GELORA.CO – Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih tertahan di perairan Teluk Arab atau Teluk Persia akibat pembatasan perlintasan di Selat Hormuz oleh Iran. Sementara itu, Iran baru-baru ini memberikan jaminan aman bagi kapal-kapal berbendera Filipina beserta awaknya untuk melintasi jalur vital tersebut.
Selat Hormuz merupakan salah satu choke point terpenting dunia yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak global. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel, menyebabkan Iran memperketat pengawasan dan membatasi akses kapal-kapal tertentu. Ribuan kapal komersial dilaporkan terdampak, dengan beberapa negara berhasil mendapatkan izin khusus melalui diplomasi.
Menurut Kementerian Luar Negeri RI, pemerintah Indonesia telah melakukan koordinasi intensif dengan otoritas Iran, termasuk melalui Kedutaan Besar Iran di Jakarta dan Kedutaan Besar RI di Tehran. Iran disebut memberikan sinyal positif atau pertimbangan baik terhadap permintaan safe passage untuk kedua kapal Pertamina. Namun, hingga saat ini proses masih berada pada tahap persiapan teknis dan administratif, termasuk asuransi, perlindungan kru, serta koordinasi operasional dengan Pertamina.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI menyatakan bahwa Kedubes Iran telah menyampaikan respon positif pemerintah Iran terkait keamanan perlintasan kapal-kapal Pertamina Group. Pertamina International Shipping bersama pemerintah terus mempersiapkan segala kebutuhan agar kedua kapal dapat segera melintas dengan aman. Awak kapal dilaporkan dalam keadaan aman dan terus dipantau.
Sementara itu, pada 2 April 2026, Kementerian Luar Negeri Filipina mengumumkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran telah memberikan jaminan kepada Manila untuk safe, unhindered, and expeditious passage bagi kapal-kapal berbendera Filipina, pasokan energi, serta semua pelaut Filipina melalui Selat Hormuz. Jaminan ini disampaikan melalui komunikasi tingkat tinggi antara kedua negara, menyusul permintaan langsung dari Presiden Ferdinand Marcos Jr. Filipina sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, sehingga jaminan ini krusial bagi ketahanan energinya.
Perbedaan situasi ini mencerminkan pendekatan diplomasi masing-masing negara ASEAN terhadap Iran di tengah konflik. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand juga disebut telah mendapatkan kelancaran akses serupa melalui negosiasi. Pengamat mencatat bahwa Iran cenderung memberikan prioritas kepada negara-negara yang dianggap menjaga netralitas atau menjalin komunikasi baik, sambil membatasi yang dianggap berpihak pada pihak lawan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya melalui jalur diplomasi agar insiden ini tidak mengganggu ketahanan energi nasional. Indonesia telah mencari alternatif pasokan dari Amerika Serikat dan sumber lain untuk mengantisipasi keterlambatan. Dua kapal Pertamina lainnya, PIS Rinjani dan PIS Paragon, telah berhasil keluar dari area konflik lebih awal.
Situasi di Selat Hormuz tetap dinamis. Pemerintah RI melalui Kemlu dan Pertamina terus memantau perkembangan sambil memastikan keselamatan awak kapal serta kelancaran pasokan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri. Belum ada kepastian waktu pasti kapan Pertamina Pride dan Gamsunoro dapat melintas, mengingat proses masih fokus pada aspek teknis meski sudah ada lampu hijau dari Iran.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya diplomasi aktif Indonesia di tengah gejolak geopolitik global yang berdampak langsung pada sektor energi nasional. Pemerintah diharapkan terus menjaga keseimbangan posisi agar kepentingan nasional terlindungi tanpa terjebak dalam polarisasi konflik Timur Tengah.
