logo

8 Agustus 2018

Ingin Kalahkan Jokowi, Prabowo Pilih Logistik atau Logika?

Ingin Kalahkan Jokowi, Prabowo Pilih Logistik atau Logika?


Oleh: Muda Saleh*

Pendaftaran Pemilihan Presiden oleh sejumlah partai politik hanya tinggal menunggu hitungan jam saja, karena tepat tanggal 10 Agustus 2018 KPU memastikan penutupan pendaftaran tersebut. Namun, dua kubu (Joko Widodo dan Prabowo Subianto) belum juga menentukan sikap siapa pasangan cawapres yang digandeng pada kontestasi tersebut.

Pada Kubu Jokowi, sebanyak 9 parpol menyatakan dukungan penuh guna membangun kekuatan pada Pemilu mendatang, diantaranya yakni PDIP, Nasdem, PPP, Golkar, Hanura, PSI, PKB, Perindo, dan PKPI, meski sampai hari ini belum juga ada tanda siapa yang akan menjadi wakil dari Jokowi.

Karena memang, sejak awal berupaya keras meyakinkan Jokowi untuk menjadi wakil, namun keinginann tersebut terhempas karena tak satupun tampaknya kandidat cawapres dari ketum partai pendukung koalisi petahana tersebut.

Sementara itu, dari kubu Prabowo Subianto, hal yang sama, yakni Gerindra, PAN, PKS, Demokrat menyatakan dukungan, meski akhirnya tarik-menarik siapa yang akan menjadi cawapres Prabowo masih keras.

PAN bahkan dikabarkan hengkang dari koalisi tersebut karena tak menginginkan calon wakil presiden Prabowo dari Demokrat, yakni Agus Harimutri Yudhoyono (AHY) ataupun dari PKS yani Salim Segaf sebagai pendamping Prabowo.

Dilema, ya tentunya. Karena memang melalui Ketua DPP PAN, Yandri Susanto menegaskan jika tetap memberikan kemungkinan kepada dua tokoh tersebut, partai yang dipimpin oleh Zulkifli Hasan tersebut mengancam akan berbalik arah mendukung Jokowi pada Pilpres mendatang.

Sebuah hal yang menarik terjadi pada koalisi oposisi ini, dimana PAN, PKS, Demokrat sama-sama mendukung calon yang sebetulnya masih memiliki tingkat elektabilitas yang sangat jauh dari ekspektasi yang ada. Berbicara AHY, kegagalan di Pilkada DKI tentunya menjadi pelajaran Demokrat karena suara yang didapat sangat kecil, yakni 17.07 persen, jauh diandingkan dengan Ahok dan Anies Baswedan.

Begitu juga Salim Segaf, dimana pemuka agama yang dianggap sebagai jalan keluar ini juga tingkat popularitasnya masih jauh dibanding dengan beberapa tokoh lain yang masuk dalam sejumlah radar survei yang ada. Bahkan PAN mendesak agar Prabowo segera meminang Ustad Abdul Somad (UAS) sebagai jalan tengah.

Menanggapi Fenomena tarik-menarik ini, tak menutup kemungkinan akan menjatuhkan Prabowo sendiri ke depannya, karena terlalu lama kepentingan partai koalisi pendukungnya menjatuhkan egois guna memastikan siapa sesungguhnya yang paling layak dalam kontestasi tersebut.

Tersiar kabar sebelumnya pada pertemuan sejumlah sekjen parpol di Kemang, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu tak mencapai kesepakatan, karena Prabowo tak lagi memiliki logistik. Mengingat, Pilkada DKI beberapa waktu lalu banyak yang menilai, Prabowo menggelontorkan dana yang terbilang fantastis.

Saya meyakini, Demokrat tak serius mencalonkan AHY, karena paham betul pasangan ini adalah kandidat yang jelas-jelas kalah, selain itu sebagai target Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menjatuhkan Prabowo guna dapat bermain sebelah kamar dengan petahana agar dapat menempatkan posisi menteri untuk AHY. Dan mustahil tampaknya bagi SBY akan menggelontorkan dana segar sebagai logistik bantuan kepada Prabowo.

Bergitu pula dengan PKS yang keras menyatakan tetap mendukung Salim Segaf, padahal banyak yang mengatahui, sejumlah tokoh Islam seperti Hasyim Muzadi, Solahudin Wahid yang nyatanya lebih populer juga terpental dari kontestasi Pilpres di tahun-tahun sebelumnya.

Terlebih PAN yang mengajukan UAS sebagai jalan tengah. Hal ini menggambarkan bahwa Prabowo jelas dikerjain tiga parpol tersebut, karna satu kata saja yang menggambarkan Prabowo yakni ‘tak memiliki logistik’.

Prabowo seharusnya bisa belajar dari Gusdur, dimana tak mengutamakan logistik, melainkan kekuatan logika dimana memberikan kenyamanan parpol atas kursi kabinet sebelum pilpres dimulai. Atau belajar dari kemenangan Mahathir Mohammad di Malaysia, dimana hanya memiliki logistik perang hanya 1/40 dari incumbent Najib Razak. Militansi Mahathir dan pendukungnya menjadi modal tak terkalahkan.

PAN jelas mengancam hengkang, PKS menahan diri, Demokrat mencari cela untuk melanjutkan karir AHY apapun yang terjadi, sementara Gerindra menunggu durian jatuh. Prabowo harus segera memastikan diri siapa cawapresnya di luar para tokoh yang disodorkan oleh parpol koalisi pendukungnya. Atau sekaligus memberikan kepercayaan kepada tokoh lain sebagai capres, agar dapat memenangkan kontestasi tersebut.

Mengingat kondisi ekonomi, SARA, saat ini masih belum terselesaikan dengan baik oleh pemerintah karena masih belum memiliki solusi yang tepat. Hal ini akan menjadikan jurus tepat bagi tokoh yang pas pada saat pemaparan visi dan misi di debat capres mendatang, dan merupakan kelemahan bagi petahana, karena akan mengalami kesulitan menjawabnya. Disinilah letak nilai lebih calon lain dari Prabowo yang akan memaparkannya bagaimana seharusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat berjalan dengan baik, serta membangun budaya bangsa serta menjalankan politik dengan cara yang sehat.

Jika ingin memenangkan pilpres 2019 mendatang, Prabowo pilih ‘Logistik, atau Logika’ karena masyakrat membutuhkan sebuah perubahan secara siginifikan. [swa]

*Penulis adalah Pemerhati sosial

Loading...
loading...