Sudah Keracunan, Siswa Malah Disalahkan Makan MBG tapi Belum Sarapan -->

Sudah Keracunan, Siswa Malah Disalahkan Makan MBG tapi Belum Sarapan

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO  -- Pemilik Yayasan Budi Sain Mangkling, Khaeruddin, memberikan klarifikasi terkait dugaan keracunan makanan yang dikaitkan dengan hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelolanya.

Khaeruddin membantah anggapan bahwa seluruh proses pengolahan makanan di dapurnya tidak memenuhi standar.

Menurut dia, makanan telah dipersiapkan sejak dini hari dengan mengikuti prosedur operasional standar atau SOP, termasuk dalam proses pengolahan hingga pengemasan.

Ia mengatakan, makanan yang didistribusikan berupa kebab memiliki batas waktu aman untuk dikonsumsi.

Menurut Khaeruddin, makanan tersebut seharusnya sudah dikonsumsi sebelum pukul 09.00 WITA.

"Batas waktu aman konsumsi itu sebelum pukul 09.00 WITA. Kami juga sudah memberikan label peringatan pada setiap wadah makanan," kata Khaeruddin dalam keterangannya.

Khaeruddin menduga persoalan justru terjadi pada proses distribusi dan pembagian makanan di tingkat sekolah.

Ia menilai adanya keterlambatan antara waktu makanan selesai diproduksi hingga makanan dikonsumsi siswa perlu menjadi perhatian dalam mengevaluasi kejadian tersebut.

Terlebih, menu kebab yang dibagikan menggunakan campuran saus mayones.

Menurut Khaeruddin, jenis makanan tersebut membutuhkan perhatian lebih terhadap waktu konsumsi dan kondisi penyimpanannya.

Ia juga menyinggung kondisi sejumlah siswa yang disebut belum sarapan dari rumah sebelum menerima makanan MBG.

Khaeruddin menilai kondisi perut kosong dapat memengaruhi respons tubuh ketika mengonsumsi makanan.

Namun, pernyataan tersebut masih merupakan klaim dari pihak pengelola dapur dan belum dapat dijadikan sebagai kesimpulan mengenai penyebab dugaan keracunan.

Kepastian mengenai penyebab siswa mengalami gejala kesehatan harus menunggu hasil pemeriksaan dan pengujian laboratorium dari pihak berwenang.

Khaeruddin mengatakan pihak yayasan masih menunggu hasil uji laboratorium dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengetahui secara pasti kondisi makanan yang dibagikan kepada para siswa.

Sumber: Wartakota 
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan