logo

17 Mei 2018

3 Hari sebelum Kejadian Ada Sesuatu, Guru Muhammadiyah Bocorkan Perilaku Anak Bomber Gereja Surabaya

3 Hari sebelum Kejadian Ada Sesuatu, Guru Muhammadiyah Bocorkan Perilaku Anak Bomber Gereja Surabaya

Kepala SMP Kreatif Muhammadiyah 18 Ari Sutikno menunjukkan tempat duduk Firman Halim di kelasnya, Selasa (15/5).

www.gelora.co - Dua Anak Bomber Gereja Surabaya, Dita Oepriarto dan Puji Kuswati tercatat menjadi murid SMP Kreatif Muhammadiyah 18 Surabaya.

Namun siapa sangka, Firman Halim dan kakaknya, Yusuf Fadhil itu adalah murid-murid yang cukup berprestasi di sekolahnya.

Selain itu, pelaku bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel Madya, itu juga aktif dalam organisasi.

Suasana SMP Kreatif Muhammadiyah 18 sendiri sampai dengan kemarin, masih dirundung sedih. Tidak ada aktivitas belajar-mengajar.

Seluruh murid diliburkan atas perintah Wali Kota Tri Rismaharini.

Hanya ada staf dan guru yang stand by menerima tamu.

Jawa Pos bertemu Kepala Sekolah Ari Sutikno dan Wali Kelas IX Hafidatur Romla. Keduanya merasa tak percaya siswanya, Firman Halim, terlibat aksi bom bunuh diri sekeluarga.

Bukan hanya Firman. Sekolah tersebut juga kehilangan Yusuf Fadhil. Kakak Firman itu adalah alumnus sekolah tersebut. Jika Firman kelas IX, Fadhil kelas XI.

Keduanya dikenal akrab dengan guru, staf, dan siswa di sekolah. Tidak ada catatan buruk yang mereka buat.

Saat bercerita, Romla berkali-kali mengusap mata dengan kerudung besarnya. Dia berusaha menahan air mata agar tidak tumpah.

“Sampai sekarang saya tidak menyangka,” kata Romla.

Ari menggambarkan, dua anak laki-laki bomber Dita Oepriarto itu adalah siswa teladan, berprestasi dan aktif berorganisasi.

Firman baru menyelesaikan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) dan ujian sekolah berstandar nasional (USBN).

Firman juga pernah menjadi juara I Tapak Suci tingkat SMP Muhammadiyah dan masuk tim inti sepak bola sekolah.

“Dua-duanya pernah menjadi ketua IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah). Kalau di sekolah umum seperti OSIS,” ungkap Ari.

Pertemuan terakhir Romla dengan Firman terjadi ketika sekolah mengadakan liburan bersama di Gunung Bromo pada 8-10 Mei lalu.

Alias hanya tiga hari sebelum Firman melakukan aksi bom bunuh diri itu.

Tidak ada yang janggal. Remaja 16 tahun tersebut bersikap seperti bisa. Main dengan teman-teman sekelasnya. Dia juga perhatian pada Romla.

“Pas kami makan kelapa muda bareng, Firman yang memecahkan kelapanya,” kata Romla.

Firman dikenal sosok yang murah senyum, berkarisma, dan suka menolong. Karena itu, dia disukai.

Bahkan, ada angket yang dibuat guru bimbingan konseling (BK) untuk memilih siswa idola. Firman termasuk salah satu pilihan.

“Ada bukti catatannya. Nama Firman pasti ada. Karena dia itu seperti punya wibawa dan sumeh,” ujarnya.

Romla menyatakan, tindakan bom bunuh diri yang dilakukan Firman di Gereja Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Madya pada Minggu lalu itu sangat berbeda dari kebiasaan di sekolah.

“Dia itu seperti anak pada umumnya. Yang dibahas di kelas bersama teman di luar pelajaran ya mainan. Games. Normal,” ujar Waka SMP Kreatif Muhammadiyah 18 itu.

Romla meluruskan rumor yang beredar bahwa Firman tidak pernah mengikuti mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn).

Firman juga tidak pernah absen mengikuti upacara bendera. Dia bahkan pernah menjadi salah seorang petugas upacara.

“Firman rajin ikut mapel PKn. Kalau sering mbolos, pasti tidak bisa masuk tiga besar di kelas,” katanya.

Firman hobi fotografi. Dia memiliki Instagram khusus untuk menampilkan karya fotonya. Dia juga aktif di Facebook.

Namun, di seluruh isi Facebook-nya, tidak ada sama sekali foto diri maupun keluarganya.

Justru diisi foto-foto teman-teman sekolahnya dari hasil jepretannya.

“Tidak pernah ada fotonya. Dia tidak suka difoto, tapi suka motret orang lain,” ujar Romla.

Begitu pun Fadhil. Dia aktif menggunakan Line untuk komunikasi dengan teman-temannya. Beberapa kali Fadhil membuat status dengan kode-kode angka tertentu.

Yang terakhir adalah posting-an kode 463. Lost.. Kemudian, diikuti website sebuah game online.

“Ini statusnya terakhir. Enggak tahu maksudnya apa,” kata Romla.

Ruang kelas Firman berada di lantai 2 gedung utama. Romla dan Ari mengantar Jawa Pos ke sana.

Ada 13 meja, termasuk satu meja guru. Firman biasanya duduk di meja paling depan sisi kiri. Tepatnya meja deret kedua.

“Ya, di sini tempat duduknya,” kata Ari.

Romla yang sejak tadi terlihat masih shock memilih duduk di kursi guru. Ari menata meja di ruang kelas tersebut.

“Di meja inilah Firman aktif di kelas,” ujarnya menunjuk posisi Firman di kelas.

Ruangan tersebut hanya diisi 12 siswa. Firman sangat dekat dengan seluruh temannya. Mereka belajar dan bermain bersama.

“Karena mungkin sedikit ya siswanya, jadi semuanya dekat. Bahkan, adik tingkat juga akrab semua,” imbuhnya.

Kini Firman tidak lagi ada di tengah-tengah mereka. Meski merasa kehilangan, bukan berarti sekolah mendukung aksi bom bunuh diri yang dilakukan Firman bersama kakaknya itu.

“Kami meyakini, Firman di sekolah adalah anak yang santun dan baik. Bukan seperti yang dilakukan saat bom bunuh diri. Mungkin sudah didoktrin oleh orang tuanya,” tegas Ari.

Saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan seluruh pimpinan Muhammadiyah Jatim maupun Surabaya terkait kasus tersebut.

Komite sekolah membantu meredam emosi wali murid. Para guru saling memberikan semangat agar tidak sampai tertekan oleh bullying dari masyarakat.

Romla menceritakan, pascabom, sekolah itu menerima banyak hujatan di media sosial. Bukan hanya guru, melainkan juga murid-muridnya.

Sebuah hal yang tak layak mereka terima.

“Dampaknya sangat besar bagi sekolah. Kami berusaha diam dulu,” ujarnya.

Sejumlah siswa mengalami tekanan psikologis. Karena itu, minggu ini sekolah akan melakukan pendampingan dengan menghadirkan psikolog.

“Anak-anak kini malah jadi perang medsos. Ini tidak kami inginkan,” kata dia. [psid]

Loading...
loading...