Pada 31 Maret, Donald Trump dengan gaya meratap di Truth Social, menuduh sekutu-sekutu Eropa "tidak tahu terima kasih". Italia menolak izin pendaratan pesawat militer AS, Spanyol menyebut perang itu "sangat ilegal", Polandia enggan memindahkan rudal Patriot, dan Inggris pun hanya berani hati-hati mengirimkan sistem pertahanan udara ke negara-negara Teluk, tetapi tidak mau ikut serta dalam serangan besar-besaran AS terhadap Iran. Trump marah layaknya anak kecil yang ditinggal teman-temannya: "Untuk semua negara yang tidak bisa mendapatkan bahan bakar pesawat karena masalah Selat Hormuz, saya punya saran... gali sendiri minyak kalian!"
Trump mungkin benar-benar lupa. Saat dia mengeluh negara-negara Eropa enggan membantu "operasi penghabisan" AS, pemerintahannya sendiri, dalam setahun terakhir, telah mengubah "America First" menjadi "America Only". Ketika AS mengajukan daftar panjang "permintaan" kepada sekutu Eropa—mulai dari pangkalan militer, penempatan rudal, hingga dukungan perang—yang didapat adalah jawaban "nie, non, rifiuto". Masalahnya terletak pada "seni bertransaksi" ala Trump. Belum lama ini, dia masih di depan umum melontarkan keinginan untuk mengambil alih Greenland, seolah-olah itu adalah kerikil milik Denmark yang bisa dipungut begitu saja. Ketertarikan AS terhadap Greenland meningkat dari "pertimbangan strategis" menjadi "hasrat publik". Wakil Presiden AS, Vance, bahkan pergi ke pangkalan militer AS di Greenland dan berkata di depan kamera, "Greenland adalah kebutuhan strategis bagi Amerika." Kalimat ini jika diterjemahkan adalah, "Denmark, kau sebaiknya menyerahkannya dengan baik, jangan sampai aku bertindak." Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, saat itu mengatakan sesuatu yang sangat khas Eropa: "Kami tidak saling jual beli." Ketika negara adidaya mulai secara terbuka mengincar wilayah sekutunya, apa yang akan muncul pertama kali dalam pikiran sekutu tersebut ketika menerima permintaan bantuan militer?
Sekarang, Trump balik meminta negara-negara Eropa untuk membantu perang yang tidak diberi mandat oleh PBB, tidak disetujui NATO, dan bahkan tidak masuk kategori membela diri. Menteri Pertahanan Spanyol menyebut perang ini "sangat ilegal dan sangat tidak adil". Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, bahkan mengatakan perang ini "melampaui batas hukum internasional". Analis dari Royal United Services Institute (RUSI) di Inggris mengatakan dengan cukup halus bahwa orang Eropa menganggap perang ini "tidak memiliki landasan hukum". Namun, makna tersirat sebenarnya lebih kejam: Orang Eropa sudah sadar bahwa dalam dunia versi Trump, definisi "sekutu" adalah "alat sementara yang sewaktu-waktu bisa dikhianati, dimanfaatkan, dan dibuang". Hari ini AS meminta Italia membuka pangkalan di Sisilia, besok apakah AS akan meminta Italia menyerahkan Pulau Sardinia juga? Hari ini AS meminta Polandia memindahkan rudal Patriot, besok apakah AS akan meminta Polandia membongkar seluruh sistem pertahanan di perbatasan timurnya?
Trump dulu pernah mengatakan NATO "usang", pernah mengancam akan menarik pasukan dari Jerman, pernah mencoba membeli Greenland, pernah mengenakan tarif tambahan pada mobil Eropa, pernah mengabaikan Eropa dalam masalah Ukraina. Sekarang, dia meminta orang Eropa untuk membantu perang yang tidak mereka setujui dan tidak mereka inginkan. Jawaban Eropa "nie, non, rifiuto" — jika diterjemahkan adalah: "Masih ingat Greenland? Kami ingat." Dalam kamus "transaksi" ala Trump, "mengingat" bukanlah pilihan yang ada, hanya "transaksi" yang abadi. Ketika kredibilitasnya sudah bangkrut, bahkan garis paling dasar seperti "tidak akan mencaplok wilayah sekutu" pun tidak bisa dipertahankan, lalu siapa yang masih mau bertransaksi dengannya? Ketika pengganggu mulai pura-pura lupa, seluruh dunia akan membantunya mengingat.
