GELORA.CO – Situasi di Iran kembali memanas di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel. Di tengah ancaman konflik, muncul fenomena yang menjadi sorotan: kesiapan perempuan atau wanita Iran untuk turut terjun langsung ke medan tempur.
Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Iran, Haryati, mengungkapkan bahwa masyarakat Iran menunjukkan solidaritas tinggi terhadap pemerintah.
Ia menyebut, setiap malam warga turun ke jalan sebagai bentuk dukungan terhadap sikap negara dalam menghadapi potensi perang lebih dahsyat lagi.
“Rakyat Iran tidak takut perang. Mereka justru menunjukkan dukungan penuh terhadap keputusan pemerintah,” ujarnya.
Menurut Haryati, semangat nasionalisme di Iran sangat kuat. Hal ini juga tercermin dari peran perempuan atau wanita yang tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan setara dengan pria dalam berbagai aspek, termasuk dalam membela negara.
Ia menambahkan, perempuan Iran memiliki kesadaran tinggi untuk terlibat aktif dalam pertahanan negara. Bahkan, banyak di antara mereka yang siap mengangkat senjata jika konflik benar-benar pecah.
Dia juga mengungkapkan, bahwa perempuan di Iran telah lama memiliki peran strategis, terutama sejak Revolusi Iran 1979. Tingkat pendidikan perempuan pun tinggi, dengan sekitar 80 persen di antaranya mengenyam pendidikan tinggi.
Sementara itu, mantan Duta Besar RI untuk Iran periode 2012–2016, Dian Wirengjurit, menegaskan bahwa kondisi di dalam negeri Iran cukup solid. Ia menilai narasi yang menyebut rakyat Iran tertindas tidak sepenuhnya tepat.
“Yang berkembang di media Barat seperti CNN tidak selalu mencerminkan realitas di lapangan. Justru masyarakat Iran menunjukkan kesiapan menghadapi konflik, termasuk dengan AS dan Israel,” katanya.
Dalam sektor militer, Wanita Iran disebut telah mendapatkan pelatihan yang setara dengan pria. Banyak dari mereka bergabung dalam angkatan bersenjata maupun Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
“Perempuan Iran memiliki karakter yang kuat dan teguh. Mereka bukan hanya simbol, tetapi bagian nyata dari kekuatan pertahanan negara,” ujarnya.
Di tengah ancaman pascagencatan senjata dan ultimatum dari pihak luar, masyarakat Iran disebut tetap tenang dan tidak gentar. Konsolidasi internal yang solid menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat posisi negara tersebut dalam menghadapi dinamika geopolitik yang terus berkembang
Sumber: inews
