Soal Freeport, Rocky Gerung: Mama Wamena Tak Minta Saham, Haris Ceritakan Derita Ribuan Pekerja
logo

19 Juli 2018

Soal Freeport, Rocky Gerung: Mama Wamena Tak Minta Saham, Haris Ceritakan Derita Ribuan Pekerja

Soal Freeport, Rocky Gerung: Mama Wamena Tak Minta Saham, Haris Ceritakan Derita Ribuan Pekerja


GELORA.CO - Mantan Dosen Filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung menyampaikan pendapatnya soal divestasi 51 persen saham PT Freeport Indonesia oleh pemerintah.

Dilansir TribunWow.com, hal itu dikatakannya melalui akun YouTube Indonesia Lawyers Club tvOne yang diunggah pada Selasa (17/7/2018) dengan judul 'Rocky Gerung: Kuasai 51 Persen Saham Freeport adalah H-O-A-X'.

Menurut Rocky Gerung, divestasi Freeport melalui Head of Agreement (HoA) dengan PT Inalum cuma kebohongan belaka.

"Tinggalkan aja 51 persen itu bukan hasil HoA tapi itu hoaks karena enggak begitu ternyata," kata Rocky

Lebih lanjut, dirinya menyampaikan teori resource curse untuk membahas mengenai persoalan Freeport.

"Ada teori yang mengatakan kalau satu negara berlebih sumber dayanya, maka negara itu tidak akan bertumbuh baik ekonominya dan demokrasinya akan rusak," imbuh Rocky.

Rocky menyebut bahwa divestasi Freeport bukan soal nasionalisme tapi lebih kepada budaya di Papua.

Menurut Rocky, yang diinginkan rakyat Papua justru Freeport ditutup.

"Debatnya bukan soal berapa persen kita dapat dari Freeport, yang 10 persen itu diminta nggak sama Papua? Mama Wamena tidak minta saham, tapi minta Freeport ditutup," kata Rocky.

"Cara berpikir itu yang kita aktifkan. Kita dipalsukan isu nasionalisme sementara sumber dari kekerasan adanya Freeport di Papua."



Sementara itu, pengacara 8.000 karyawan Freeport yang di PHK, Haris Azhar mengatakan jika divestasi PT Freeport tidak saja berbicara sekedar jumlah uang.

Menurutnya, ada persoalan yang lebih penting ketimbang itu, yakni masalah kemanusiaan dan lingkungan.

"Ada delapan ribu lebih karyawan yang sudah 15 bulan diputus hubungan kerja (PHK). Mereka tidak diberi jaminan apapun, akses BPJS ditutup," kata Haris.

Menurutnya, persoalan itu sudah dilaporkan hingga ke Komnas Hak Azaasi Manusia (HAM), bahkan hingga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) namun tidak ada jawaban.

"Orang yang dipecat itu adalah orang Papua, mereka hidupnya susah dan menderita. Harusnya ini (divestasi saham) tidak perlu dibangga-banggakan, ini normal," ujar Haris.

"Jadi tidak semata-mata mencari uang tapi menyelamatkan manusia menyelamatkan lingkungan. Menurut saya, kita harus menghargai hak masyarakat adat, hak wilayah orang papua, tenaga kerja orang papua."



Atas penjelasan itu, seorang netizen dengan akun @Marthen31274084 memberikan ucapan terima kasih kepada dua tokoh tersebut lantaran membeberkan fakta yang terjadi di Papua.

"Kami berterimakasih pada Pak HARIZ AZHAR & Pak ROCKY GERUNG.

Hariz bicara fakta soal situasi di Papua. 
Rocky bicara Antropologi Budaya Papua. 
Tanah itu Mama. Mama dihancurkan, tempat sakral lenyap, tanah jadi lubang trowongan.

Masyarakat adat Meepago tidak kenal Ali Ngabalin," ujar akun @Marthen31274084.




"Penjelasan Antropologi Budaya orang Papua oleh Pak @rockygerung sangat luar biasa. Sangat tepat dan kami orang Papua Bangga.

Sepanjang sejarah, satu2nya Tokoh Nasional yg bicara antropologi budaya Papua.

Papua tak butuh Pembangunan dan Kekayaan dikuras. Papua butuh KEDAMAIAN," imbuh dia.




Loading...

Komentar Pembaca

loading...