Koalisi Demokrat-Gerindra, Low Cost High Performance

Koalisi Demokrat-Gerindra, Low Cost High Performance

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Kemungkinan koalisi Partai Demokrat dengan Partai Gerindra dengan mengusung Prabowo Subianto-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) diibaratkan Pilgub Jawa Timur.

"Prabowo hampir sama seperti Khofifah (Cagub Jatim). Sudah dua kali berkontestasi dan dua kali juga kalah," kata anggota Dewan Pakar Jaringan Nusantara, Jansen Sitindaon, lewat surat elektronik, Sabtu (7/7).

Mengapa demikian? Karena, seperti Khofifah yang pernah kalah dua kali Pilgub Jawa Timur, Prabowo pun selalu berlawanan dengan calon yang didukung Ketum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam dua kali pemilihan presiden. 

"Dua kali pilpres tidak pernah didukung dan bahkan jadi penantang SBY, dan hasilnya, dua kali Prabowo kalah. Pada kontestasi ketiga di Pilgub Jatim, Khofifah akhirnya berhasil menang dan menjadi Gubernur, karena didukung SBY. Sepertinya Prabowo juga akan bisa menjadi Presiden pada Pilpres ketiga-nya, jika SBY mendukung," urai Jansen. 

SBY seperti "puzzel" yang hilang untuk Khofifah dan Prabowo. Di luar itu, yang menjadi persoalan bagi Khofifah dan Prabowo juga sama, pada posisi wakil. Wakil yang digandeng sebelumnya tidak mampu hadir sebagai "vote getters" atau pendulang suara. Tidak punya efek kejut, segmen pemilihnya juga tidak jelas. Sehingga mentok. 

"Kalau dianalogikan, AHY punya kesamaan dengan Emil (pendamping Khofifah) di sisi ini. Basis pemilih milenial, anak muda mayoritas di Pilpres 2019 besok," tambah Jansen.

Untuk urusan logistik, menurutnya, yang dilakukan Prabowo dan Gerindra dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam penggalangan dana bisa dijadikan alat ukur sejauh mana antusiasme dan dukungan masyarakat kepada Prabowo sebagai capres. Sekaligus, bisa juga sebagai pembanding untuk mengukur angka dukungan terhadap Prabowo yang terlihat dari berbagai survei. 

Hal yang menarik juga adalah masyarakat akan sangat bersimpatik dengan usaha Prabowo menggalang dana. Diisukan tidak punya logistik untuk nyapres, Prabowo menunjukkan kemandiriannya. Ia bebas dari dukungan asing dan aseng.

Lanjutnya, duet Prabowo-AHY juga mampu menekan kebutuhan logistik pilpres. Mereka didukung dua partai besar yang telah melebihi syarat pencalonan sehingga tidak membutuhkan "mahar". Jaringan Partai Demokrat dan Gerindra juga sudah lengkap berdiri di seluruh pelosok Indonesia. Sehingga, biaya saksi yang biasanya menguras logistik pasti akan minimal. Jadi, Prabowo-AH hadir sebagai simbol capres dan cawapres "berdaulat", bukan boneka sokongan asing dan aseng. 

"Dua partai besar bersatu, mengusung kader terbaiknya, pastilah juga akan memunculkan semangat 'spartan' tersendiri di kader kedua partai. Inilah yang dinamakan Demokrat-Gerindra bersatu, low cost high performance," tutupnya. [rmol]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita