut Kabinda Riau yang sudah bertindak secara kasar.

Selang beberapa jam, situasi mencekam merembet ke Surabaya. Polisi secara paksa membubarkan masyarakat yang ingin menghadiri acara deklarasi #2019GantiPresiden. 

Sehari sebelumnya beredar surat dari kepolisian tentang tidak dikeluarkannya STTP dengan alasan ada ormas yang tidak setuju dengan gelaran #2019GantiPresiden.

Kasus Pekanbaru dan Surabaya membuktikan bahwa aparat tidak netral. Aparat sudah terseret dalam politik praktis. Logikanya, aparat tidak akan mungkin tunduk pada kemauan ormas. Aparat sejati hanya akan tunduk kepada UU.

Acara deklarasai #2019GantiPresiden adalah acara yang konstitusional. Dijamin oleh konstitusi dan UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

Acara serupa pun sudah digelar di Jakarta, Medan, Batam, Banten dan kota-kota lainnya. Semuanya berjalan lancar. Tidak ada provokasi. Dan juga tidak ada teror. Namun, kalaupun ada yang terprovokasi itu hanyalah penguasa yang merasa terancam kedudukannya.

Sangat disayangkan, di era reformasi ada yang masih memakai "kayu" untuk membubarkan acara yang demokratis.

Aparat mestinya sadar, sejarah sudah membuktikan tidak ada yang bisa melawan kehendak rakyat. Seberapa bantaknya kayu yang digebukkan, seberapun kerasnya gebukan tersebut, tetap rakyatlah yang akan tampil sebagai pemenang. [rmol]

*Ketua Umum Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria)

Loading...
loading...