Ada Apa Bos Tambang Rogoh Kocek Rp6,5 Miliar untuk Lukisan SBY? Ini Kata Demokrat

Ada Apa Bos Tambang Rogoh Kocek Rp6,5 Miliar untuk Lukisan SBY? Ini Kata Demokrat

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO
- Lukisan bisa jadi karya seni. Tapi ketika pelukisnya mantan presiden dan pembelinya raja batu bara, publik tentu tak sekadar melihat warna dan kanvas cenderung penasaran ada kepentingan dan korelasi apa?

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrat Herman Khaeron (Hero) menilai lukisan bertema “Kuda Api” karya Presiden ke-6 RI sekaligus Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), wajar terjual mahal karena punya magnet tersendiri.

"Tentu lukisan Pak SBY memiliki daya tarik tersendiri, selain lukisannya bagus dan memiliki makna, juga sangat jarang di dunia internasional mantan presiden yang bisa melukis," ujar Hero kepada Inilah.com saat dihubungi di Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Menurutnya, lelang karya SBY bukan hal baru. Sudah berulang kali digelar, terutama untuk kepentingan sosial.

Namun kali ini ada momen berbeda. Demokrat menggelar perayaan Imlek bersama kalangan etnis Tionghoa.

"Kami berterimakasih kepada para tokoh Tionghoa yang hadir ataupun yang diwakilkan kepada keluarganya, dan tentu acara intinya adalah merayakan Imlek," ujarnya.

Hero memastikan hasil lelang sepenuhnya akan disalurkan kepada korban bencana dan masyarakat kurang mampu.

"Dan kami berterima kasih kepada yang telah berpartisipasi dalam lelang lukisan, karena ternyata terjual dengan harga Rp6,5 miliar. Semua ini karena momentum Imleklah yang mempertemuan keberkahan ini," pungkas Hero.

Lukisan “Kuda Api” itu memang tak jatuh ke tangan sembarang orang. Yang menebusnya Rp6,5 miliar adalah Low Tuck Kwong (Dato Low) pemilik Bayan Group, yang dijuluki raja batu bara Indonesia.

Pria kelahiran Singapura, 17 April 1948, itu hijrah ke Indonesia pada 1972 dan resmi menjadi WNI pada 1992. Berdasarkan data Forbes 2026, kekayaannya menyentuh US$20,3 miliar atau sekitar Rp335 triliun (kurs Rp16.500/US$). Angka yang menempatkannya di jajaran elite orang terkaya nasional, meski masih di bawah Prajogo Pangestu dengan US$29,9 miliar.

Di titik inilah publik mulai mengernyit. Apakah pembelian lukisan itu murni soal seni dan amal? Atau ada jejak relasi lama yang ikut bermain?

SBY memimpin negeri ini dua periode, 2004–2014. Di masa itu, sektor tambang, termasuk batu bara, berkembang pesat. Apakah izin-izin usaha yang mengalir saat itu ikut membentuk kedekatan? Tak ada yang secara terbuka mengaitkan. Tapi pertanyaan semacam itu sulit dibendung.

Bisa saja ini murni penghormatan pada reputasi SBY sebagai negarawan dan figur publik. Bisa pula sekadar dukungan pada kegiatan amal. Namun ketika uang miliaran rupiah berpindah tangan antara eks kepala negara dan konglomerat tambang, publik wajar berharap lebih dari sekadar narasi “keberkahan momentum Imlek”.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita