22 Maret 2018

High Blood Pressure dan Latarbekalang Premanisme-Militeristik

<i>High Blood Pressure</i> dan Latarbekalang Premanisme-Militeristik


Oleh: Asyari Usman*

Tekanan darah tinggi (high blood pressure) antara lain disebabkan oleh beban kerja dan juga kegelisahan. Yang juga biasa menjadi penyebabnya adalah kekhawatiran terhadap masa depan, terutama masa depan boss Anda jika Anda berada di lingkungan birokrasi atau korporasi.

Sebagai contoh, kalau pemegang saham (korporasi) atau rakyat (untuk birokrasi) mencabut mandat boss Anda, atau telah terlihat gejala pencabutan mandat itu, maka kegelisahan Anda akan langsung memicu tekan darah. Anda takut si boss (CEO) atau president (director) akan dipecat atau dicabut mandatnya.

Gejalanya macam-macam. Bisa bicara ngawur (hilang kontrol) atau malah tak bisa berbicara alias kelu. Menurut satu penilitian, seseorang yang memiliki latar belakang keras, seperti lingkungan pergaulan premanisme, atau militeristik, lebih cenderung suka mengamuk bagaikan hilang akal bilamana high blood pressure muncul.

Dalam hal ini, “anxiety” (kegelisahan) yang dialaminya membuat dia mengalami “violent disorder relapse” (kambuh penyakit kekerasan). Ketika berhadapan dengan kegalauan, orang ini biasanya akan mendahulukan ototnya karena kehilangan fungsi otak. Ia selalu disungkup rasa curiga terhadap siapa saja. Rasa “insecure” (tak aman) selalu membayanginya.

Penelitian lain menyebutkan, perilaku “high blood pressure” bisa juga dipicu oleh sengatan nyamuk hutan belantara. Setelah itu, pembawaan korban biasanya suka marah-marah dan mudah mengeluarkan ancaman. Tetapi, temuan in tidak bisa diverifikasikan karena ada hal-hal yang tak bisa diungkapkan secara terbuka.

Namun, sejumlah pakar kesehatan jiwa yang melakukan penelitian di kawasan Amazon, menemukan bahwa serangan malaria tropicana lewat nyamuk hutan “virgin” bisa menyebabkan seseorang terjangkit “permanent violent disorder” (penyakit ngamuk permanen). Mereka berkata, tidak ditemukan bukti kuat apakah gigitan nyamuk ini menyebabkan tekanan darah tinggi.

Mereka menambahkan, tentara yang melakukan latihan militer di hutan atau ditugaskan di medan perang berhutan, sangat rentan terkena gigitan nyamuk yang disebut “amazon supermosquito”. Nyamuk ini ditemukan juga di hutan sekitar lokasi Freeport di Papua. Anehnya, kata para peneliti itu, korban supermosquito yang “dirawat” oleh Freeport bisa sembuh dari radang marah-marah. Pihak Freeport tidak bersedia menyebutkan “terapi” apa yang mereka lakukan.

Dikatakan lebih lanjut, “permanent violent disorder” biasanya tak bisa diobati kalau para tentara yang terkena gigitan nyamuk super itu, berhasil bertahan sampai menjadi jenderal. Ini pun tak diketahui penyebabnya.

Hanya saja para peneliti itu menyarankan agar para jenderal supermosquito tidak diberi jabatan lagi setelah pensiun. Terutama kalau mereka telah memasuki usia 70-an.

PENTING!
1. Semua aspek ilmiah di dalam tulisan ini tidak akan ditemukan di Google.
2. Jangan baca tulisan ini setelah makan. [swa]

*Penulis adalah wartawan senior

under construction
loading...