Muktamar NU 2026 Panas, Sebanyak 400 Suara Mengerucut ke Calon Tunggal

Muktamar NU 2026 Panas, Sebanyak 400 Suara Mengerucut ke Calon Tunggal

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Muktamar NU 2026 Panas, Sebanyak 400 Suara Mengerucut ke Calon Tunggal

GELORA.CO -
Dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) kian menghangat menjelang Muktamar ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Berbagai manuver politik organisasi mulai bermunculan, baik dalam bentuk pencalonan diri secara terbuka maupun pengusungan figur-figur strategis yang dinilai memiliki pengaruh kuat di tingkat nasional maupun daerah.

Tokoh muda NU, Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, memberikan analisis mendalam terkait peta kekuatan yang saat ini berkembang. Ia menilai, kontestasi kali ini tidak hanya soal figur, tetapi juga pertarungan jaringan besar yang saling beririsan.

"Saya mencermati dari dekat percaturan para aktor utama dalam Muktamar ke-35 ini. Dari hasil pencermatan tersebut, dinamika di lapangan saat ini dapat dibaca," kata Gus Lilur kepada wartawan, Jumat (1/5).

Ia menjelaskan, terdapat enam poros utama yang sedang bergerak. Pertama adalah calon Ketua Umum petahana, Yahya Cholil Staquf, yang saat ini tengah mencari pasangan Rais Aam untuk memperkuat basis dukungan dan legitimasi.

Kedua, Rais Aam petahana Miftachul Akhyar yang berada dalam satu konfigurasi dengan Sekretaris Jenderal Saifullah Yusuf. Keduanya disebut sedang mencari figur kuat untuk diusung sebagai calon Ketua Umum dalam Muktamar mendatang.

Ketiga, muncul figur yang didukung oleh kekuatan penguasa, yakni Menteri Agama Nazaruddin Umar. Ia juga dinilai tengah mencari pasangan untuk posisi Rais Aam guna memperkuat peluangnya dalam kontestasi.

Keempat, terdapat poros besar yang disokong jaringan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan IKA PMII. Di dalamnya masih terjadi persaingan internal antara sejumlah nama seperti KH Abdussalam Shohib, KH Yusuf Chudhori, KH Imam Jazuli, dan KH Abdul Ghoffar Rozin, meski untuk posisi Rais Aam sudah mengerucut pada Said Aqil Siradj.

Kelima, kekuatan dari jejaring PWNU Jawa Timur mendorong figur KH Abdul Hakim Mahfuz, yang hingga kini masih mencari pasangan untuk posisi Rais Aam.

"Sementara, poros keenam menghadirkan KH Marzuki Mustamar yang telah memastikan dukungan kepada Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam," ungkapnya.

Dari sisi kekuatan suara, Gus Lilur memaparkan bahwa jaringan PKB–IKA PMII diperkirakan menguasai sekitar 250 suara. Sementara, jaringan yang beririsan dengan Kementerian Agama memiliki sekitar 130 suara, menjadikan keduanya sebagai kekuatan dominan dalam kontestasi.

Selain itu, jaringan petahana Ketua Umum diperkirakan menguasai sekitar 100 suara atau 20 persen, sementara Rais Aam petahana bersama Sekjen juga memiliki basis yang kurang lebih sama.

"Di luar itu, terdapat sekitar 70–80 suara yang masih mengambang dan berpotensi menjadi penentu arah kemenangan," ujarnya.

Ia menyebut, jejaring PKB–IKA PMII mampu berkoalisi dengan kekuatan Kementerian Agama, maka potensi suara yang dapat dihimpun bisa mencapai sekitar 400 suara.

"Angka ini dinilai sangat signifikan dan berpotensi membuat kontestasi mengerucut pada satu pasangan calon yang dominan," bebernya.

Namun demikian, Gus Lilur menilai dinamika tersebut tidak sederhana. Kepentingan masing-masing pihak, termasuk ambisi untuk menduduki posisi Ketua Umum, membuat skenario koalisi besar belum tentu mudah terwujud.

"Muktamar ke-35 tetap menyisakan banyak kemungkinan, termasuk munculnya poros tandingan yang dapat mengubah peta secara drastis," pungkasnya.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita