Analisis Prof Jiang Xueqin: 3 Titik Ini Bisa Picu Perang Besar di Asia!

Analisis Prof Jiang Xueqin: 3 Titik Ini Bisa Picu Perang Besar di Asia!

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Analisis Prof Jiang Xueqin: 3 Titik Ini Bisa Picu Perang Besar di Asia!

GELORA.CO -
Profesor Jiang Xueqin, sejarawan dan analis geopolitik asal Beijing, memprediksi tiga titik panas potensial di Asia Timur yang dapat memicu konflik berskala besar dalam waktu dekat. Prediksi tersebut disampaikan dalam konten TikTok-nya yang viral di Indonesia.

Tiga titik tersebut yakni Taiwan, Selat Malaka, dan Semenanjung Korea. Jiang menggunakan pendekatan teori permainan dan analisis insentif strategis untuk membaca potensi eskalasi.

Taiwan dan Posisi Vital Jepang


Jiang menilai Taiwan menjadi titik nyala paling rawan karena Tiongkok memandang pulau itu bagian dari wilayahnya. Jepang akan terdorong terlibat karena ketergantungannya pada jalur impor sumber daya melalui Selat Malaka.

"Jika China ingin mengambil alih Taiwan, itu bisa menghentikan Jepang dari memiliki akses ke Malaka. Itu kemungkinan yang Jepang tidak bisa membenarkan," kata Jiang.

Prediksi Jiang sejalan dengan manuver politik Tokyo. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada 7 November 2025 menyatakan serangan Tiongkok terhadap Taiwan dapat dikategorikan sebagai "situasi yang mengancam kelangsungan hidup" Jepang.

Pernyataan itu memungkinkan pengerahan Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) berdasarkan undang-undang keamanan 2015 era Shinzo Abe. Wilayah Jepang terdekat hanya berjarak sekitar 110 kilometer dari Taiwan.

Beijing langsung bereaksi keras. Konsul Jenderal Tiongkok di Osaka, Xue Jian, menulis ancaman bernada "memenggal leher" yang ditafsirkan ditujukan kepada Takaichi, sebelum unggahan itu dihapus.

Selat Malaka, Arena Tarik-Menarik AS-Tiongkok


Titik panas kedua menurut Jiang adalah Selat Malaka. Amerika Serikat ingin mengontrol jalur perdagangan strategis tersebut, sementara Tiongkok menilai Malaka penting bagi pertahanan ekonominya.

Selat Malaka merupakan jalur lintas utama perdagangan minyak dan barang dari Timur Tengah serta Afrika menuju Asia Timur. Penguasaan jalur ini menentukan kelangsungan rantai pasok energi Tiongkok dan Jepang.

Korea Utara Berpotensi Manfaatkan Vakum Pertahanan


Prediksi Jiang yang paling mengejutkan menyangkut Semenanjung Korea. Ia menilai kondisi geopolitik global saat ini membuka peluang Korea Utara melancarkan tekanan terhadap Korea Selatan.

Mayoritas penduduk Korea Selatan terpusat di Seoul, ibu kota yang berjarak hanya sekitar 20 menit jangkauan artileri Korea Utara. Jiang berargumen Pyongyang dapat menggunakan ancaman tersebut untuk pemerasan strategis tanpa benar-benar menyerang.

"Saya tidak perlu menghancurkan Korea Selatan. Yang saya perlu lakukan adalah mengancam Korea Selatan, dan mereka akan memberi saya apa pun untuk tidak melakukan apa-apa," kata Jiang dalam simulasi teori permainannya.

Argumen Jiang terhubung dengan situasi terkini. Pentagon dilaporkan memindahkan sebagian komponen sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan baterai Patriot dari Korea Selatan ke Timur Tengah pada Februari-Maret 2026.

Pemindahan itu terkait dukungan operasi militer AS-Israel melawan Iran. Dua pesawat angkut C-5 Galaxy dan 11 unit C-17 Globemaster dilaporkan berangkat dari Pangkalan Udara Osan sejak 28 Februari 2026.

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengaku menyampaikan keberatan diplomatik, tetapi mengakui Seoul tidak punya banyak posisi tawar. 

Komandan Pasukan AS di Korea Jenderal Xavier Brunson kemudian memastikan pada 21 April 2026 bahwa sistem THAAD utama tetap berada di Semenanjung Korea, dan hanya amunisi serta sebagian komponen yang dikirim ke Timur Tengah.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google