GELORA.CO - - Dahsyatnya serangan Iran ke Israel untuk membalas kematian Ali Larijani membuat warga tak sempat menyelamatkan diri. Serangan bom klaster yang menghujani sejumlah wilayah disebut terjadi begitu cepat hingga sistem peringatan dini diduga tak memberi cukup waktu bagi masyarakat untuk berlindung.
Korban tewas dalam serangan itu bahkan dilaporkan tak sempat mencapai ruang aman di rumah mereka. Sepasang suami istri berusia sekitar 70 tahun menjadi korban setelah gagal menyelamatkan diri, memicu kekhawatiran serius soal respons sirene peringatan serangan udara di Israel.
Jurnalis Al Jazeera, Nida Ibrahim, yang melaporkan dari Ramallah, Tepi Barat, menyebut serangan Iran tersebut merupakan salah satu yang paling sulit yang pernah dialami Israel, dengan dampak kerusakan luas akibat bom klaster.
Iran menggempur Israel habis-habisan pada Rabu (18/3/2026) dini hari sebagai pembalasan atas terbunuhnya Larijani, yang menjabat sebagai Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Serangan dilancarkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dengan menembakkan bom kluster ke berbagai wilayah.
Serangan tersebut menggunakan rudal multi-hulu ledak yang dirancang untuk menghindari sistem pertahanan udara. Akibatnya, dua orang tewas di wilayah Ramat Gan, dekat Tel Aviv.
Selain memakan korban jiwa, serpihan bom yang berjatuhan juga melukai banyak orang serta menyebabkan kerusakan parah pada berbagai bangunan, termasuk stasiun kereta di Tel Aviv.
IRGC menegaskan, serangan itu merupakan balasan langsung atas kematian Larijani dan para rekannya.
Tak berhenti di situ. Pada Rabu pagi, IRGC kembali melancarkan gelombang serangan rudal lanjutan yang menyasar wilayah Israel bagian tengah, mempertegas eskalasi konflik yang semakin memanas
Sumber: inews
