GELORA.CO - Publik sempat dibuat anxious dengan rumor yang beredar di media sosial X (Twitter) pada Sabtu 2 Mei 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dikabarkan jatuh sakit dan harus dilarikan ke RS Medistra, Jakarta Selatan untuk menjalani perawatan intensif.
Isu Liar di Media Sosial
Kabar ini awalnya mencuat dari salah satu akun medsos yang menyebut sang bendahara negara sedang tidak baik-baik saja. Tak sedikit netizen yang mengaitkan isu ini dengan riwayat sakit pinggang yang pernah diungkap Purbaya beberapa waktu lalu.
Kala itu, Purbaya sempat bercerita harus menerima suntikan di delapan titik demi meredakan nyeri pinggangnya.
Bahkan, dalam beberapa momen, beliau terlihat bertumpu pada bahu timnya saat berjalan. Hal inilah yang memicu spekulasi bahwa kondisi kesehatannya kembali drop di tengah padatnya agenda negara.
Hasil Pantauan Lapangan & Respons RS
Guna memastikan kebenaran berita tersebut, tim jurnalis melakukan pengecekan langsung ke RS Medistra sekitar pukul 15.00 WIB.
Hasilnya, tidak ditemukan adanya pengawalan ketat atau protokol khusus yang biasanya menyertai perawatan pejabat tinggi negara.
Pihak resepsionis rumah sakit pun memberikan jawaban yang sangat clear. Berdasarkan data pasien, nama Purbaya Yudhi Sadewa tidak terdaftar sebagai pasien yang sedang menjalani rawat inap maupun rawat jalan pada hari tersebut.
Klarifikasi Resmi Kementerian Keuangan
Menanggapi hoax yang terlanjur viral, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Deni Surjantoro, langsung memberikan pernyataan tegas guna meredam kekhawatiran publik.
Ia memastikan bahwa bos Kemenkeu tersebut tetap menjalankan tugasnya dalam kondisi prima.
"Sampai saat ini Pak Menteri dalam keadaan sehat. Kondisi bendahara negara dipastikan tetap prima," ungkap Deni Surjantoro saat dikonfirmasi pada Sabtu 2 Mei 2026.
Kemenkeu menghimbau masyarakat agar tidak mudah termakan informasi yang belum tervalidasi kebenarannya di media sosial.
Meskipun sempat mengalami kendala pada pinggang, Purbaya dipastikan tetap aktif mengawal stabilitas ekonomi nasional tanpa gangguan kesehatan yang berarti.***
