GELORA.CO - Ketegangan antara Teheran dan Tel Aviv memasuki fase yang semakin berbahaya.
Seorang penasihat militer senior Iran mengklaim pihaknya telah mengetahui secara rinci lokasi pertemuan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, seraya mengancam akan meningkatkan intensitas serangan terhadap Israel dan sekutunya, Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan Mayor Jenderal Yahya Rahim Safavi, penasihat militer senior Iran, yang menegaskan bahwa intelijen Teheran kini memiliki basis data lengkap terkait aktivitas Netanyahu.
Dalam keterangannya yang dikutip media Iran International, Safavi menyebut pengawasan Iran tidak hanya terbatas pada Israel, tetapi juga mencakup target-target Amerika Serikat di kawasan.
“Iran memiliki pengawasan penuh terhadap target AS dan Israel,” ujar Safavi.
Ia juga memastikan bahwa kemampuan rudal dan drone Iran telah diperkuat untuk menghadapi kemungkinan eskalasi yang lebih luas.
Ancaman itu diperkeras oleh pernyataan resmi Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Memasuki hari keempat peperangan, juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, menyampaikan peringatan keras bahwa serangan balasan tidak akan dihentikan.
“Musuh harus menunggu serangan balasan terus-menerus. Pintu neraka akan terbuka semakin lebar, dari saat ke saat, bagi Amerika Serikat dan Israel,” tegas Naini dalam siaran televisi pemerintah Iran, seperti dikutip AFP.
Di tengah retorika yang membara, data di lapangan menunjukkan skala konflik yang tidak kecil.
Dalam dua hari pertama, Iran dilaporkan meluncurkan hampir 400 rudal dan sekitar 1.000 drone ke arah Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Yordania.
Angka tersebut belum termasuk target utama yang diarahkan ke Israel. Serangan-serangan itu menandai pelebaran front konflik, sekaligus menempatkan negara-negara Teluk dalam posisi yang semakin rentan.
Pengamat keamanan dari Middle East Institute di Amerika Serikat, Scott Benedict, menggambarkan situasi ini sebagai duel daya tahan.
“Ini seperti dua pemanah yang saling menembakkan panah, dan salah satu dari mereka akan kehabisan panah sebelum yang lain,” ujarnya.
Menurut Benedict, dalam konflik modern, bukan hanya soal kekuatan tembakan awal, tetapi juga kapasitas logistik dan keberlanjutan suplai amunisi.
Dari Washington, pejabat militer tertinggi AS, Jenderal Dan Caine, menyatakan jaringan pertahanan udara dan rudal terintegrasi Amerika Serikat bekerja sesuai rencana.
Sistem tersebut, katanya, berhasil mencegat ratusan rudal balistik yang ditembakkan Iran.
Namun, ia mengakui ada tantangan jangka panjang. Alat pencegat rudal berbiaya tinggi dan memiliki persediaan terbatas, sehingga keberlanjutan operasi menjadi pertanyaan krusial apabila konflik berkepanjangan.
Dalam perang pada Juni lalu, para ahli memperkirakan Iran memiliki antara beberapa ratus hingga hampir 2.000 rudal yang mampu menjangkau Israel.
Persediaan tersebut terpisah dari stok rudal jarak pendek yang tetap dapat menjangkau negara-negara Teluk.
Selain itu, penggunaan drone yang jauh lebih murah untuk diproduksi memberikan fleksibilitas tambahan bagi strategi militer Teheran.
Sumber keamanan Israel pada Sabtu (28/2/2026) menyebut produksi rudal balistik Iran telah “meningkat pesat”.
Meski demikian, Iran menghadapi kendala taktis.
Untuk meluncurkan rudal balistik, diperlukan kendaraan peluncur khusus, dan sebagian besar di antaranya dilaporkan hancur dalam konflik pada Juni.
Kondisi ini dapat membatasi kecepatan dan frekuensi peluncuran, meski tidak sepenuhnya menghilangkan ancaman.
Di tengah klaim intelijen Iran atas lokasi pertemuan Netanyahu, para analis menilai pernyataan tersebut lebih dari sekadar propaganda psikologis.
Dalam perang modern, penguasaan informasi dan persepsi publik menjadi bagian integral dari strategi militer.
Mengklaim mengetahui posisi pemimpin lawan bisa menjadi instrumen tekanan politik sekaligus pesan bahwa ruang aman kian menyempit.
Namun, apakah ancaman itu akan berujung pada serangan langsung terhadap figur politik tertinggi Israel masih menjadi tanda tanya besar.
Setiap eskalasi yang menyasar pemimpin negara berpotensi memicu respons yang jauh lebih destruktif dan melibatkan kekuatan global secara terbuka.
Untuk saat ini, konflik bergerak dalam pola saling balas serangan, dengan risiko eskalasi yang terus membayangi.
Seperti duel dua pemanah yang digambarkan Benedict, pertanyaan mendasarnya bukan lagi siapa yang lebih cepat menembak, melainkan siapa yang mampu bertahan lebih lama di tengah tekanan sumber daya dan ketegangan geopolitik yang terus meningkat.
