18 Februari 2018

Pengamat : Pernyataan Fadli dan Fahri Soal UU MD3 di Luar Nalar Dan Irasional

Pengamat : Pernyataan Fadli dan Fahri Soal UU MD3 di Luar Nalar Dan Irasional

www.gelora.co - Saat ini kebebasan pers seakan dipasung. Sepertinya freedom of speech (kebebasan berbicara) sudah tidak ada lagi di negeri ini.

Betapa tidak, DPR akan mengesahkan Undang-Undang MD3, yang mana ada larangan mengeritik DPR. Ada delapan partai yang setuju UU disahkan. Yang menolak Partai Nasdem dan PPP.

Menurut pengamat politik Indonesian Public Institute Jerry Massie DPR dalam hal ini harus tahu domainnya apa serta tupoksinya jangan main tubruk saja.

"Pernyataan Fadli Zon dan Fahri Hamzah di luar nalar dan irasional. Wong ngertilah. UU MD3 itu berlaku dimana? kepada siapa beda dengan UU KHUP, keppres, kepmen dan sebagainya," ujar Jerry kepada Suara.com, hari ini.

Menurut dia kritikan wajar saja, kalau tidak dikritik pasti ada alasannya. Contoh, warga mempertanyakan dana untuk reses bahkan hearing DPR kan harus transparan ke publik.

"Jika masyarakat mengeritik kinerja DPR wajarlah. Mereka itu wakil rakyat. Ini sudah mengarah ke otiriter dan diktator," kata dia.

Jerry mengapresiasi pernyataan Ketua DPR Bambang Soesatyo yang mempertaruhkan jabatan untuk rakyat, termasuk wartawan yang kritik DPR lalu dijebloskan ke penjara.

"Saya dukung statement atau pernyataan Bamsoet kawan saya, bedakan menghina dan mengkritik. Kalau kritik membangun wajar saja," ujar Jerry.

Dia menambahkan, kata kritik dalam bahasa Inggrisnya critic atau C = Care (peduli pada seseorang), R = respectful (rasa hormat), I = Input (masukan yang positif), t = (waktu yang tepat), I = Inspire (memberikan inspirasi) dan C = constructive (membangun bukan menjatuhkan).

Jadi siapapun pejabat di dunia ini tak akan terhindar dari namanya kritik.

"Jadi pemimpin harus gentle, jangan pernah pasung kebebasan pers. wartawan punya UU Pers Nomor 40 Tahun 1999. Seyogyanya mereka bekerjasama dengan baik. Bagaimana kalau jurnalis memblokir pemberitaan di DPR? Ataupun memboikot berita-berita di DPR."

Jerry menambahkan mereka populer lantaran media dan justru itu jangan arogan serta antipati terhadap kritikan masyarakat dan jurnalis. (sa)

under reconstruction