Firaun-Firaun Mesir Ternyata Banyak yang Penyakitan, Derita Hernia hingga Kepalanya Setengah Botak

Firaun-Firaun Mesir Ternyata Banyak yang Penyakitan, Derita Hernia hingga Kepalanya Setengah Botak

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Firaun-Firaun Mesir Ternyata Banyak yang Penyakitan, dari Seksuil hingga Rematik

GELORA.CO -
Di tebing pantai sungai Nil insinyur-insinyur Jerman mondar-mandir. Selama air yang ditampung bendungan baru Aswan naik, patung Abu-simbel harus diselamatkan supaya jangan tergenang air. Ini terjadi pada 1965.

Pada saat yang sama ahli-ahli Mesir dan Amerika sibuk mencari-cari peninggalan di tempat-tempat yang kelihatannya tidak ada artinya yang juga diancam air. Mereka membuka makam-makam yang melarat dan mengumpulkan ribuan mayat Nubia yang tahan 2000 tahun dalam pasir panas. Dokter gigi Prof. James E. Harris dan rekan-rekannya dari situ ingin menyelidiki perkembangan bentuk muka dan gigi.

Penyelidikan bentuk tengkorak menimbulkan keheranan di antara para ahli. Kementerian urusan barang kuno Mesir juga mengundang para ahli untuk menyelidiki sisa-sisa dari “orang yang menguasai Mesir atas dan bawah”, yakni mumi-mumi para firaun, ratu-ratu dan pendeta-pendeta agung.

Dalam galeri 52 di tingkat dua museum Kairo direktur Henry Riad menyuruh membuka tutup kaca sarkofagus-sarkofagus (peti mayat). Setelah itu dibuat foto-foto rontgen khusus dari mumi-mumi di dalamnya. Ternyata orang-orang gede zaman itu menderita macam-macam penyakit berat. Mereka meninggal muda.

Hasil historis medis ini diterbitkan dalam buku yang berjudul “Atlas rontgenografis para firaun”. Namun hasil-hasil paling penting sudah diterbitkan oleh pemimpin riset Harris dari Universitas Michigan dan antropolog Profesor Kent R. Weeks dari American University Kairo. Buku ilmiah populer tersebut berjudul X-raying the Pharaohs (Menyelidiki para firaun dengan sinar x) yang diterbitkan oleh Macdonald London. Tebalnya 196 halaman.

Atau Ramses Agung


Ramses II atau Ramses Agung yang membangun patung Abu-simbel diperkirakan meninggal karena “kaki dingin”. Alasan James E. Harris dan Kent R. Weeks: foto-foto rontgen menunjukkan bahwa dia menderita artritis berat pada tulang sendi pinggul dan arteriosklerosis di pembuluh-pembuluh darah utama kaki. Di samping penyakit ini peredaran darahnya tidak beres. Tubuhnya sakit dengan setiap gerak. Arsitek, ahli perang yang mempunyai lebih dari 100 anak itu juga menderita karena abses gigi dan gigi keropos.

Sakit gigi karena kebersihan mulut kurang memang penyakit umum di istana Mesir. Merneptah, anak laki-laki dan pengganti Ramses, selama memerintah giginya hanya tinggal beberapa. Dalam masa pemerintahannya diperkirakan terjadi eksodus orang Yahudi. Selain itu firaun ini juga dikebiri sejenak sebelum meninggal entah waktu sedang dibalsem. Alasannya menurut Harris dan Weeks “hanya dapat diterka-terka saja.”

Dengan demikian kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sejarah Mesir kuno itu hanya kisah penderitaan. Di antaranya:

+ Amosis misalnya menderita rematik dan karena mengidap penyakit keturunan darah yang tidak dapat membeku, tidak dikhitan. Thutmosis I pinggulnya patah dan Amenhotep II leher, pundak dan tubuhnya penuh benjol-benjol.

+ Gigi yang bentuknya tak keruan adalah ciri khas Nefertari, saudara dan istri Amosis. Kepalanya yang setengah botak dapat ditutupi dengan rambut palsu.

+ Amenhotep IV seksuil kurang berkembang dan orangnya masih muda tetapi gendut. Dia menikah dengan saudara misannya Nofretete dan di bawah nama Echnaton atau Akhenaten lebih terkenal sebagai orang yang banyak berbakti untuk agama.

+ Akibat lumpuh kanak-kanak kaki firaun Spitah kecil satu. Hal ini terbukti dari foto-foto rontgen. Demikian pula bahwa Amenhotep III meninggal karena cacar dan bahwa dia menderita hernia. Akhirnya Amenhotep III dirundung demikian banyak penyakit sehingga tak mengherankan bahwa raja Tuschratta dari Babilon mengirim patung dewa kesehatan pada rekannya.

Isinya bukan bayi


Ketika menyelidiki para mumi dengan sinar X para ahli juga menemukan barang-barang yang dibawakan untuk dunia lain, yang tidak ditemukan oleh pencoleng-pencoleng makam dan juga penggali ahli lain.

Amenhotep I, yang makamnya sudah diusik 3000 tahun yl, kini masih mengenakan jimat pada tangan kanannya dan kalung mutiara melilit pinggulnya. Pada kepala rumah tangga istana dan Yuya, ayah ratu, di bawah pembalut mayat juga ditemukan lempengan emas untuk menutupi irisan perut dari mana isi perut dikeluarkan. Dan foto rontgen Ratu Nodame juga menunjukkan dengan jelas mata buatan mumi di samping patung kayu binatang selain otak yang diawetkan dan empat patung penjaga di rongga dada.

Yang membingungkan adalah penemuan dalam mummie Thutmosis I. Firaun ini menurut kronologi memerintah 10 tahun dan meninggal kira-kira umur 50 tahun. Namun menurut sinar X bentuk tulang belulangnya seperti pria tidak lebih dari umur 20 tahun waktu meninggal. Bahkan mungkin 18 tahun. Ada dua kemungkinan: mumi itu tertukar dengan mumi salah seorang pendeta, atau penulisan sejarah yang tidak tepat. Di zaman itu sering terjadi bahwa mumi raja yang dirampok sering dibalut kembali mayatnya, lalu disembunyikan. Kemungkinan lain adalah bahwa Thutmosis I menderita kelainan perkembangan sehingga pertumbuhan tulang belulangnya tidak normal.

Pendeta wanita Makare sebagai istri dari dewa Amon dari Karnak memegang titel tertinggi untuk wanita dalam hierarki keagamaan. Menurut cara pembalutan mayatnya kelihatan bahwa dia meninggal waktu melahirkan atau demam waktu melahirkan. Mumi kecil dalam peti yang sama selalu diperkirakan isinya bayinya, atau mungkin bayi yang dilahirkan dari hubungan gelap di kuil. Ternyata “bungkusan yang diikat erat-erat” itu (istilah Harris dan Weeks) isinya bukan anak tetapi kera betina.

Sumber: intisari
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita