Terjadi Empat Kasus Hantavirus di Jakarta Sepanjang 2026

Terjadi Empat Kasus Hantavirus di Jakarta Sepanjang 2026

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - 
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jakarta mencatat terdapat empat kasus hantavirus sepanjang 2026. Dari empat kasus itu, tiga kasus di antara sudah selesai dengan status pasien sembuh.

Kepala Dinkes Provinsi Jakarta, Ani Ruspitawati, mengatakan hingga saat ini terdapat empat kasus hentavirus yang ditemukan di ibu kota. Namun, satu di antara empat kasus itu masih berstatus suspek.

"Sepanjang 2026 sampai sekarang ini ada empat kasus yang sudah kita temukan. Tiga orangnya sudah sembuh, bergejala ringan, satu orangnya sekarang masih suspek," kata dia di DPRD Provinsi Jakarta, Senin (11/5/2026).

Ani menambahkan, satu orang yang suspek itu masih menjalani isolasi. Pasalnya, virus itu termasuk dalam kategori penyakit menular. 

Ia menjelaskan, hantavirus bukanlah sebuah virus baru seperti Covid-19. Menurut dia, hantavirus merupakan virus lama yang selalu dipantau oleh Dinkes Provinsi Jakarta. 

Ani mengatakan, sejauh ini kasus itu biasanya tersebar melalui air liur, air seni, atau kotoran tikus kepada manusia. Ia memastikan, belum ditemukan adanya penularan hentavirus dari manusia ke manusia, juga bukan termasuk penularan dari kapal pesiar.

"Sejauh ini ada banyak varian hantavirus tuh ada banyak varian. Ada yang menular antarmanusia, ada yang tidak. Yang menular antarmanusia hanya satu varian sampai saat ini dari penjelasan WHO, hanya yang Andes yang ditemukan di Amerika Selatan, dan Andes ini tidak ada, sampai sejauh ini ya, tidak ada di Indonesia," kata Ani.

Meski begitu, ia mengimbau masyarakat tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Ia juga mengingatkan masyarakat untuk selalu menggunakan alat pelindung diri seperti masker ketika beraktivitas di tempat kotor, yang berpotensi menjadi tempat tikus hidup.

"Yang penting sebetulnya tidak perlu panik, tapi waspada. Yang penting adalah bagaimana kita menjaga pola hidup yang bersih, sehat, dan harus cuci tangan, pakai masker ketika memang kita perkirakan kita ada di tempat-tempat yang berisiko, memakai pengaman, dan kemudian mungkin nanti berikutnya bagaimana kita melakukan pengendalian terhadap tikus gitu," kata Ani.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI mencatat, ada sebanyak 23 kasus konfirmasi positif hantavirus ditemukan di Indonesia sepanjang 2024 hingga 2026. Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dengan tingkat kematian kasus atau Case Fatality Rate (CFR) sebesar 13 persen. 

"Kasus konfirmasi yang ditemukan merupakan penyakit Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) strain Seoul Virus," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, dalam pernyataan resmi dikutip Senin (11/5/2026).

Penyebaran kasus tercatat di sejumlah wilayah Indonesia. Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak, masing-masing enam kasus.

Sementara itu, Jawa Barat mencatat lima kasus. Lalu Banten, Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara, masing-masing satu kasus. Virus hanta merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari tikus atau celurut kepada manusia.

Kemenkes mengungkap sejumlah faktor risiko penularan hantavirus. Risiko tinggi ditemukan pada pekerjaan yang berkaitan dengan kontak dengan tikus, seperti petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, pembersih selokan, hingga pekerja laboratorium yang menangani reservoir.

Selain itu, aktivitas di area berisiko seperti gudang lama, area terbengkalai, dan ruang bawah tanah juga disebut dapat meningkatkan potensi paparan virus. Wilayah dengan populasi tikus tinggi dan curah hujan tinggi turut menjadi faktor risiko penyebaran penyakit ini.

"Faktor risiko selanjutnya adalah kontak dengan sumber infeksi saat melakukan aktivitas hobi maupun wisata, seperti mendaki gunung dan berkemah," demikian kata Kemenkes.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau tetap menjalankan protokol kesehatan dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer serta menerapkan etika batuk dan bersin. Masyarakat juga diminta menghindari kontak langsung dengan rodensia atau ekskresi dan sekresinya, menjaga kebersihan tempat tinggal dan tempat kerja, serta menyimpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi tikus.

Selain itu, warga diminta menutup seluruh lubang di dalam maupun luar rumah guna mencegah rodensia masuk ke area hunian. Kemenkes mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala penyakit virus hanta seperti demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise, batuk, dan sesak napas.

Di Indonesia, sudah sejak 1980-an virus ini terdeteksi. Terutama di pelabuhan di beberapa kota di Indonesia. Di antaranya adalah Cilacap, Makassar, Batam, Semarang, dan Jakarta. Namun, karena sebelumnya hanya ditemukan di pelabuhan yang relatif tak ditinggali manusia, keberadaan virus ini belum dikhawatirkan.

Tapi penemuan terbaru menunjukkan, tikus-tikus dengan virus ini juga sudah mulai memasuki permukiman. Salah satu varian Hantavirus, virus Seoul, terbukti sudah menjangkiti tikus-tikus di Kepulauan Seribu.

Walau belum ada laporan pasti tentang penularan kepada manusia, ada kekhawatiran virus ini berperan dalam wabah demam berdarah yang melanda beberapa pulau di sana pada Juli 2009.

Hantavirus ini, menurut Puslitbang Kesehatan, mulai mendapat perhatian dunia pada 1951. Saat itu, virus Hantaan (HTNV)--salah satu varian Hantavirus ini--mewabah di kalangan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertugas di sekitar Sungai Hantaan, Korea Selatan. Sebanyak lebih dari 2.000 pasukan AS tertular kala itu. Sebagian diantaranya meninggal.

Dari situ, Hantavirus dengan berbagai variannya mulai menyebar ke seluruh dunia. Diduga, perantaranya melalui jalur pelayaran. Di Asia, Hantavirus mengambil bentuk sebagai virus Hantaan dan Seoul (SEOV). Sedangkan di Eropa, dia berbentuk virus Puumala (PUUV), Dobrova (DOBV), dan Saremaa (SAARV).

Gejala dari seluruh varian tersebut berupa serangan demam berdarah dengan sindrom ginjal (renal). Demam tinggi akan menyerang manusia yang tertular, berikut sakit kepala, dan nyeri perut.

Persis seperti demam berdarah yang ditularkan nyamuk Aides aegypti. Bila tak ditangani dengan segera, gagal ginjal akan diikuti gejala-gejala di atas. Akibat akhirnya adalah kematian.

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 1982 tentang demam berdarah dengan sindrom ginjal, memperlihatkan, angka kematian yang bisa ditimbulkan penyakit lantaran virus ini tak bisa dianggap remeh. Persentase kematian akibat virus ini adalah lima sampai 15 persen. Jauh di atas kematian akibat virus flu A-H1N1 atau flu Meksiko yang 0,8 persen.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google