Ini Penjelasan TNI AL atas Temuan Drone Laut di Perairan Lombok yang Diduga Milik China

Ini Penjelasan TNI AL atas Temuan Drone Laut di Perairan Lombok yang Diduga Milik China

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO -
Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengapresiasi respons tinggi masyarakat nelayan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) terkait temuan benda laut milik negara asing yang ditemukan di perairan Selat Lombok, Senin (6/4/2026). Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispen AL) Laksamana Pertama (Laksma) Tunggul mengatakan, benda asing yang diduga merupakan drone laut atau UUV berbendera asing tersebut saat ini berada dalam penguasaan TNI AL untuk pemeriksaan dan identifikasi.

Laksma Tunggul mengatakan, TNI AL belum dapat memberikan klarifikasi tentang asal-usul dan fungsi perangkat laut berbendera asing tersebut. “TNI AL melalui tim ahli dari satuan TNI AL terkait, secepatnya melakukan pemeriksaan mendalam, identifikasi teknis terhadap perangkat tersebut guna mengetahui asal-usul, fungsi, maupun data-data yang terkandung di dalamnya,” begitu kata Laksma Tunggul kepada Republika, Selasa (7/4/2026). 

TNI AL, kata dia, memastikan tetap menjalankan perannya sebagai penjaga wilayah laut Indonesia. TNI AL juga memastikan akan mengambil tindakan atas perangkat-perangkat negara asing yang menjadikan wilayah perairan Indonesia sebagai objek observasi tak berizin.

“TNI AL akan terus berkomitmen penuh untuk menjaga kedaulatan dan keamanan wilayah laut kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari segala bentuk aktivias tanpa izin, termasuk penggunaan perangkat maupun peralatan bawah laut oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan di wilayah perairan Indonesia,” ujar Laksma Tunggul.

Kata dia, saat ini benda asing yang diyakini sebagai drone bawah laut itu sudah dievakuasi ke Lanal Mataram. Dia memastikan benda asing tersebut dalam penjagaan dan pengawasan ketat oleh Polisi Militer (PM) Lanal Mataram. Pun kata dia, hingga saat ini belum ada konfirmasi dari pihak yang bertanggung jawab sebagai pemilik benda asing tersebut.

TNI AL pun memuji reaksi tanggap para warga nelayan yang melaporkan cepat tentang keberadaan benda asing di perairan Indonesia itu. “TNI Angkatan Laut memberikan apresiasi yang tinggi kepada nelayan setempat atau koordinasi yang baik dalam melaporkan temuan benda asing yang mencurigakan di Perairan Selat Lombok itu,” ujar Laksma Tunggul.

Sebelumnya dilaporkan, pada Senin (6/4/2026), nelayan yang melaut di perairan Dusun Gili Trawangan di Desa Gili Indah, Pemenang, Lombok Utara menemukan benda asing berukuran besar yang diduga sebagai alat observasi bawah laut. Para nelayan melaporkan keberadaan benda asing tersebut kepada pihak Posal Gili Air dan Pospol Polsek Pemenang Gli Trawangan. Setelah dievakuasi ke daratan, tim dari Detasemen Gegana Jibom mengidentifikasi benda besar mirip terpedo tersebut, tak mengandung bahan peledak maupun radio aktif.

Namun dari identifikasi fisik, diketahui benda asing tersebut diduga sebagai robot bawah air yang dikembangkan oleh China Shipbuilding Industry Corporation (CSIC). Dikatakan dalam laporan tersebut, CSIC merupakan salah satu korporasi industri pembuatan dan perbaikan kapal terbesar yang berbasis di China. Perusahaan tersebut juga memproduksi perangkat-perangkat kemaritiman, termasuk kepal selam. Setelah diserahkan ke pihak TNI AL, dididentifikasi juga secara fisik benda asing tersebut terdapat tulisan menggunakan aksara mandarin.

Pada teks tersebut bertuliskan kata ‘Yan Zhi’ yang diartikan sebagai ‘penelitian dan pengembangan’. Secara identifikasi fisik yang dilakukan oleh tim dari TNI AL, benda asing tersebut tampak seperti kendaraan bawah laut tanpa awak atau UUV. Benda tersebut dilengkapi dengan sistem sensor dan sonar bawah laut, serta memilik palka pada bagian atasnya yang dilengkapi berbagai kabel dan peralatan oseanografi. 

Pada benda asing tersebut juga ditemukan adanya perangkat accousti doppler current profiler atau ADCP yang digunakan mirip fungsi sonar untuk pengukuran arus hidro, dan kecepatan air pada kedalaman laut. “Untuk kepastian seluruh peralatan yang ada di dalam benda tersebut, perlu dilakukan penelitian di Dislitbang AL dan Labpamsisjar,” begitu menurut laporan tersebut.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita