GELORA.CO - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi berulang sejak Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari di kawasan Selat Sunda.
Aktivitas erupsi bahkan terlihat secara visual pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terekam dalam siaran langsung akun media sosial GR Garage sekitar pukul 00.21 WIB.
Dalam tangkapan layar video tersebut, terlihat semburan lava pijar berwarna merah menyala dari tubuh Gunung Anak Krakatau yang berada di tengah laut. Siaran itu juga disaksikan ribuan pengguna media sosial, dengan jumlah penonton mencapai sekitar 7.400 akun.
Kondisi laut di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau juga terlihat cukup bergelombang. Sebuah kapal yang membawa rombongan pemancing tampak terombang-ambing dan berupaya menjauh dari area gunung yang tengah mengeluarkan material vulkanik.
Sementara itu, informasi mengenai arah abu vulkanik disampaikan akun TikTok Info Gempa yang memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui CCTV Lava93. Berdasarkan pemantauan tersebut, abu vulkanik dilaporkan bergerak menuju wilayah Tanggamus.
Masyarakat yang berada di sepanjang pesisir Tanggamus, khususnya kawasan Kota Agung, diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi paparan abu vulkanik. Warga juga disarankan menyiapkan dan menggunakan masker apabila terjadi hujan abu.
Selain itu, suara dentuman dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah. Dentuman tersebut disebut terdengar di Kalianda, Bandung, Cikande, Serang, Cisarua, dan daerah sekitarnya.
Gunung Anak Krakatau Erupsi Berulang
Berdasarkan laporan MAGMA Indonesia milik Kementerian ESDM, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami sedikitnya 10 kali erupsi dalam rentang Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari.
Erupsi terbaru tercatat pada Sabtu (5/9/2026) pukul 00.01 WIB. Dalam laporan tersebut, visual letusan tidak teramati, namun erupsi masih berlangsung ketika laporan dibuat.
Sebelumnya, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sudah terpantau sejak Jumat dini hari. Pada pukul 04.11 WIB, erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 33 milimeter dan durasi 14 detik.
Delapan menit kemudian, pada pukul 04.19 WIB, kembali terjadi erupsi dengan amplitudo maksimum 60 milimeter selama 24 detik. Selanjutnya, pada pukul 04.28 WIB, aktivitas erupsi tercatat dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 31 detik.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat pada pukul 05.46 WIB. Saat itu, kolom abu teramati mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu tersebut berwarna hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat serta barat laut. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan berlangsung selama 27 detik.
Aktivitas erupsi kembali tercatat pada Jumat malam. Pada pukul 22.03 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi dengan amplitudo maksimum 19 milimeter dan durasi 29 detik.
Selanjutnya, pada pukul 22.11 WIB, erupsi kembali terjadi dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 40 detik. Aktivitas serupa kembali tercatat pada pukul 22.42 WIB dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 56 detik.
Pada pukul 22.53 WIB, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 40 detik. Seluruh letusan tersebut tidak teramati secara visual.
Erupsi kemudian kembali tercatat pada pukul 23.07 WIB. Berdasarkan laporan saat itu, visual letusan tidak teramati dan aktivitas erupsi masih berlangsung.
Hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari, aktivitas vulkanologi dan kegempaan Gunung Anak Krakatau masih terus berlangsung. Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak abu vulkanik diimbau tetap mengikuti informasi dan arahan resmi dari pihak berwenang.
