$hide=post-mobile

$type=grid$count=4$ico=1$cate=0$rm=0$sn=0$cm=0$m=0$show=home$hide=mobile$tbg=rgba(27,54,130,1)

$hide=post-label-search-archive-page-404

Andai Kartu Kuning Zaadit Taqwa Untuk Umar Bin Khattab

SHARE:


www.gelora.co - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Zaadit Taqwa mengatakan, kartu kuning itu diberikan kepada Jokowi sebagi bentuk peringatan atas berbagai masalah yang terjadi di dalam negeri. Lebih lanjut Zaadit mengatakan sudah seharusnya Presiden Joko Widodo diberi peringatan untuk melakukan evaluasi di tahun keempatnya.

Masalah tersebut adalah isu gizi buruk di Asmat, isu penghidupan kembali dwifungsi Polri/TNI, dan penerapan peraturan baru organisasi mahasiswa. "Masih banyak isu yang membuat masyarakat resah atas kondisi Indonesia" kata Zaadit. Dengan demikian, peluit dan kartu kuning Zaadit bukan hanya masalah suku Asmat, juga bukan hanya dwifungsi Polri/TNI dan organisasi kemahasiswaan saja, namun banyak permasalahan bangsa.

Esensi kartu kuning Zaadit adalah masalah kepemimpinan. Ada beberapa respons, menurut pendapat saya lebih ke arah politik, dengan pembelaan yang sempit. Zaadit tidak menanyakan apa upaya penanganan pasca bencana kemanusiaan di Asmat. Nafas pertanyaan Zaadit "mengapa hal itu bisa terjadi?" Kegalauan Zaadit juga tidak hanya isu Asmat. Cermati kata Zaadit: "Masih banyak isu yang membuat masyarakat resah atas kondisi Indonesia".

Beberapa Menteri mendukung maksud Presiden untuk mengajak BEM UI datang ke suku Asmat. Menurut saya, ajakan tersebut belum menjawab esensi kartu kuning Zaadit, tentang kepemimpinan dan permasalahan bangsa lainnya. Terkait isu Asmat, menurut saya yang pas jika pemerintah membeberkan bagaimana kondisi faktual, narasi program, pelaksaaan dan pengawasan selama ini. Bukan mengajak Zaadit dkk kunjungan ke Asmat, dan dengan lincah mengatakan pemerintah tidak salah.

Surat terbuka dari dokter di Papua untuk Ketua BEM UI, dari Yafet Yanri Sirupang, melalui akun FB-nya, yang viral di medsos, antara lain Yafet minta Zaadit sebagai mahasiswa untuk tidak berkoar-koar tanpa mengetahui realita di lapangan (jurnalindonesia.co.id/surat-terbuka-dari-dokter…). Menurut saya, Yafet berbeda dalam mengartikan kartu kuning Zaadit. Yafet menulis "Ia juga menyesalkan permasalahan gizi buruk selalu mengkambinghitamkan sektor kesehatan…dst". Sebuah narasi pembelaan dari korps dokter.

Lebih lanjut Yafet menulis, kasus gizi buruk di Papua sudah dari dulu terjadi. Gizi buruk karena tidak cukupnya asupan makanan dan penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung, kurangnya ketersediaan pangan, pola asuh tidak memadai, kesehatan lingkungan dan perilaku hidup sehat. Apa yang ditulis Yafet tersebut tidak mungkin Zaadit dkk tidak ngerti, walau belum pernah nginjak Papua.

Karena kondisi faktual itulah, Indonesia perlu Presiden dan Menteri untuk mengatasinya. Andaikan penangan pasca tragedi kemanusiaan, seperti mengedrop makanan bergizi, mengirim tenaga kesehatan dll dilakukan sebelum tragedi, tentu bencana kemanusiaan bisa dihindari. Pertanyaan kritisnya, jika kita bisa ngedrop makanan, mengapa tidak dilakukan sebelum nyawa terenggut? Apabila bisa mengerahkan relawan untuk kepentingan politik dan pesta, mengapa kita tidak ngedrop relawan untuk memberikan penyuluhan? Sebaiknya kita tidak berlindung, gizi buruk sudah ada sejak dulu sebagai alasan, karena itu alasan yang tidak cerdas.

Ada lagi yang salah mengartikan kartu kuning Zaadit, sehingga menjadi lucu namun menyedihkan. Di salah satu FB yang juga viral ditulis kurang lebih sbb: "…. Kalau boleh saya hanya ingin tanya pada pak Azzam, apa anda tidak tahu di saat Ketua BEM UI terkenal di Depok ini baru berlagak menyemprot Presiden soal Asmat, UGM sudah mengirim … dst. Sudahkah anda dengar berita Universitas Hasanudin Makasar yang memberangkatkan 19 orang tim tanggap darurat ke Kabupaten Asmat… dst".

Azzam adalah CEO AMI Foundation yang memberikan apresiasi kepada Zaadit, dengan mengajak umroh. Dimana lucu namun menyedihkan dari komentar di atas? Bagaimana tidak, ibaratnya Zaadit menanyakan "mengapa hal itu bisa terjadi" sebagai bentuk gugatan dari sebuah pertanggungjawaban kepemimpinan, direspons cerita universitasnya dan universitas lain sudah datang menangani. Mengapa menjadi unjuk diri bahwa saya sudah mengabdi dan persaingan antar perguruan tinggi?

Kritik kartu kuning Zaadit mengingatkan saya, riwayat Khalifah Umar Bin Khattab yang dicintai dan mencintai rakyatnya disemprot ibu yang lusuh: "Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku yang kelaparan. Inilah kejahatan Khalifah Umar Bin Khattab. Ia tak mau lihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum". Hati Umar tergoncang sedih, dan air matanya menetes, berkata lembut berpamit pulang ke Madinah.

Aslam yang menemani Khalifah Umar, melihat Umar terseo-seok memanggul karung gandum untuk ibu dan anak yang kelaparan. Ia merasa iba dan berkata "Wahai Amirul Mukminin, biar aku saja yang memikul karung itu". Betapa terkejut Aslam, melihat Umar Bin Khattab merah padam dan berkata "Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?" Aslam kaget dan terhenyak. Menelentarakan kaum papa, menuntun ke neraka.

Esoknya, si ibu menghadap Khalifah Umar. Si ibu terkejut, ternyata yang memberi gandum dan memasak makanan tadi malam Umar Bin Khattab. Berkatalah si Ibu "Aku mohon maaf, Aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum". Dengan lembut Umar menjawab "Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku di hadapan Allah SWT mempertanggungjawabkan hal ini? Aku yang minta maaf kepada ibu".

Andaikan Zaadit hidup di era Khalifah Umar Bin Khattab, dan kartu kuning Zaadit untuk Umar Bin Khattab, saya yakin Zaadit dan Universitas Indonesia walau minta maaf, Umar Bin Khattab tidak akan menerimanya. Justru Umar Bin Khattab yang minta maaf dan mengucapkan terima kasih, atas peringatan untuk dirinya. Itulah nilai-nilai kepemimpinan yang dilandasi ajaran agama. Akankah pemimpin-pemimpin kita seperti itu ? InsyaAllah, amin.

OLEH: PRIJANTO

Penulis adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta 2007-2012/Deklarator Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI) [rmol]

TERKAIT:
loading...
Nama

AUTO,1,DAERAH,82,EKBIS,341,ekonomi,8,GLOBAL,480,HEADLINE,1151,HUKUM,1085,internasional,17,KESEHATAN,12,KHAZANAH,72,KRIMINAL,119,LIFESTYLE,2,METRO,296,metropolitan,1,NASIONAL,2554,OPINI,127,PERISTIWA,1142,POLITIK,1260,SELEB,147,SPORT,27,TEKNO,3,
ltr
item
Gelora.co: Andai Kartu Kuning Zaadit Taqwa Untuk Umar Bin Khattab
Andai Kartu Kuning Zaadit Taqwa Untuk Umar Bin Khattab
Walau minta maaf, Umar Bin Khattab tidak akan menerimanya
https://4.bp.blogspot.com/-aq5MC_PQZ1Y/WnknVs5-CJI/AAAAAAAA11E/X0BpA3cykTEqC4k0P166Na3Vzcmy6hzwQCLcBGAs/s640/937586_10321506022018_prijanto.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-aq5MC_PQZ1Y/WnknVs5-CJI/AAAAAAAA11E/X0BpA3cykTEqC4k0P166Na3Vzcmy6hzwQCLcBGAs/s72-c/937586_10321506022018_prijanto.jpg
Gelora.co
http://www.gelora.co/2018/02/andai-kartu-kuning-zaadit-taqwa-untuk.html
http://www.gelora.co/
http://www.gelora.co/
http://www.gelora.co/2018/02/andai-kartu-kuning-zaadit-taqwa-untuk.html
true
6611013162495397307
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By HOME PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request ke Halaman Utama Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy