Buntut Israel-AS Keroyok Iran, Pakar UGM: BBM Bakal Lebih Cepat Habis Ketimbang Prediksi Bahlil

Buntut Israel-AS Keroyok Iran, Pakar UGM: BBM Bakal Lebih Cepat Habis Ketimbang Prediksi Bahlil

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Buntut Israel-AS Keroyok Iran, Pakar UGM: BBM Bakal Lebih Cepat Habis Ketimbang Prediksi Bahlil

GELORA.CO -
Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tentang cadangan BBM di Indonesia tersisa untuk 21 hari, diragukan kebenarannya. Bisa saja kurang dari 21 hari BBM sudah mengalami kelangkaan.

Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi meragukan pernyataan Menteri Bahlil tentang cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional tersisa 20 hari. Diyakini, BBM menjadi lebih cepat habis karena tingginya mobilitas masyarakat saat libur panjang menjelang Lebaran.  

"Praktis permintaan BBM semakin tinggi. Sehingga negara harus mengeluarkan cadangan BBM. Untuk menghindari antrean di Stasiun Pengisian BBM Umum disingkat SPBU. Kalau tidak dikeluarkan, malah bahaya. Antrean panjang (SPBU) bisa mengarah gejolak sosial," kata Fahmy, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Dampak serangan biadab zionis Israel dengan Amerika Serikat (AS) ke Iran yang memicu konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz, menurut Fahmy, menjadi musibah bagi perekonomian Indonesia. Karena menciptakan kenaikan harga minyak mentah dan BBM yang cukup signifikan.

"Dampaknya lebih kepada APBN, karena kita kan importir minyak mentah dan BBM. Kalau soal pasokan, enggak perlu khawatir. Indonesia bisa beli dari Singapura yang stoknya cukup banyak. Atau dari Rusia. Menteri Bahlil bahkan bilang mau beli dari AS," ungkap mantan anggota Tim Reformasi tata Kelola Migas itu.

Namun, lanjut Fahmy, ketika harga minyak mentah atau crude oil melambung hingga di atas US$100 per barel, menjadi masalah serius bagi pemerintah Indonesia. Karena terkait dengan besaran subsidi energi yang diatur dalam APBN. ketika harga minyak dunia dan BBM naik, maka subsidi energi dipastikan membengkak.

"Masalahnya, saat ini, keuangan negara kan sedang kembang-kempis. Apa rela anggaran MBG atau Kopdes Merah Putih, dipangkas jika harga minyak dunia sampai di atas 100 dolar AS per barel. Saya kira dampak perang Iran harus disikapi serius, mitigasinya. Pak Prabowo enggak perlu sampai ke Teheran, fokus saja di Indonesia. Ini berat lho," tandasnya.

Masih kata Fahmy, pergerakan harga minyak dunia melejit seketika manakala duet biadab Israel-AS melakukan serangan militer perdana ke Iran pada Sabtu (28/2). Sehari sebelumnya, harga minyak bertengger  di level 58-60 dolar AS per barel.

Namun, setelah meledaknya konflik yang terus memanas itu, membuat harga minyak dunia merangsek naik ke level 67 dolar AS hingga 70 dolar AS per barel. Ketika dilakukan penutupan Selat Hormuz, harga minyak kembali meroket ke level 85 dolar AS per barel.

"Harga minyak dunia sangat mungkin tembus 100 dolar per barel. Belajar dari serangan perdana, dalam hitungan hari bisa naik 20 dolar AS per barel. Saya kira dalam hitungan hari juga harga minyak bisa 100 dolar AS, bahkan lebih," imbuhnya.

Dia mengkhawatirkan, pemerintahan Prabowo Subianto terlalu larut dengan masalah perang Iran yang dipicu penyerangan Israel-AS. Fokusnya seharusnya digeser kepada langkah pencegahan, antisipasi atau mitigasinya. Karena bobotnya cukuplah dahsyat bagi pemerintah Indonesia. "Saya enggak bisa bayangkan, jika terjadi kelangkaan BBM. Bisa chaos, atau berbuah konflik," tandasnya. 

Setelah 21 Hari, BBM Langka?


Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut, stok BBM yang belakangan membuat gaduh, masih cukup aman. Karena berada di standar umum nasional yakni 21 hari. 

Namun akan berbahaya jika analisa Fahmy yang benar, stok BBM hanya cukup kurang dari 21 hari. Kalau tak segera diguyur maka bakal terjadi kelangkaan di berbagai daerah. 

"Kita tahu bahwa standar minimum nasional adalah 21 hari. Ini semuanya di atas 21 hari," ucap Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Sebagai perbandingan, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mewajibkan negara anggotanya memiliki cadangan minyak darurat minimal setara dengan 90 hari impor bersih. Dengan ketentuan tersebut, ketahanan pasokan energi Indonesia masih berada jauh di bawah standar internasional.

Namun, Indonesia bukan anggota penuh IEA, melainkan hanya berstatus Associate Member (anggota asosiasi), sehingga tidak memiliki kewajiban untuk memenuhi ketentuan cadangan minyak darurat tersebut.

"Memang secara faktanya ketahanan energi kita, storage kita itu maksimal di angka 25-26 hari, enggak lebih dari itu," tuturnya.

Bahlil menyebutkan, pemerintah terus berupaya meningkatkan durasi penyimpanan energi nasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pembangunan fasilitas penyimpanan baru guna memperkuat ketahanan energi nasional.

"Makanya sekarang pemerintah lagi sedang berusaha untuk membangun storage yang kapasitasnya bisa sampai dengan tiga bulan, karena itu standar internasional," urai Bahlil.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita