Dubes Iran Ajak Sunni-Syiah Bersatu Menentang Zionis Israel

Dubes Iran Ajak Sunni-Syiah Bersatu Menentang Zionis Israel

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Dubes Iran Ajak Sunni-Syiah Bersatu Menentang Zionis Israel

GELORA.CO -
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengajak umat Islam lintas aliran bersatu menentang perang yang dikobarkan koalisi Israel dan Amerika Serikat (AS).

Dia mengatakan Israel berusaha memecah belah persatuan Sunni dan Syiah di tengah bergolaknya perang Iran versus AS dan Israel.

“Saat ini masalahnya adalah bukan masalah Sunnah dan Syiah, masalah Hanafi, Hambali, Syafi’i, dan mazhab-mazhab yang lain. Namun masalahnya adalah martabat umat Islam, martabat agama Islam,” kata Dubes Boroujerdi di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, Jumat (3/4/2026).

Boroujerdi berbicara di sisi mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan tokoh agama Islam Indonesia, Din Syamsuddin.

Boroujerdi menilai rezim Zionis memang merancang perpecahan umat Islam sejak lama.

“Mereka merencanakan pertentangan terhadap Islam dan merencanakan untuk memerangi Islam sejak 1400 tahun yang lalu,” kata dia.

Baca juga: Bertemu Dubes Iran untuk Indonesia, Din Syamsuddin Doakan Perang Segera Berakhir

Maka saat ini, dia mengajak umat Islam untuk bersatu menentang tindakan pelanggaran kemanusiaan oleh Zionis Israel.

“Oleh karena itu, sebaiknya bagi umat Islam, wajib bagi umat Islam untuk bersatu supaya dapat menghadapi bersama-sama serangan-serangan, peperangan-peperangan yang dilancarkan oleh Zionis bersama Amerika Serikat,” kata Boroujerdi.

Rudal Israel tak kena Sunni atau Syiah


Menanggapi perbedaan yang kerap dipertentangkan itu, Boroujerdi menyoroti bahwa Israel tidak mengenal mazhab ketika menyerang Iran.

"Ketika rudal dari Israel ini kemudian dijatuhkan, maka rudal ini tidak memilih mana Sunnah, mana Syiah, semuanya kena," kata dia.

Boroujerdi lalu mengutip Surah Ali Imran ayat 103 yang menggambarkan momen krusial di mana Nabi Muhammad SAW didampingi oleh para sahabat utama seperti Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan yang lainnya dalam situasi perang.

"Karena sudah kondisi perang seperti itu maka tidak perlu semestinya untuk membesar-besarkan perbedaan mazhab dan agama. Itu Israel yang memisah-misahkan antar agama," sambung dia.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita