Viral Lomba Cerdas Cermat MPR, Peserta Menjawab Benar tapi Disalahkan Juri

Viral Lomba Cerdas Cermat MPR, Peserta Menjawab Benar tapi Disalahkan Juri

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO
- Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh cuplikan video Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). 

Video tersebut viral setelah memperlihatkan momen kontroversial di mana dewan juri menyalahkan jawaban benar dari salah satu peserta, namun membenarkan jawaban yang sama persis dari regu lain.

Insiden ini memicu gelombang kritik dari netizen yang menilai dewan juri bersikap antikritik dan tidak objektif dalam memberikan penilaian pada perlombaan bergengsi yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi MPR RI tersebut.

Kronologi Kejadian


Peristiwa bermula saat babak rebutan yang melibatkan tiga tim finalis. 

Pembawa acara melontarkan pertanyaan mengenai proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sesuai konstitusi.

"DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?" tanya pembawa acara dalam video yang diunggah di akun YouTube.

Grup C dari SMAN 1 Pontianak menekan bel paling cepat. 


Peserta kemudian menjawab dengan lengkap: "Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden."

Secara mengejutkan, salah satu dewan juri, Dyastasita, Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI menyatakan jawaban tersebut salah dan memberikan poin -5.

Pertanyaan kemudian dilempar kembali dan dijawab oleh Grup B dari SMAN 1 Sambas. 

Peserta Grup B memberikan jawaban yang identik dengan Grup C, yakni menyebutkan pertimbangan dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan diresmikan oleh Presiden. 

Namun, kali ini juri justru memberikan nilai 10. 

"Iya, inti jawabannya sudah benar. Nilai 10," ujar Dyastasita.

Juri Bersikeras "Tak Mendengar" Meski Peserta Protes


Sadar bahwa jawaban mereka sama persis dengan tim lawan yang dibenarkan, Grup C langsung melayangkan protes secara sopan. 

"Izin, tadi kami menjawabnya sama seperti regu B. Sama," tegas perwakilan SMAN 1 Pontianak.

Namun, Dyastasita berdalih bahwa dirinya tidak mendengar kata "Dewan Perwakilan Daerah" dalam jawaban pertama. 

"Tadi disebutkan regu C ya, itu pertimbangan dari DPD-nya tidak ada. DPR tadi," kilahnya.

Meskipun peserta Grup C terus berusaha menjelaskan dan bahkan meminta pendapat penonton sebagai saksi, dewan juri tetap pada keputusannya. 

Juri lainnya, Indri Wahyuni, Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR, bahkan  justru menyalahkan artikulasi peserta.

"Kalau menurut kalian sudah (menjawab), tapi Dewan Juri menilai kalian tidak karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, ya itu artinya Dewan Juri berhak memberikan nilai -5," kata Indri di depan podium.

Banjir Kritik Netizen


Potongan video tersebut ramai beredar dan viral di medsos. Komentar pedas pun membanjiri platform media sosial. 

Netizen menyoroti etika dewan juri yang dianggap tidak mau mengakui kekeliruan pendengaran mereka. 

Banyak yang berpendapat, jika juri merasa kurang jelas mendengar jawaban, seharusnya juri meminta peserta mengulangi jawaban tersebut sebelum memberikan vonis nilai minus.

"Sangat disayangkan, juri lomba tingkat nasional tapi antikritik dan tidak teliti. Padahal di rekaman video jelas sekali peserta menyebut DPD," tulis salah satu netizen di kolom komentar.

Selain juri, sosok pembawa acara (MC) perempuan dalam kegiatan tersebut juga tidak luput dari kritikan. 

Ia dinilai gagal menetralisir situasi dan justru ikut memojokkan peserta yang sedang memperjuangkan haknya atas jawaban yang benar.

Hingga kini, cuplikan video tersebut telah dibagikan ribuan kali dan menjadi perbincangan hangat terkait kualitas penjurian dalam kompetisi edukasi yang membawa nama lembaga tinggi negara tersebut.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google