GELORA.CO - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menuai kontroversi setelah menyatakan bahwa kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap datang dari pihak yang tidak pernah merasakan hidup dalam kemiskinan. Pernyataan tersebut disampaikan Amran saat berada di Hotel Pantai Gapura, Makassar, Senin (6/4/2026).
“Mungkin yang mengkritik tidak pernah merasakan miskin,” ujar Amran tegas, seperti dikutip dari berbagai media.
Menurut Amran, program MBG yang merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar bantuan pangan biasa. Ia menekankan bahwa MBG merupakan intervensi negara untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat kurang mampu, sekaligus menjadi investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama anak-anak. Program ini juga disebutnya mampu menggerakkan sektor pertanian dan peternakan dari hulu hingga hilir, sehingga berdampak luas pada perekonomian.
Amran menambahkan bahwa kritik terhadap MBG seharusnya dilihat secara utuh dan kontekstual, bukan hanya dari permukaan saja. Ia berpendapat banyak pengkritik tidak memahami kondisi riil masyarakat miskin yang rentan kekurangan gizi.
Tuai Komentar Pedas Warganet
Pernyataan Mentan Amran langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial dan menuai respons beragam, terutama komentar pedas dari warganet. Banyak yang menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk ad hominem (menyerang pribadi) yang tidak menyelesaikan masalah substansi kritik terhadap program.
Beberapa warganet menyoroti bahwa kritik terhadap MBG lebih banyak terkait efisiensi anggaran, kualitas pelaksanaan, dan ketepatan sasaran, bukan karena tidak paham kemiskinan.
Salah satu komentar yang viral menyebut: “Bapak kali yang gak pernah miskin. Mau gak cobain menu MBG Rp10.000? Tapi yang jelas pengkritik MBG gak pernah ngerasain jadi koruptor!”
Netizen lain menambahkan bahwa program MBG justru dinikmati oleh banyak siswa dari keluarga mampu, sementara masyarakat benar-benar miskin dan gelandangan sering tidak terjangkau. “Rakyat miskin selalu jadi alasan untuk menguras anggaran triliunan, tapi bukti nyata masih banyak yang belum mendapatkannya. Jangan bawa-bawa orang miskin kalau tujuannya hanya cuan untuk pribadi dan kroni,” tulis salah seorang pengguna media sosial.
Kritik lainnya menekankan bahwa nilai manfaat per siswa dari anggaran besar tersebut dinilai terlalu kecil, bahkan tidak cukup untuk menu gizi layak. “Jangan bela program dengan menyerang karakter pengkritik. Beri gizi yang efisien dan tepat sasaran, bukan populisme murahan,” imbuh seorang warganet.
Meski demikian, ada juga dukungan terhadap Amran yang melihat pernyataannya sebagai pembelaan terhadap program prioritas pemerintah untuk mengatasi stunting dan kekurangan gizi di kalangan anak-anak Indonesia.
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Pertanian belum memberikan respons resmi atas polemik yang muncul. Program MBG sendiri terus digulirkan pemerintah dengan target menjangkau jutaan siswa dan kelompok rentan di seluruh Indonesia.
Pernyataan Amran ini menambah daftar kontroversi seputar program unggulan pemerintahan Prabowo, di mana isu pelaksanaan, transparansi anggaran, dan ketepatan sasaran sering menjadi sorotan publik.
