Disorot Dugaan Nepotisme, Akhirnya Dua Anak Menhaj Mundur dari Jabatan Tenaga Ahli -->

Disorot Dugaan Nepotisme, Akhirnya Dua Anak Menhaj Mundur dari Jabatan Tenaga Ahli

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Dua anak Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf, Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz, resmi mundur dari jabatan tenaga ahli di lingkungan Kementerian Haji dan Umrah. Keputusan ini diambil setelah pengangkatan keduanya menuai kritik publik dan dikaitkan dengan dugaan nepotisme.

Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, surat pengunduran diri keduanya telah diterima oleh pimpinan kementerian pada Senin (26/10/2026).

"Saya dan Pak Menteri sudah terima pengunduran diri dua orang tenaga ahli yang Anda sebut-sebut. Jadi secara resmi hari ini dua orang yang disebut di berita... beliau berdua memutuskan untuk mengundurkan diri," ujar Dahnil di kantornya, Jakarta Pusat.

Pengangkatan Barbarossa dan Gibran sebelumnya menjadi sorotan karena keduanya merupakan anak kandung Irfan Yusuf, yang akrab disapa Gus Irfan. Sejumlah warganet mempertanyakan pengangkatan tersebut dan mengaitkannya dengan praktik nepotisme.

Dahnil menyebut keputusan mundur itu diambil untuk menjaga integritas kementerian sekaligus merespons kegaduhan yang berkembang di masyarakat. Ia menegaskan, Kementerian Haji dan Umrah harus terbebas dari praktik yang melanggar etika.

"Itu juga untuk menjawab komitmen kami di Kementerian Haji dan Umrah untuk menjaga, memastikan integritas tetap harus terjaga. Dan itu adalah komitmen Pak Menteri dan komitmen saya untuk memastikan Kementerian Haji dan Umrah itu harus bebas dari praktik-praktik yang tidak beretika, praktik-praktik yang manipulatif, koruptif, perilaku mafia dan sebagainya," tegasnya.

Dahnil juga menjelaskan latar belakang keterlibatan kedua anak Menhaj. Menurut dia, keduanya mulai membantu ketika Badan Penyelenggara Haji (BP Haji) dibentuk pada akhir Oktober 2024. Saat itu, lembaga tersebut masih kekurangan sumber daya manusia dan belum memiliki struktur organisasi, kantor, maupun staf administrasi yang memadai.

"Keramaian kemarin terkait dengan dua tenaga ahli ini sebenarnya memang berangkat dari kebutuhan Kementerian Haji di awal-awal dulu. Ketika Badan Penyelenggara Haji memang tidak ada orang yang mau membantu kami sejak awal secara sukarela," ungkap Dahnil.

"Akhirnya salah duanya itu adalah anaknya Pak Menteri ikut membantu sejak awal, karena saya juga enggak ada yang membantu. Karena Badan Penyelenggara Haji itu hanya dua orang, yaitu Pak Menteri dan saya. Waktu itu mereka enggak bergaji," sambungnya.

Sebelumnya, Gus Irfan juga telah memberikan penjelasan terkait polemik tersebut. Ia menyebut anak-anaknya bersama sejumlah santri ikut membantu proses pembentukan BP Haji secara sukarela selama tiga hingga empat bulan.

Seiring perkembangan lembaga menjadi kementerian, sejumlah orang yang dinilai memiliki integritas dan kompetensi kemudian diangkat menjadi tenaga ahli.

Namun, setelah pengangkatan kedua putranya menuai sorotan, Barbarossa dan Gibran akhirnya memilih mundur. Posisi tenaga ahli yang ditinggalkan keduanya akan diisi personel baru sesuai kebijakan dan arahan Menteri Haji dan Umrah

BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan