GELORA.CO - Kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berada di ujung tanduk setelah Teheran menuding Washington melanggar sejumlah poin penting. Iran mengungkap tiga tuntutan utama yang dilanggar, membuat kelanjutan gencatan senjata kian diragukan.
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut pelanggaran tersebut mencakup gencatan senjata di Lebanon, pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone AS atau Israel, serta penyangkalan hak Iran untuk melanjutkan pengayaan uranium.
Dia lalu mengatakan, kondisi tersebut membuat negosiasi damai kedua negara yang akan berlangsung di Pakistan pekan ini menjadi tidak praktis.
Pelanggaran pertama terkait gencatan senjata di Lebanon. Iran menuding AS gagal menahan Israel yang justru melancarkan serangan brutal ke Beirut. Serangan tersebut menewaskan ratusan orang serta melukai lebih dari 700 lainnya dalam hitungan jam, menjadikannya sebagai serangan paling mematikan Israel ke Lebanon dalam sehari, sejak konflik terbaru dengan kelompok Hizbullah pecah.
Poin kedua adalah pelanggaran wilayah udara Iran. Teheran mengklaim terpaksa menembak jatuh pesawat tak berawak yang memasuki wilayahnya di luar Kota Lar. Insiden ini dianggap sebagai bentuk provokasi yang mencederai kesepakatan yang telah dibangun.
Sementara poin ketiga menyangkut hak pengayaan uranium. Iran menilai AS mengingkari komitmen, terutama setelah Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan negaranya akan mengambil alih atau melucuti program tersebut. Padahal, Iran menganggap pengayaan uranium untuk kepentingan sipil adalah haknya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan penghentian perang di Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
"Dunia melihat pembantaian di Lebanon. Bola ada di tangan AS dan dunia sedang mengawasi apakah mereka akan bertindak sesuai komitmennya," kata Araghchi, dalam posting-an di media sosial X.
Pernyataan Abbas itu bertolak belakang dengan sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan.
Di tengah ketegangan tersebut, Iran mengancam akan membatalkan gencatan senjata dan kembali menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak dunia. Ancaman ini memicu kekhawatiran global, mengingat dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan kawasan.
Sementara itu, Gedung Putih mendesak Iran untuk tetap membuka Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan damai yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan. Namun dengan saling tuding pelanggaran dan perbedaan tafsir kesepakatan, masa depan gencatan senjata kini semakin tidak menentu
Sumber: inews
