Nuansa Fundamentalisme Kristen Makin Kental di Pentagon, Menhan AS Serukan Kekerasan Ekstrem

Nuansa Fundamentalisme Kristen Makin Kental di Pentagon, Menhan AS Serukan Kekerasan Ekstrem

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Nuansa Fundamentalisme Kristen Makin Kental di Pentagon, Menhan AS Serukan Kekerasan Ekstrem

GELORA.CO -
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyerukan “tindakan kekerasan yang luar biasa” dalam kebaktian bulanan Kristen yang diadakan di Pentagon, kemarin. Terkait serangan AS ke Iran, ia berdoa agar ‘Tuhan’ tak memberikan ampun terhadap mereka yang “tidak pantas menerima belas kasihan” 

Dilansir USA Today, ini ia sampaikan sehari setelah ia mengumumkan perubahan besar pada korps pendeta militer. Berbicara kepada pegawai militer dan sipil pada kebaktian yang disiarkan langsung tersebut, Hegseth mengutip Injil dan membacakan doa yang menurutnya pertama kali diucapkan oleh seorang pendeta militer selama operasi AS di masa lalu. 

Doa tersebut memohon kepada Tuhan untuk "membiarkan setiap tembakan peluru menemukan sasarannya melawan musuh-musuh kebenaran dan bangsa kita yang besar." 

“Beri mereka kebijaksanaan dalam setiap keputusan, ketahanan menghadapi cobaan yang akan datang, persatuan yang tidak dapat dipatahkan, dan tindakan kekerasan yang luar biasa terhadap mereka yang tidak pantas menerima belas kasihan,” kata Hegseth. Ia juga meminta Tuhan untuk “mematahkan gigi orang fasik.”

Pada 23 Maret, kelompok advokasi American United for Separation of Church and State (Amerika Bersatu untuk Pemisahan Gereja dan Negara) mengajukan tuntutan hukum yang menentang ibadah Kristen di Pentagon, menurut Military.com. Alasannya, ibadah tersebut melanggar batasan konstitusional mengenai dukungan pemerintah terhadap agama meskipun dianggap bersifat sukarela. 

“Bahkan jika kebaktian ini dilakukan secara sukarela, ada tekanan pada pegawai federal untuk hadir untuk menenangkan atasan mereka,” kata Presiden dan CEO American United Rachel Laser dalam sebuah pernyataan yang dibagikan kepada outlet tersebut.

Awal pekan ini, Hegseth mengumumkan bahwa para pendeta militer akan memperlihatkan lambang keagamaan mereka disamping pangkat mereka sebagai perwira. Mereka “akan terlihat di antara jajaran tertinggi karena panggilan ilahi mereka,” kata Hegseth dalam sebuah video yang diposting ke X.

Perubahan tersebut mencerminkan upaya Hegseth yang lebih luas untuk menanamkan sentimen keagamaan yang lebih eksplisit kepada pendeta, dan militer secara lebih luas. 

Doa Hegseth juga dipanjatkan beberapa minggu setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari di tengah pembicaraan mengenai program nuklir.

Perang telah menyebar ke seluruh Timur Tengah, menewaskan ribuan orang dan memukul perekonomian global dengan melonjaknya harga energi, sehingga memicu kekhawatiran inflasi global.

Agresi ke Iran belakangan memang dibungkus dengan sentimen-sentimen keagamaan oleh pejabat-pejabat AS. Newsweek melaporkan, beberapa pemimpin militer AS mengatakan kepada pasukannya bahwa perang Iran adalah bagian dari "rencana Tuhan" yang menampilkan Presiden Donald Trump dan Yesus, menurut kelompok advokasi kebebasan beragama. 

Mikey Weinstein, pendiri dan presiden Yayasan Kebebasan Beragama Militer, mengatakan bahwa kelompok nirlaba tersebut telah menerima lebih dari 200 pengaduan dari sekitar 50 instalasi militer sejak hari Sabtu yang melibatkan laporan dari para komandan AS yang mengaitkan agama Kristen dengan perang yang “disetujui secara alkitabiah” di Iran.

“Pagi ini komandan kami membuka pengarahan status kesiapan tempur dengan mendesak kami untuk tidak ‘takut’ mengenai apa yang terjadi dengan operasi tempur kami di Iran saat ini,” salah satu keluhan berbunyi. 

“Dia mendesak kita untuk memberi tahu pasukan kita bahwa ini adalah 'semua bagian dari rencana ilahi Tuhan' dan dia secara khusus merujuk pada banyak kutipan dari Kitab Wahyu yang mengacu pada Armageddon dan kedatangan Yesus Kristus yang akan segera terjadi. Dia mengatakan bahwa 'Presiden Trump telah diurapi oleh Yesus untuk menyalakan api sinyal di Iran untuk menyebabkan Armagedon dan menandai kembalinya dia ke Bumi.'”

Weinstein, mantan perwira Angkatan Udara, mengatakan keluhan tersebut mewakili “euforia tak terbatas” dari beberapa komandan militer AS yang percaya bahwa konflik yang sedang berlangsung di Iran mewakili fundamentalisme Kristen seperti yang dijelaskan dalam Kitab Wahyu Perjanjian Baru. “Ini adalah ancaman keamanan nasional—bukan hanya bagi negara kita, tapi juga bagi dunia,” kata Weinstein kepada Newsweek.

Sementara sejak serangan ke Iran, retorika Islamofobia juga marak di kalangan politikus Partai Republik pendukung Trump. “Musuh ada di dalam gerbang,” tulis Senator Partai Republik Alabama Tommy Tuberville, yang menyandingkan gambar serangan teror 11 September dengan foto Walikota New York Zohran Mamdani di X.

“Muslim tidak termasuk masyarakat Amerika,” tulis anggota Partai Republik dari Tennessee, Andy Ogles, yang menyerukan pengusiran mereka dari Amerika Serikat.

“Kita perlu lebih banyak Islamofobia, bukan lebih sedikit,” tulis anggota Partai Republik dari Florida, Randy Fine. “Ketakutan terhadap Islam adalah hal yang rasional.”

Video kampanye seorang senator negara bagian Georgia juga  mendesak para pemilih untuk “Menjaga kebebasan syariah di Georgia.”
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita