GELORA.CO - - Korban penganiayaan yang diduga dilakukan Bahar bin Smith, Rida, akhirnya muncul ke hadapan publik dan mengungkap kembali detik-detik penyiksaan yang dialaminya selama lebih dari tiga jam.
Rida, korban penganiayaan yang diduga melibatkan Bahar bin Smith, akhirnya muncul di hadapan publik saat ratusan anggota GP Ansor dan Banser menggelar aksi unjuk rasa di depan Polres Metro Tangerang Kota, Sabtu (7/2/2026).
Di hadapan massa, Rida mengaku disiksa, dicekik, dan disekap menggunakan handuk hingga nyaris kehabisan napas.
"Malam itu saya dipersekusi di sebuah kamar itu lebih dari 10 orang dan mereka bolak-balik orang itu memukuli saya selama lebih dari tiga jam," kata dia di hadapan massa aksi yang mendengarkan ceritanya.
Rida muncul di hadapan massa saat Pimpinan Cabang GP Ansor Kota Tangerang, Midyani, menyampaikan orasi.
“Alhamdulillah kondisi Sahabat Rida sudah kembali pulih dan bisa bergabung bersama kami menyampaikan aspirasi di hadapan pihak kepolisian,” ujar Midyani.
Berdasarkan pantauan TribunTangerang.com, Rida mengenakan celana panjang hitam, kemeja merah, jaket loreng hijau-cokelat khas Banser, serta peci hitam.
Sebuah tas selempang biru tampak disandang di sisi kanan tubuhnya, dekat jaket bertuliskan NKRI Harga Mati di bagian dada.
Secara fisik, kondisi Rida terlihat telah pulih, meski langkahnya masih sedikit tertatih.
Luka memar akibat pengeroyokan yang dialaminya pada Minggu (21/9/2025) lalu sudah tidak tampak.
Rida memakai celana panjang hitam dan kemeja berwarna merah dibalut jaket bercorak hijau cokelat khas atribut Banser dan peci warna hitam.
Kondisi fisik Rida nampak telah pulih secara keseluruhan, meskipun ketika berjalan nampak sedikit tertatih.
Luka-luka memar yang dihantam puluhan orang di sekujur tubuhnya pada Minggu (21/9/2025) lalu sudah tidak terlihat lagi.
Pria bertubuh gempal itu juga ikut tertawa saat rekan-rekannya melontarkan candaan untuk menghibur dan menghilangkan rasa trauma yang dialami.
Terlebih ia mengaku peristiwa nahas yang dialaminya masih terbesit di kepala karena dihajar habis-habisan.
Rida memastikan Bahar bin Smith turut serta menyiksa dirinya hingga Senin (22/9/2025) dini hari sebelum akhirnya sempat tak sadarkan diri.
Salah satu aksi kejam yang dilakukan kepadanya ialah mencekik dan menyekap wajah menggunakan handuk hingga sulit untuk bernafas lagi.
"Yang membekas bagi saya saat Bahar bin Smith dua kali menyekap saya pakai handuk bahkan sampai saya kehabisan nafas terus saya disiram air," terangnya.
Tiga Tuntutan Utama Ansor dan Banser
Midyani menyampaikan, terdapat tiga poin utama dalam aksi solidaritas tersebut.
Pertama, sebagai bentuk dukungan penuh terhadap Rida yang merupakan kader Ansor sekaligus Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Kasatkoryon) Banser Kecamatan Tangerang.
“Aksi ini merupakan instruksi langsung dari pimpinan pusat GP Ansor dan Kasat Korps Nasional Banser, serta didukung GP Ansor Provinsi Banten,” kata Midyani.
Selain menjadi kader Ansor, Rida juga ditunjuk menjadi Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Kasatkoryon) Banser Kecamatan Tangerang.
Hal selanjutnya adalah permintaan agar aparat kepolisian mengungkap kasus penganiayaan yang terjadi usai tablig akbar di Masjid Nurul Islam yang berlokasi pada Jalan Panglima Polim, Poris Plawad Utara, Cipondoh, Kota Tangerang, Banten secara terang benderang.
Menurut Midyani, pihaknya mendapat pengakuan dari korban perihal jumlah pelaku pengereyokan lebih dari 10 orang dan dilakukan terus menerus selama tiga jam dalam sebuah ruangan di salah satu rumah yang ada pada sekitar lokasi Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Selain itu ia turut memprotes Satreskrim Polres Metro Tangerang Kota yang memberi penangguhan penahanan terhadap tiga tersangka selain Bahar bin Smith.
"Proses hukum yang berlaku kami ikuti dan hormati, karena keterangan korban pelakunya itu lebih dari 10 orang, jadi ya semua itu harus diberi hukuman," kata dia.
"Lalu tiga tersangka yang sempat dilepaskan harus dimasukkan kembali ke dalam penjara, sebab kalau pelaku melakukan penangguhan penahanan, kami berpikirnya aneh-aneh ada apa yang terjadi di sana (dalam ruang pemeriksaan)," ungkapnya.
Pernyataan terakhir yang disampaikan ialah memberi dukungan kepada Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Raden Muhammad Jauhari agar tidak ragu mengungkap seluruh pelaku yang terlibat.
Pasalnya nama besar yang dimiliki Bahar bin Smith dan banyaknya jumlah simpatisan yang berpihak kepadanya dinilai membuat pihak kepolisian tidak transparan dalam melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
"Tujuan kehadiran kami adalah mendukung moril dan materilnya bapak-bapak polisi yang ada di Polres Metro Tangerang Kota, InshaAllah Ansor Banser siap mendukung, mendoakan Kapolres dan jajaran agar tidak ragu menyelesaikan kasus ini sesegera mungkin," jelasnya.
Berdasarkan pantauan TribunTangerang.com pukul 13.30 WIB puluhan masa aksi tiba dan berkumpul di Jalan Perintis Kemerdekaan, Babakan, Kota Tangerang, Banten.
Puluhan anggota Ansor dan Banser datang dengan long march dari Kawasan Pendidikan Cikokol sembari membawa sejumlah atribut mulai dari bendera, poster, banner hingga alat pengeras suara sebagai alat penyampaian aspirasi.
Puluhan orang itu datang dengan mengenakan seragam loreng khas Banser dan atribut hijau Nahdlatul Ulama (NU) dengan pengawalan sejumlah anggota kepolisian.
Terlihat seorang pemandu berdiri di atas kendaraan bak terbuka meneriakan selawat dan menyanyikan lagu khas GP Ansor untuk membakar semangat massa aksi yang hadir.
Setibanya di depan Mapolrestro Tangerang Kota, massa aksi langsung menutup jalan dan menyampaikan orasi perihal kasus penganiayaan salah seorang kadernya oleh Bahar bin Smith.
Aksi demo tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal atau Sekjen Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor Rifqi Al Mubarok Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Tangerang, Midyani.
Tuntutan melakukan penangkapan terhadap Habib Bahar berkali-kali diteriakan massa aksi di hadapan pihak kepolisian.
"Tangkap Bahar, tangkap Bahar, jebloskan ke dalam penjara," ucap massa aksi serentak mengikuti seruan pemandu aksi.
Adapun massa aksi yang hadir tidak hanya kader Banser Kota Tangerang semata, melainkan dari seluruh penjuru Tanah Air.
Ratusan kader Banser dari Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut telah tiba sejak Kamis (5/2/2026) kemarin di wilayah yang masuk ke dalam Provinsi Banten itu
Sumber: Wartakota
