GELORA.CO -Pengamat politik Adi Prayitno menyoroti polemik keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang dinilai terus berlarut-larut di tengah situasi krisis ekonomi dan energi.
Menurut Adi, isu tersebut seperti tidak pernah benar-benar mereda karena selalu muncul narasi baru yang memicu perdebatan di ruang publik.
“Persoalan ijazah kok rasa-rasanya sulit dihentikan, tidak pernah kenal ruang dan kenal waktu sekalipun ada isu penting yaitu ekonomi, fiskal termasuk krisis BBM tapi isu ijazah terus berlanjut seakan tanpa henti selalu muncul episode dan babak baru,” ujarnya lewat kanal Youtube, Minggu, 5 April 2026.
Ia juga menyoroti kemunculan sejumlah nama tokoh dalam isu terbaru yang dinilai tidak rasional. Menurutnya, partai-partai yang dikaitkan justru telah memberikan klarifikasi.
“Ketika disebutkan nama-nama ini kok rasa-rasanya sedikit tidak rasional ya. Karena PDIP dan Partai Demokrat ketika dikaitkan, mereka sudah ngasih warning tidak pernah terlibat dalam persoalan ini,” jelasnya.
Adi menilai, polemik ini seharusnya segera diakhiri, apalagi sebagian pihak telah menempuh jalur hukum maupun mediasi.
“Saya kira sudah saatnya kita harus mengakhiri persoalan ijazah ini. Bukankah saat ini sudah ada pihak-pihak yang menjalani proses hukum dan ada juga yang menempuh mediasi melalui restorative justice,” tegasnya.
Sementara itu, Joko Widodo sendiri memilih tidak berspekulasi terkait isu yang beredar, termasuk soal tudingan adanya koordinator penyebaran isu ijazah palsu yang menyeret sejumlah tokoh.
“Saya tidak mau berspekulasi dan saya juga tidak mau menuduh siapapun. Biarkan proses hukum dan proses yang lain berjalan apa adanya,” kata Jokowi di kediamannya di Solo, Jumat, 3 April 2026.
Isu mengenai dugaan ijazah palsu kembali mencuat setelah beredarnya video di media sosial yang menyebut sejumlah tokoh, seperti Agus Harimurti Yudhoyono, Rizieq Shihab, dan Puan Maharani, sebagai pihak yang diduga terlibat dalam penyebaran narasi tersebut.
Namun demikian, tudingan tersebut telah dibantah oleh pihak-pihak terkait dan hingga kini belum terbukti kebenarannya. Polemik pun terus bergulir di tengah publik tanpa kejelasan kapan akan berakhir.
Sumber: RMOL
