BBM Langka, Transportasi Hilang, Tetangga RI Jalan Kaki Massal

BBM Langka, Transportasi Hilang, Tetangga RI Jalan Kaki Massal

Gelora News
facebook twitter whatsapp
BBM Langka, Transportasi Hilang, Tetangga RI Jalan Kaki Massal

GELORA.CO -
Di tengah krisis bahan bakar yang semakin memburuk imbas konflik di Timur Tengah, banyak pekerja di Filipina terpaksa harus berjalan kaki saat berangkat menuju tempat kerja mereka masing-masing. Kondisi ini ramai dibagikan warga setempat, utamanya di media sosial X, dan menjadi perbincangan publik.

"BREAKING: Akibat kelangkaan gas, orang-orang kini berjalan kaki ke tempat kerja di Filipina," tulis salah seorang pengguna media sosial X sembari membagikan video banyak warga yang sedang berjalan kaki di tengah-tengah jalan raya tanpa ada kendaraan yang melintas, dikutip Jumat (27/3/2026).

Sementara itu, dalam laporan Al Jazeera, krisis energi yang tengah melanda tetangga Indonesia itu secara signifikan mengurangi kemacetan lalu lintas, terutama di ibu kota Manila. Sebagai contoh, perjalanan sejauh 26 km dari bandara Manila ke Balai Kota Quezon City biasanya ditempuh dalam kurun waktu dua jam, namun kini hanya membutuhkan waktu 45 menit karena kondisi jalan yang sangat sepi.

Di sisi lain, karena jumlah kendaraan pribadi, bus, jeepney, dan kendaraan ojek online yang beroperasi di jalan semakin sedikit, jumlah pekerja yang menggunakan jaringan kereta api Manila meningkat drastis, menciptakan kepadatan selama jam sibuk di stasiun.

Sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan operasi militer gabungan mereka terhadap Iran, harga bahan bakar di negara yang sangat mengandalkan impor minyak itu melonjak sangat tajam. Kondisi ini memaksa Presiden Ferdinand Marcos Jr. menetapkan deklarasi darurat energi nasional selama setahun pada 25 Maret kemarin.

Namun yang menjadi perhatian kini, krisis energi tersebut berpotensi menimbulkan masalah yang lebih besar bagi warga Filipina karena adanya kekhawatiran akan kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal secara tiba-tiba bagi ribuan pekerja.

Kondisi ini tentu dapat menyebabkan perekonomian stagnan. Padahal, tepat sebelum perang Iran dimulai, produk domestik bruto (PDB) negara itu diprediksi akan tumbuh sebesar 5%. Namun kini hal itu menjadi semakin tidak mungkin.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita