Tak Hanya Jabar, Jokowi Diprediksi Kian Sulit di Kandang Banteng
logo

2 Juli 2018

Tak Hanya Jabar, Jokowi Diprediksi Kian Sulit di Kandang Banteng

Tak Hanya Jabar, Jokowi Diprediksi Kian Sulit di Kandang Banteng


GELORA.CO - Perolehan suara pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat membuat pengurus Partai Gerindra semringah. Mereka yakin Prabowo Subianto akan memperoleh kemenangan di Bumi Pasundan saat pemilihan presiden dan wakil presiden pada 2019.

"Kalau Pak Prabowo maju, kami yakin suara makin besar khusus di Jawa Barat," kata Wakil Ketua Bidang Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan Gerindra Jabar Bucky Wikagoe.

Pasangan Asyik, yang diusung Partai Gerindra dan PKS, dalam hitung cepat infopemilu.kpu.go.id hingga pukul 18.45 WIB, Jumat (29/6/2018), mendapatkan 28,45% (5.906.216 suara) dari 95 persen total suara yang masuk.

Perolehan suara pasangan Asyik ini di luar prediksi. Sebelum hari pencoblosan, sejumlah lembaga survei meramal perolehan suara pasangan nomor urut 3 itu selalu di bawah 10 persen.

Hasil mengejutkan juga terjadi di Pilgub Jawa Tengah. Pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah, yang diramal mendapat suara di bawah 30 persen, ternyata memperoleh 7.207.536 suara (41,20%). Data ini dikutip dari hasil hitung cepat KPU di wilayah Jawa Tengah hingga Jumat (29/6), pukul 18.15 WIB, dengan data masuk 99,23%.

Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes mengatakan hasil pilgub di Jabar dan Jateng menunjukkan konsolidasi partai koalisi non-pemerintah, yakni Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, dan PAN, berjalan cukup baik. Kader partai-partai tersebut memiliki loyalitas yang tinggi untuk memilih kandidat yang diusung elite mereka.

"Kita ambil contoh Gerindra, PKS, plus PAN, konsolidasi partai-partai non-pemerintahan, meski kalah, tapi tingkat loyalitas kepada kandidat yang didukung partai itu cukup tinggi," kata Arya saat berbincang dengan detikcom, Senin (2/7).

Hal itu berbeda dengan pemilih PDIP. Di Jawa Barat, pemilih PDIP tak seluruhnya memberikan suara untuk pasangan Tb Hasanuddin-Anton Charliyan. Begitu juga di Jawa Tengah, di mana PDIP mengusung Ganjar Pranowo-Taj Yasin.

"Pemilih PDIP switching. Di Jawa Barat switching ke Ridwan Kamil, di Jawa Tengah switching ke Sudirman," kata Arya.

Hasil Pilkada Jawa Tengah dan Jawa Barat, lanjut Arya, menyebabkan peta pertarungan Pilpres 2019 akan bergeser. Sementara sebelumnya pertarungan Joko Widodo vs Prabowo Subianto hanya ketat di Jawa Barat, kini juga akan terjadi di Jawa Tengah. Hal ini lantaran perolehan suara Ganjar Pranowo-Taj Yasin yang diusung PDIP tidak dominan. Padahal Jawa Tengah selama ini dikenal sebagai 'kandang banteng' atau basis PDIP.

"Jokowi tak bisa melihat enteng calon penantang lain. Akan terjadi perubahan medan pertempuran, yang semula hanya di Jabar, kini juga akan ketat di Jateng," papar Arya.

Bagaimana dengan NasDem, partai pengusung Jokowi yang mendukung Ridwan Kamil, pemenang Pilgub Jawa Barat?

Saat deklarasi pencalonan, NasDem memang sudah meminta Ridwan Kamil mendukung dan memenangkan Jokowi di Pilpres 2019. Ketiga partai pengusung Ridwan Kamil lainnya, yakni PPP, PKB, dan Hanura, juga sudah resmi mendukung Jokowi.

Namun, kata Arya, perolehan suara Ridwan Kamil, yang biasa disapa Emil, di Pilgub Jawa Barat yang hanya 32 persen masih menjadi tantangan bagi Jokowi. Karena itu, berarti masih ada 68 persen pemilih Jawa Barat yang tidak memilih Jokowi.

Kalaupun ada irisan antara pemilih Ridwan Kamil dan Tb Hasanuddin, Arya memprediksi pertambahan jumlah pemilih Jokowi tak akan banyak. "Jawa Barat akan menjadi tambah sulit bagi Jokowi," terang Arya.[dtk]

Loading...
loading...