logo

29 Juli 2018

Ketika Polri Kalah Dengan Anarkisme, Indonesia Dapat Apa?

Ketika Polri Kalah Dengan Anarkisme, Indonesia Dapat Apa?


OLEH: TEUKU GANDAWAN

MASIH belum lekang dari benak dan ingatan kita tentang kasus Ahok menista Al-Maidah:51.

Saat itu kita harus kecewa sepenuh hati dengan kinerja Polri. Bukannya bersegera menegakkan hukum, Kapolri Tito bahkan menyempatkan diri 'membela' Ahok dengan coba menjelaskan kalimat Ahok.

Tak cukup sampai di situ, Aksi Bela Islam yang menuntut penegakan hukum positif yang berlaku, malah dihadang di sana-sini. Sementara massa pro Ahok malah dibiarkan membuat keonaran setiap kali persidangan dengan kegaduhan mereka.

Puncaknya LP Cipinang digeruduk mereka, Polri malah menyerah kalah dan meminta Ahok ditahan di Rutan Mako Brimob.

Pada waktu lain kita juga dikejutkan dengan mudahnya sekelompok massa bersenjata tajam dengan atribut Suku Dayak menduduki bandara dan landasan Sintang, untuk menolak kehadiran Ustadz Tengku Zulkarnaen yang akan berdakwah sesuai dengan undangan pihak lokal. Kita terbodoh melihat bagaimana Polri lagi-lagi kalah dengan sikap anarki. Tak ada pihak bersenjata yang diamankan aparat.

Di Kabupaten Garut, Ustadz Bachtiar Nasir juga pernah mengalami penolakan tak jelas dari organisasi tertentu. Tak jelas ujung pangkalnya. Bachtiar Nasir yang berulang kali berorasi di Aksi Bela Islam yang penuh damai, dituduh menyebar kebencian.

Walau akhirnya malah Tabligh Akbar berhasil digelar di Garut, namun kejadian awal sempat mendapat dukungan dari aparat setempat. Siapa sebenarnya yang menyebar kebencian?

Beberapa hari lalu, Ustadz Abdul Somad ditolak rencana berceramah di Semarang pada akhir bulan Juli ini. Alasannyapun kembali mengada-ada. Tuduhan penyebaran kebencian kembali menjadi kata kunci. Menggelikan! Ustadz yang pernah dijemput khusus agar bisa berceramah di depan jajaran TNI AD dituding menyebar kebencian. Lagi-lagi aparat enggan bersikap tegas atas kekonyolan ini. Apa yang kita dapat dengan keganjilan-keganjilan respon aparat seperti ini?

Yang terbaru dan hangat adalah kabar buruk tadi malam dari Bandara Hang Nadim. Neno Warisman dicegah keluar bandara dan malah berkesan disekap oleh aparat, bukan diamankan. Diamankan tentulah mendapat perlindungan dan dukungan fasilitas. Tapi yang terjadi Neno Warisman bahkan kesulitan untuk mendapatkan makanan di tengah pengawalan aparat.

Kenapa Neno yang diamankan? Kenapa bukan kelompok persekusi yang dibubarkan dan ditangkap? Apakah aparat memandang hak berdemokrasi kini hanya milik kaum anarkis?

Polri kalah terus menerus melawan anarkisme atau mungkin lebih tepat, Polri terus berdamai dengan anarkisme.

Kenapa? Apa manfaat yang didapat bangsa ini dengan membiarkan anarkisme bertindak sesuka hati mereka? Apakah Polri ingin menggeser status negara hukum menjadi negara preman? Indonesia dapat apa dari perilaku aparat yang terus melakukan pembiaran premanisme? Apakah rakyat butuh premanisme? Atau apakah penguasa saat ini lebih suka premanisme merajalela? Indonesia dapat apa? [***]


 Penulis adalah Direktur Eksekutif Strategi Indonesia [rmol]

Loading...
loading...