GELORA.CO — Kabar mengejutkan kembali mengguncang panggung politik nasional. Presiden Prabowo Subianto yang juga menjabat Ketua Umum Partai Gerindra dikabarkan bertemu secara diam-diam dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Pertemuan tersebut memunculkan wacana penggabungan (merger) atau akuisisi Partai NasDem oleh Gerindra.
Menurut laporan eksklusif yang beredar luas dari program Bocor Alus Politik Tempo, pertemuan rahasia itu terjadi di kediaman pribadi Prabowo di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada pertengahan Februari 2026. Pertemuan digelar tertutup dengan rombongan minim dan berlangsung hanya beberapa hari sebelum Prabowo melakukan kunjungan kenegaraan ke Washington DC.
Dalam diskusi tersebut, kedua tokoh yang pernah berasal dari rahim yang sama—Partai Golkar—disebut membahas gagasan membentuk “bentuk baru” bagi Gerindra dan NasDem. Beberapa sumber menyebut istilah “akuisisi” dan “merger” muncul dalam obrolan, meski belum ada detail teknis seperti mekanisme penggabungan atau nama partai hasil fusi.
Isu ini muncul di tengah dinamika internal Partai NasDem yang tengah bergejolak. Belakangan ini, sejumlah kader NasDem ramai-ramai pindah ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Selain itu, bisnis-bisnis yang dijalankan Surya Paloh disebut mengalami kendala sejak partainya berada di luar lingkaran kekuasaan pasca-Pilpres 2024.
Tempo juga menyebut bahwa selain Gerindra, ada pihak lain yang tertarik “mengakuisisi” NasDem, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan mantan Presiden Joko Widodo. Spekulasi menyebut NasDem berpotensi menjadi kendaraan politik baru menjelang Pilpres 2029.
Latar Belakang dan Spekulasi
Gerindra dan NasDem memang memiliki sejarah yang saling terkait. Keduanya lahir dari pecahan atau pengaruh Golkar era reformasi. NasDem yang selama ini dikenal dengan jargon “Restorasi Indonesia” sempat bergabung ke Koalisi Indonesia Maju (KIM) pimpinan Prabowo pada 2024, meski sempat mendukung Anies Baswedan di Pilpres.
Pengamat politik menilai wacana merger ini sebagai langkah konsolidasi kekuasaan Presiden Prabowo di awal pemerintahannya. Dengan menggabungkan dua partai berpengaruh, Gerindra berpotensi memperkuat basis kursi di DPR sekaligus mengurangi potensi friksi di dalam koalisi pemerintah.
Namun, ada pula yang melihat ini sebagai “kawin mawin partai figur” yang lebih berorientasi pada kepentingan elit daripada ideologi. Jika merger terealisasi, muncul pertanyaan siapa yang akan menggantikan Surya Paloh sebagai pemimpin di partai hasil gabungan tersebut. Nama-nama seperti Sugeng Suparwoto disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari Partai Gerindra maupun Partai NasDem. Kubu NasDem dan Gerindra juga belum memberikan tanggapan atas isu yang kini menjadi trending topic di berbagai media.
Potensi Dampak
Jika wacana ini benar-benar terealisasi, merger Gerindra-NasDem berpotensi mengubah peta kekuatan partai politik nasional. Parliamentary threshold 4 persen yang kini berlaku (dan sempat ada wacana dinaikkan menjadi 8 persen) bisa semakin mempersulit partai kecil, sementara partai besar semakin dominan.
Publik kini menanti sikap resmi kedua partai. Apakah ini hanya isu spekulatif atau memang menjadi bagian dari strategi politik jangka panjang Prabowo dan Surya Paloh?
